Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kita Hanyalah Musafir di Dunia Ini

Kita Hanyalah Musafir di Dunia Ini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (henydwi.wordpress.com)
Ilustrasi. (henydwi.wordpress.com)

dakwatuna.com Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata, “Suatu ketika Rasulullah memegang pundakku kemudian bersabda, “Jadilah engkau di dunia bagaikan seorang musafir atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar berkata, “Apabila engkau di pagi hari jangan menunggu sore, apabila di sore hari maka janganlah menunggu pagi, pergunakanlah kehidupanmu persiapan untuk kematianmu, dan kesehatanmu untuk menghadapi masa sakitmu.”(HR. Bukhari). Seorang musafir suatu saat pasti akan berpindah tempat, entah itu ke tempat yang baru atau tempat sebelumnya yang pernah mereka kunjungi. Sama halnya dengan posisi kita sebagai musafir di dunia ini, kita tidak akan selamanya hidup di dunia ini dan kita pasti akan pergi kepada suatu tempat yang kita kenal dengan sebutan akhirat.

Dunia dan segala isinya memang selalu bisa menipu kita, hal ini sudah diterangkan Allah dalam firman-Nya “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imran: 185). Maka beruntunglah bagi mereka yang tidak terperdaya dengan kehidupan dunia ini.

Mati adalah sesuatu yang pasti dan sesudah kematian pasti akan ada pertanggungjawaban.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2). Ada 3 poin dari ayat di atas yang akan coba kita bahas.

  1. Mati dan Hidup adalah Kehendak Allah

Ath Thobariy mengatakan bahwa Allah akan mematikan siapa saja dan apa saja. Begitu pula ia akan memberi kehidupan pada siapa saja dan apa saja hingga waktu yang ditentukan.

  1. Dunia Hanyalah Kehidupan Sementara Waktu

Dari ‘Atho’, dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Kematian akan ditemui di dunia. Sedangkan kehidupan hakiki adalah di akhirat.” Qotadah mengatakan, “Allah memang menentukan adanya kematian dan kehidupan di dunia. Namun Allah menjadikan dunia ini sebagai negeri kehidupan yang pasti akan binasa. Sedangkan Allah menjadikan negeri akhirat sebagai negeri balasan dan akan kekal abadi.”

  1. Mengapa Allah Menyebutkan Kematian Lebih Dahulu Baru Kehidupan?

Ada beberapa alasan yang disebutkan oleh para ulama:

Alasan pertama: Karena kematian itu akan kita temui di dunia. Sedangkan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat. –Lihat perkataan Ibnu ‘Abbas di atas-

Alasan kedua: Segala sesuatu diawali dengan tidak adanya kehidupan terlebih dahulu seperti nutfah, tanah dan semacamnya. Baru setelah itu diberi kehidupan.

Alasan ketiga: Penyebutan kematian lebih dulu supaya mendorong orang untuk segera beramal.

Alasan keempat: Kematian itu masih berupa nuthfah (air mani), mudh-goh (sekerat daging) dan ‘alaqoh (segumpal darah), sedangkan kehidupan jika sudah tercipta wujud manusia dan ditiupkan ruh di dalamnya.

Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al Qashash: 77). Urusan akhirat adalah suatu hal yang harus diutamakan, itu terbukti dari firman-Nya yang menyebutkan kata akhirat lebih dulu dari dunia. Orang yang mencari akhirat terlebih dahulu pasti dia akan mendapatkan dunia. Namun, sebaliknya orang yang mencari dunia pasti tidak akan mendapatkan akhirat. Akhirat adalah tujuan akhir kita sementara dunia hanyalah jalan kita menuju akhirat. Bila kita beri perumpamaan perjalanan akhirat dan dunia seperti kita menaiki suatu lift dalam suatu gedung, misalnya kita sedang berada di lantai pertama dengan tujuan akhir kita adalah lantai tiga (perumpamaan mereka yang mencari dunia), bandingkan dengan kita sedang berada di lantai pertama dengan tujuan akhir kita adalah lantai lima (perumpamaan mereka yang mencari akhirat) pasti kita akan melewati lantai dua, tiga, dan empat. Berbeda dengan mereka yang mencari dunia dengan tujuan akhir di lantai tiga pasti mereka tidak akan pernah sampai di lantai lima karena tujuan akhir mereka adalah dekat.

Maka dari itu marilah kita prioritaskan kehidupan akhirat namun jangan kita lupakan bagian kita di dunia ini. Ingat kita hanyalah seorang musafir yang suatu saat nanti akan pergi meninggalkan dunia ini. Persiapkanlah bekal akhiratmu dengan amalan yang baik di duniamu saat ini “…siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (QS. Al-Mulk: 2).

“Ibadah jangan asal, nanti di akhirat menyesal”

Wallahu’alam bishawab

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Taufiq BNP
Mahasiswa yang sedang menekuni dispilin ilmu Ekonomi Islam di Fakultas Ekonomi & Bisnis,Universitas Brawijaya,Malang,Indonesia

Lihat Juga

Ilustrasi. (irontreedesigns.co.uk)

Dunia Dikejar, Akhirat Ditinggal

Organization