Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Lukisan Kehidupan

Lukisan Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Warna Kehidupan (ilustrasi) - Foto: formulatv.com
Warna Kehidupan (ilustrasi) – Foto: formulatv.com

dakwatuna.com Sejak manusia dilahirkan maka sejak itu pulalah diajarkan untuk menjadi seorang pelukis. Pelukis yang siap untuk menggambar dan mewarnai kehidupannya. Saat sebelum baligh, saat itu manusia bebas untuk menggambar apapun yang sesuka hatinya layaknya seorang anak kecil dengan imajinasi tinggi tanpa mengenal batas. Kertas pun dia sulap menjadi pesawat terbang, kapal, motor dan berbagai bentuk mainan lainnya. Begitu pula dengan gambaran kehidupan yang dia goreskan ketika kecil. Gambaran itulah yang kelak akan mempengaruhinya pada saat baligh untuk diwarnai agar terlihat lebih indah.

Jikalau sejak kecil, manusia menggambar dengan baik dan rapi. Jika dianalogikan dengan kehidupan maka gambaran yang baik dan rapi itu adalah kebiasaan-kebiasaan yang baik yang dia torehkan pada saat kecil. Sebaliknya, jika sejak kecil, manusia menggambar dengan buruk dan acak-acakan sama halnya dengan sejak kecil dia dididik dalam bingkai keburukan yang kedua-duanya akan mempengaruhi jiwa manusia tersebut ketika beranjak dewasa.

Kebiasaan kebaikan akan mengajarkan kepada manusia hingga dewasa agar mampu berbuat baik secara berkelanjutan. Kebiasaan buruk pun akan mendidik manusia hingga dewasa agar mampu berbuat buruk terus-menerus.

Setelah beranjak baligh, manusia disuruh untuk mewarnai sendiri gambaran yang telah dia lukiskan sewaktu kecil dahulu. Apakah akan dia warnai dengan satu warna? Ataukah dia akan mewarnainya dengan macam-macam warna?

Sebuah lukisan akan terlihat lebih indah dan menawan. Tatkala lukisan tersebut diolesi dengan berbagai macam warna sehingga akan menyedapkan mata untuk memandangnya. Kehidupan pun begitu halnya, jika kehidupan seseorang hanya satu warna maka akan terasa hambar dan datar begitu saja. Tetapi, jika di dalam kehidupan dihiasi dengan beragam warna maka akan membuat rasa manis dan indah arti sebuah kehidupan.

Kita bebas mewarnai kehidupan masing-masing. Sebebas ketika dulu kita menggambar kehidupan tersebut. Setiap orang pun berhak menentukan bagaimana warna dan gambaran kehidupannya. Maka dari itu, manusia itu adalah pelukis kehidupan. Dia yang akan melukiskan secara jelas kehidupan yang akan dia lalui selama ada di dunia.

Berbagai macam masalah adalah salah satu dari warna kehidupan seorang manusia. Dari masalah itu manusia didik secara tidak langsung agar menjadi lebih dewasa dan berpikir lebih jernih sehingga dia perlahan-lahan akan mampu merasakan indahnya kehidupan lewat rentetan masalah yang tak terkendalikan.

Sejatinya seorang pelukis kehidupan akan melukiskan kehidupannya dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya agar suatu saat nanti lukisan tersebut bernilai tinggi dari segi estetika maupun dari nilai jual.

Bagaimanakah cara kita membuat lukisan kehidupan tersebut memiliki nilai estetika dan harga yang tinggi?

Tentu, nilai estetika yang tinggi akan diperoleh dari lukisan yang diolah secara bertahap dan pelan-pelan. Tidak secara langsung jadi tiba-tiba dengan lukisan yang sangat menawan. Intinya, lukisan tersebut perlu waktu pengolahan agar terlihat sangat indah. Waktu pengolahan lukisan itulah yang setiap hari dijalani oleh setiap manusia lewat sebuah proses kehidupan.

Apapun yang dirasakan. Jalanilah, karena dengan menjalani proses kehidupan itu kita telah menggoreskan secara perlahan-lahan nilai estetika pada lukisan kehidupan masing-masing. Rasa bahagia, sedih, duka, suka, semua itu harus dijalani. Bukan untuk ditentang apalagi hingga ditangisi. Bak sebuah kanvas lukisan, ia akan tetap menjalani apapun yang digoreskan dan dioleskan oleh sang pelukis pada dirinya. “Proses” yang akan menjadikan manusia memiliki bobot estetika yang tinggi dalam sebuah kehidupan.

Sedangkan nilai jual yang tinggi akan dirasakan manusia ketika dia mampu mengumpulkan pahala yang berlipat ganda sehingga derajatnya sebagai manusia diangkat secara langsung oleh Sang Pencipta.

Pahala akan terkumpul berlipat ganda pada setiap manusia yang menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Salah satu perintah-Nya yang harus dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan nilai jualnya. Tentu, nilai jual di hadapan Sang Penguasa yakni dengan beramal shalih dan berbuat kebaikan.

Pada saat manusia memiliki nilai jual yang tinggi di hadapan Sang Kholiq maka keridhaan-Nya akan semakin mendekatkan pada diri manusia tersebut. Bukankah manusia di dunia ini berharap mampu mendapatkan keridhoan-Nya agar bisa hidup secara bahagia baik di dunia maupun di akhirat?

Diri sendirilah yang mengetahui. Apakah lukisan kehidupan ini sudah cocok dengan warnanya?

Warnailah kehidupan ini dengan berbagai macam amal ibadah dan kebaikan agar lukisan kehidupan tersebut semakin cantik untuk dipandang yang membuat mata tak jemu-jemu untuk melihatnya dan agar lukisan kehidupan tersebut bernilai jual tinggi di sisi-Nya sehingga sang pelukis akan mendapatkan hadiah yang akan diberikan hanya untuk orang-orang tertentu. Hadiah yang akan membuat dirinya bahagia terus-menerus tanpa henti yakni surga-Nya.

Jangan sampai manusia mewarnai kehidupan dengan berbagai macam keburukan dan amal yang salah sehingga membuat yang melukis ataupun orang lain memandang lukisan tersebut bosan atau bahkan tak mau memandangnya.

Jika lukisan itu tak bernilai sedikit pun, baik dari segi estetika ataupun nilai jual maka hanya segelintir orang atau tak ada satupun yang akan melirik lukisan itu. Pelukisnya pun akan semakin di dekatkan pada satu tempat yang membuat dia menyesal selama-lamanya sebab dia tidak bisa melukiskan kehidupannya secara maksimal.

Lukisan kehidupan yang indah akan berujung pada indahnya kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Lukisan kehidupan yang buruk akan berujung pada buruknya kehidupan baik di dunia ataupun di akhirat. Lukisan kehidupan yang manakah yang dipilih?

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Sumber Kehidupanku