Home / Narasi Islam / Sosial / Menjadi Pemalu yang Baik Di Era Global

Menjadi Pemalu yang Baik Di Era Global

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Rasa malu tiada lain akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan, karena rasa malu adalah hal positif bagi setiap insan, apa jadinya jika manusia tidak mempunyai rasa malu, pastilah kebaikan akan lenyap seiring dengan banyaknya keburukan, karena manusia bebas berbuat sesuai dengan kehendaknya, apa jadinya jika manusia tidak malu-malu lagi dalam melakukan kemaksiatan, pastilah kebinasaan dan kepedihan hidup yang akan didapat.

Dewasa ini ramai-ramai orang berbuat sesuatu atas nama kebebasan tanpa memperhatikan rasa malu, sebagai contoh saat seseorang menyetel televisi atau bermain musik sambil bernyanyi dengan suara kencang hingga suaranya mengganggu tetangganya, perilaku seperti ini semata-mata berdalilkan kebebasan apalagi televisi, radio, DVD atau alat musik itu milik pribadi dan bukan milik tetangganya, hal ini sah-sah saja, akan tetapi jika sudah bersinggungan dengan masyarakat, mereka juga punya kebebasan, sehingga ada sebuah kaidah dari Ibnu Kholdun mengatakan:

“Kebebasan seseorang bisa menjadi terbatas dengan adanya kebebasan orang lain”

Bebas belum tentu merdeka, akan tetapi merdeka sudah pasti bebas, maka jadilah orang yang merdeka yaitu orang yang mengerti akan arti kebebasan yang positif. Saat seseorang bersendirian bisa saja ia merasa bebas dan bisa berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya sehingga inilah yang diartikan kebebasan, namum jika sudah bergesekan dengan kebebasan orang lain, maka sifat kebebasan itu menjadi terbatas, artinya kebebasan kita jangan sampai mengganggu kebebasan orang lain, dalam bahasa sederhana yang kita fahami adalah belajar memahami toleransi, orang yang toleran adalah orang yang merdeka dan memerdekakan orang lain.

Jika seseorang mempunyai rasa malu maka hidupnya akan memperhatikan batasan yang berhubungan antara dirinya dan orang lain, jika ingin berbuat atau melakukan sesuatu maka ia akan melihat dampak yang akan menimpa dirinya dan juga orang lain. Rasa malu inilah yang sejatinya menjadi rem seseorang dalam berprilaku dan bertutur kata.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

Rasa malu itu seluruhnya adalah kebaikan seluruhnya. [HR. Muslim, Abu dawud, Al Haitsami dan Ahmad]

“Tujuh puluh lima cabang, yang utama ialah kalimat La ilaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalanan, dan malu itu satu cabang dari iman.” [HR. Muslim]

Rasa malu juga merupakan warisan para nabi, “Di antara yang bisa diperoleh manusia dari pesan para nabi terdahulu adalah kalau engkau tidak malu, silakan berbuat sesukamu.” [HR. Bukhari]

Keanekaragaman rasa malu:

  1. Malu dari AllahTa’ala:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla malu jika seorang hamba membentangkan kedua tangannya kepada-Nya seraya meminta kebaikan, lalu ditolaknya dengan sia-sia.” [HR. Ahmad]

  1. Malunya Rasulullah:

“Rasulullah itu lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya.” [HR. Muslim, Bukhari dan Ibnu Hibban]

Rasa malu yang dimiliki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamadalah rasa malu melakukan kesalahan dan maksiat.

  1. Malunya seorang pemuda tampan nan elok rupawan kepada AllahTa’ala:

Firman Allah ta’ala di surat Yusuf ayat 23:

“Dan wanita (Istri Al-Aziz) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan beruntung.”

  1. Malu ala gadis desa:

Firman Allah Ta’ala di surat Al Qashash ayat 25:

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu.”

  1. Malu kepada orang yang sudah meninggal:

Fakta bahwa Ummul mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha  berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah Shallallau ‘alaihi wasallamdikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayahku. Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada ‘Umar. [HR. Ahmad]

  1. Malu yang terpuji:

Betapa dicontohkannya oleh wanita kaum Anshar yang tidak terhalang oleh rasa malu untuk mempelajari agama Allah Ta’ala khususnya dalam masalah fiqih kewanitaan dan yang berhubungan dengan keluarga (mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada wanita Anshar).

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya tentang masalah agama.” [Shahih al-Bukhari, kitab ilmu)

  1. Malu yang kurang baik:

Ada sedikit cerita dan ini adalah kisah nyata yang menimpa rekan saya atau mungkin juga pernah menimpa anda atau rekan anda. Singkat cerita ketika itu rekan saya pernah mengeluh akan piutang dari temannya yang enggan membayar hingga waktu yang amat lama dan belum ada ucapan ‘’maaf’’ atau pemberitahuan darinya kalau ‘’saya belum punya uang, nanti ya saya bayar hutangnya”. Lalu saya tanyakan padanya, kenapa tidak kamu tagih saja sama dia? “malu” jawabnya singkat.

“Seharusnya peminjamlah yang malu karena belum membayarkan hutangnya dan belum juga memberi konfirmasi apapun, bukan malah yang dipinjami (begitu jawaban logis yang terbesit di benak saya), atau mungkin dia lupa karena sudah terlalu lama, makanya harus diingatkan dengan baik” sambung saya pada rekan saya.

Malu tapi malah mengeluh, justru rasa malu inilah yang harus dihindarkan, padahal niat kita baik, kita juga butuh uang dan yang terpenting adalah cara penyampaiannya yang sopan tanpa harus menyinggung perasaan apalagi menyakiti hati si peminjam uang. Toh manusia adalah makhluk berakal yang bisa disentuh dengan bahasa hati dan kelemah lembutan sekeras apapun dia.

  1. Malu untukmenundakebaikan dan mencegah kemungkaran.

Sejatinya memiliki rasa malu itu bisa mendukung manusia untuk terus berbuat kebaikan di manapun ia berada, rasa malu senantiasa akan menjadikan manusia terpuji dan mulia, adapun untuk konteks kekinian rasa malu itu bisa mendorong:

  1. Sang penguasa untuk adil
  2. Para menteri untuk tunduk runduk pada atasan dan bekerja maksimal
  3. Para anggota dewan menjadi tauladan bagi rakyat
  4. Para elit politik bersatu membangun negeri tanpa saling menjatuhkan satu sama lainnya.
  5. Pimpinan KPK terpilih berkomitmen menuntaskan kasus korupsi
  6. Para penegak hukum untuk amanah.
  7. Para pegawai negeri atau swasta untuk lebih disiplin
  8. Rakyat bersatu dan turut berperan aktif dalam membangun negeri
  9. Umat Islam dari segala unsur berjalan bersama
  10. Para pelajar bersungguh-sungguh  mencari ilmu dan haus akan prestasi
  11. Para pengusaha untuk lebih profesional
  12. Orang kaya menjadi lebih peka dan gemar berbagi
  13. Pedagang menjadi lebih jujur
  14. Para wartawan obyektif dalam menyajikan berita
  15. Anak berbakti kepada orang tua
  16. Istri taat dan patuh pada suami, suami menjadi tauladan bagi keluarga
  17. Manusia untuk senantiasa berbuat baik
  18. Kaum hawa lebih feminim dan rapih dalam berbusana  sesuai dengan ajaran dan  tuntunan Islam
  19. Para lajang untuk segera mengubah statusnya dengan menikah
  20. Semua manusia untuk bersyukur atas segala pemberian Tuhan yang tak bisadihitung

Bagaimana dengan saya, anda dan kita semua? Sudahkah rasa malu ini bisa mendorong kita untuk menyegerakan kebaikan, kebaikan yang sejatinya bisa menyegerakan kebahagiaan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari keanekaragaman rasa malu dalam pembahasan ini. Semoga.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial