Home / Narasi Islam / Politik / Khilafah Utsmaniyah (699 – 1342 H / 1299 – 1924 M), Anugerah dan Dilema Politik

Khilafah Utsmaniyah (699 – 1342 H / 1299 – 1924 M), Anugerah dan Dilema Politik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (arabworld.nl)
Ilustrasi. (arabworld.nl)

dakwatuna.com Sebuah kekaisaran yang mengisi lembaran hidupnya dengan episeode-episode heroik dan Allah SWT meninggikan, memenangkan, membesarkan, menjayakan mereka dengan kemuliaan Islam sekaligus sunatullah sampai ia runtuh. Dalam perjalanannya Khilafah Ustmaniyah atau di dunia barat lebih di kenal dengan nama Ottoman ini, senantiasa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sejarah peradaban Islam. Ia pun tak absen mengambil peran dan menunjukan eksistensi diri kepada dunia Internasional di sekitaran abad ke-12 sampai abad 16. 643 Tahun Hijriah atau hampir enam setengah abad atau di dalam hitungan kalender masehi 625 Tahun (enam seperempat abad) itulah usianya. Bahkan bisa dikatakan bahwa khilafah Ustmaniyah ini memiliki periode yang paling panjang dalam sederetan sejarah peradaban Islam. Ahmad Al- Usairy setidaknya membagi usia panjang tersebut ke dalam empat fase, yaitu :

  1. Masa kesultanan (699-923 H)
  2. Masa Khilafah (923-974 H)
  3. Masa Kelemahan (974 – 1171 H)
  4. Masa Kemunduran dan kemerosotan (1171 – 1342 H)

Karena begitu panjang rentang waktu itu. Maka saya akan memfokuskan permasalahan yang dialami oleh Khilafah Ustmaniyah setidaknya menyoroti di sekitar masa kelemahan yaitu di sekitar abad ke-15 sampai akhirnya Khilafah Ustmaniyah tumbang di awal abad ke-19. Semoga kita dapat mengambil ibrah sebanyak-banyaknya dari berbagai peristiwa yang terjadi yang mengakibatkan menjadi musibah politik umat Islam karena rumah politik terbesar umat Islam harus tumbang dan luluh lantah.

Episode yang mengundang rasa ingin tahu saya lebih dalam adalah runtuhnya kekhalifahan terakhir umat Islam. Ini merupakan bagian yang penting dan menarik, bukalah lembaran nubuat hadits-hadits yang meramalkan masa depan umat Islam. Sebelumnya nabi Muhammad SAW berbagi cerita kepada kita tentang membaca zaman. Beliau memberitahukan kepada kita tentang fase-fase yang akan dilalui oleh umatnya. Fase-fase itu adalah fase nubuwah kemudian khulafaurasyidin kemudian mulkan ‘adhan (penguasa yang menggigit) kemudian mulkan jabariyyan (penguasa yang menindas) dan terakhir sebelum hari kiamat akan kembali hadir kehidupan di bawah naungan Khilafah ‘ala minhajul nubuwah.

Banyak para cendikiawan menjadikan keruntuhan Khilafah Ustmaniyah merupakan berakhirnya fase zaman mulkan ‘adhan dan runtuhnya Khilafah Ustmaniyah juga adalah awal baru memasuki fase zaman mulkan Jabariyyan, wallahu’allam. Namun jika kita memang senantiasa membaca zaman kondisi umat Islam setelah runtuhnya Khilafah Ustmaniyah adalah masa-masa yang menyedihkan bahkan begitu membuat sesak hati kita. Hampir satu abad sampai di hari ini kita menyaksikan kondisi umat yang semakin terpuruk semakin tertindas dan kemaksiatan semakin merajalela. Inilah masa berkuasanya mulkan jabariyyan dan kita akan senantiasa menyaksikan dan menjadi bagian di dalamnya dan entah sampai kapan hal ini akan berlangsung hingga akhirnya janji beliau SAW tentang akan berdirinya kembali masa kegemilangan (Khilafah ‘ala minhajul nubuwah) di akhir zaman mengakhiri penderitaan umat Islam.

Kembali kepada pembicaraan kita tentang fase kekhilafahan Ustmaniyah. Sedikit menerangkan saja bahwa sebelum Ustmaniyah diberikan mandat memimpin umat Islam (sebelum menjadi khilafah), Ustmaniyah adalah sebuah kesultanan. Apa itu kesultanan? dan apa bedanya dengan khilafah? Kita harus mengerti bahwa perbedaannya terletak pada cakupan wilayah kekuasaan. Khilafah adalah sebuah rumah besar umat Islam yang tentunya ketika menaungi umat ia menjadi pemegang kekuasaan paling atas yang menguasai beberapa kesultanan di bawahnya. Dalam sejarah Islam bahkan di dalam aturan syar’i Khilafah tidak boleh ada lebih dari satu ia senantiasa menjadi payung tunggal untuk semua umat Islam sedunia. Sedangkan kesultanan adalah perpanjangan tangan kekhilafahan untuk mengatur pemerintahan umat Islam yang semakin banyak dan letak geografis yang semakin luas dan suku-suku yang memeluk Islam semakin banyak dan bervariatif. Khilafah mempunyai kekuasaan untuk mengendalikan sebuah kesultanan. Intinya hanya untuk memudahkan kita saja dalam mempelajari salah satu pelajaran tentang ilmu pemerintahan di dalam Islam.

Setelah Ustmaniyah mendeklarasikan diri sebagai khilafah hal ini karena memang suatu kebutuhan karena pemerintahan khilafah yang ada telah menyerahkan kekuasaan kepada ustmaniyah untuk menjadi khilafah. Tepatnya pada tahun 923 Hijriyah secara resmi Khalifah Abbasiyah di Kairo mengalihkan kekuasaan Khilafah kepada Ustmaniyah yang pada saat itu di pimpin oleh Sultan Salim I bin Beyzid (923-926 H) dan pada saat itu pula Sultan Salim I menjadi Khalifah umat Islam.

Waktu berlalu kekuasaan yang di pegang Ustmaniyah mengalami kelemahan dan mengalami kemunduran atau kemerosotan hingga akhirnya Khilafah tak ada lagi di muka bumi. Ketika ditarik pembicaraannya kepada masa kehebatan Muhammad Alfatih yang berhasil mensukseskan proyek 8 abad penaklukan konstantinopel kita bisa membaca bahwa pada masa pemerintahan Muhammad Al Fatih adalah masih berada di masa periode Utsmaniyah ketika fase belum menjadi Khilafah.

Apa saja yang terjadi di fase masa kemunduran dan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah? serta ibrah penting apa yang dapat kita ambil di dalamnya? Insya Allah saya akan bicarakan di lembaran-lembaran berikutnya tulisan ini.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Haerudin Muhammad Zain
Ketua Yayasan Profetik Muda Indonesia.

Lihat Juga

Kritik Kajian Sejarah Faraq Fouda Dalam Buku Al-Haqaiq Al-Ghaibah (Bag ke-2): Seputar Khilafah Utsman Bin Affan