Home / Pemuda / Kisah / Kisah Inspiratif: “Tidak Dikenal di Dunia Tetapi Menjadi Bahan Pembicaraan Penghuni Langit”

Kisah Inspiratif: “Tidak Dikenal di Dunia Tetapi Menjadi Bahan Pembicaraan Penghuni Langit”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comDalam catatan sejarah, orang-orang yang dianggap kelas bawah bahkan senantiasa menjadi bahan olokan masyarakatnya, ternyata doa-doa mereka langsung menembus langit.

Tengoklah Ali menantu Rasulullah SAW yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan dan kejujuran, hidupnya yang tidak kaya raya tidak serta merta menjadikannya dibudaki oleh dunia. Begitu sederhananya Ali sampai-sampai aqiqah anaknya pun ditanggung oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW menyembelihkan untuk Hasan dan Husain masing-masing satu ekor kambing kibas. (HR. Bukhari)

Juga pernah pada suatu ketika Fatimah menahan lapar karena tiada makanan. Apakah hidup mereka menjadi tidak harmonis lantaran ekonomi yang kurang mengizinkan? Jawabannya tentu tidak, bahkan rumah tangga mereka tetap utuh dan Ali mendapat kabar gembira dari Rasulullah SAW sebagai calon penghuni surga karena ketakwaannya.

Justru sebaliknya di era global ini, tengoklah ke pengadilan agama banyak yang mengurusi perceraian dan yang menghiasi adalah kaum mapan yang hidup lebih dari cukup, mempunyai fisik menawan nan elok, lalu ada apa gerangan.

Tengoklahlah pula Uwais al qarni, seorang yang dihinakan dan menjadi bahan olokan di kampungnya, dia adalah generasi emas tabi’in, mendapat banyak pujian dari para penghuni langit, padahal kita tahu di era tabi’in ada seorang Sa’id bin Musayyab, seorang yang banyak meriwayatkan hadist dan juga ada Hasan al Bashri, seorang ulama terkenal dan shalih yang begitu banyak murid-muridnya.

Akan tetapi Rasulullah SAW mengatakan bahwa sebaik-baik generasi dari kalangan tabi’in adalah Uwais al Qarni, lalu apa keistimewaannya padahal dia sering di olok-olok karena bukan orang kaya, mempunyai penyakit yang dalam bahasa Al-Quran disebut dengan baros atau alvino atau jika merujuk ke terjemahan adalah penyakit kusta.

Suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk di antara para sahabatnya; antara lain Abu Hurairah, Umar, Ali dan lainnya. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya sebaik-baik generasi tabi’in adalah orang yang bernama Uwais. Dia mempunyai seorang ibu dan mempunyai belang putih di tubuhnya. Lalu dia berdoa hingga Allah menghilangkan belang itu kecuali hanya tersisa sebentuk dirham.”(HR. Muslim dan Ahmad)

Uwais berdoa untuk kesembuhan penyakitnya dengan meminta untuk menyisakan sedikit saja ditubuhnya agar senantiasa bersyukur dan selalu mengingat Allah Ta’ala dan Allah mengabulkan doanya. Umar yang mengetahui keutamaan Uwais pun senantiasa meminta doa padanya “Mintakanlah ampunan untukku, wahai Uwais!”.

Dan di saat masyarakat tahu tentang keutamaan uwais, berbondong-bondong mereka mendatanginya akan tetapi Uwais memilih untuk meninggalkan kampungnya karena takut dikultuskan dan hal ini adalah wajar bagi orang-orang shalih, mereka malu bahkan menjadi merah wajahnya saat amal shalih mereka diketahui banyak orang.

Duhai saudara/iku, janganlah kita merasa suci dan menganggap hina orang-orang kelas bawah, orang-orang yang ekonominya lemah, mempunyai penyakit, pekerjaan rendahan sebagai pesuruh, pedagang keliling, petani, nelayan, dan lain sebagainya. Bisa jadi mereka memang bukanlah orang yang dikenal di dunia akan tetapi dikenal dan menjadi bahan pembicaraan penduduk langit, karena hati mereka yang bersih dan tulus menjalani kehidupan.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (69 votes, average: 9,45 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

Si Kecil Omran, Durrah, dan Tangisan Dunia