Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Hisabmu Tergantung Ibadah Salatmu

Hisabmu Tergantung Ibadah Salatmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Manusia adalah makhluk yang tak lepas dari salah dan dosa. Akan tetapi, walaupun dengan sifatnya tersebut, Allah tetap memilih Adam (manusia) sebagai khalifah di muka bumi ini. Bukan malaikat yang hanya beribadah kepada Allah dan bukan pula Iblis yang tak tunduk terhadap perintah-Nya.

Manusia dibekali akal dan nafsu, ia juga dibebani dengan suatu taklif ketika ia sudah mencapai umur baligh bagi seorang muslim. Salat adalah ibadah yang sudah ditentukan sesuai dengan waktunya sehingga ia merupakan salah satu taklif, tugas bagi muslim. Lalu bagaimanakah jika taklif tersebut dilanggar atau bahkan tidak ditunaikan oleh muslim?

Ahmad Zacky el-Syafa melalui bukunya yang berjudul “16 Dosa Meninggalkan Salat Wajib” memaparkan perihal salat dan apa saja dosa serta nasehat bagi tarik al-shalat atau orang yang meninggalkan salat wajib. Salat merupakan oleh-oleh Rasulullah saw ketika beliau melakukan perjalanan menembus langit. Ia adalah perintah begitu penting, sebab untuk keperluan ini Allah memanggil kekasih-Nya untuk menerima secara langsung perintah salat (hlm. 23).

Salat merupakan manifestasi dari kerinduan (syauq), ketundukan, dan rintihan makhluk yang hina kepada Tuhan. Bacaan dan juga gerakan-gerakan dalam salat mencerminkan makna ini. Dalam ibadah salat, terdapat model-model orang salat yang mungkin salah satu dari model ini adalah cerminan dari diri kita. Kita harus ingat bahwa salat sebagaimana sabda Rasulullah saw adalah amalan yang pertama kali ditanyakan oleh Allah. Jika salat kita baik, maka diterima seluruh amal kita. Sebaliknya jika salat kita jelek, maka amal kita akan ditolak-Nya.

Salah satu makna spiritual dalam salat tergambar di dalam gerakan salat. Salah satu rukun salat adalah berdiri bagi yang mampu atau qawwam. Dengan posisi kita sebagai qawwam, maka kita harus menjadi orang yang adil. Adil kepada diri sendiri juga adil kepada anak, istri, dan adil kepada orang lain jika memang kita diberi amanat sebagai penegak hukum. (hlm. 61). Rukuk, bentuk ketertundukan seorang hamba. Tunduk di sini adalah mencakup keseluruhan, yakni ketertundukan hati, ketertundukan anggota badan serta ketertundukan lidah dalam bentuknya yang paling sempurna (hlm. 84).

Bagian tengah buku ini adalah 16 dosa meninggalkan salat wajib. Orang yang meninggalkan salat dikurangi keberkahan umurnya. Ia tidak hanya mendapat azab di akhirat, tapi juga akan menerimanya saat masih hidup di dunia. Di antaranya adalah keberkahan umurnya akan dicabut oleh Allah. Ia akan mengalami kesulitan rezeki, tidak ada tanda orang saleh di wajahnya, ia tidak memiliki tempat dalam Islam, amal kebajikannya tidak mendapat pahala, dan doanya tidak akan diterima-Nya. (hlm. 172).

Orang yang meninggalkan salat akan disiksa dalam kubur. Ia akan menerima tiga siksaan pedih. Kuburnya akan dihimpitkan serapat mungkin hingga remuk tulang-tulang dada, dinyalakan api di dalam kuburnya dam api itu membelit serta membakar tubuhnya siang dan malam tiada henti. Setelah itu muncul seekor ular yang bernama suja’ul aqrab, demikian seterusnya hingga kiamat datang.

Orang yang meninggalkan salat lebih berdosa daripada berzina. Zina dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap lembaga keluarga. Zina dapat menyebabkan keretakan rumah tangga yang bisa berdampak perceraian atau dapat menimbulkan konflik besar dalam kehidupan rumah tangga. Namun, dosa meninggalkan salat dengan sengaja jauh lebih besar ketimbang melakukan zina.

Di antara dosa bagi orang yang meninggalkan salat adalah tidak mendapat syafaat Nabi Muhammad saw. Syekh Ahmad Zaini dalam arba’u rasail mengatakan “Wahai Muhammad, orang yang meninggalkan salat tidak akan memperoleh bagian darimu juga tidak akan memperoleh syafaatmu. Ia juga bukan merupakan bagian dari umatmu.” (hlm. 268)

Adapun di bagian akhir, penulis memberikan nasehat-nasehat bagi orang-orang yang meninggalkan salat dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan bagi orang yang senantiasa menunaikan ibadah salat. Pelaku salat akan mendapatkan lima kemuliaan. Hidupnya akan senang, penuh dengan gemilang rezeki. Ketika meninggal, ia akan mendapatkan kuburan yang luas dan penuh dengan nikmat kubur hingga ia akan masuk surga tanpa dihisab (hlm. 295 – 296).

Pelaku salat senantiasa menjadikan masjid sebagai tempat ketergantungan. Ingat, bahwa siapa saja yang hatinya selalu tertambat pada masjid, kelak di hari kiamat ia akan mendapatkan perlindungan dari Allah. Dan siapa saja yang dapat menjalankan salat berjamaah selama 40 hari tanpa putus, maka jaminan ia akan masuk surga.

Manusia seringkali merasa jenuh dengan apa yang ia kerjakan, atau mungkin merasa tertekan. Salat merupakan terapi stress. Dengan salat kita bisa menumpahkan segala keluh kesah kita kepada Allah. Secara otomatis, minimal kita merasa tenang jika selalu bisa berkomunikasi dengan Allah. Membaca buku ini menjadikan kita akan merenung. Allah memerintahkan kita untuk menjalankan salat sesuai dengan waktu yang ditentukan. Tapi, dalam kenyataannya kita belum bisa. Maka, salat kita masih sebatas menggugurkan kewajiban semata kah atau menjadi kebutuhan rohani kita? Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi kisah yang akan menjawab kegalauan kita dan menambah girrah untuk senantiasa mengabdikan diri kepada-Nya melalui salat yang menjadi tempat terbentangnya hamparan kilauan cahaya. (fadhilah/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Lutfi Nur Fadhilah

Lihat Juga

Ulul Albab dan Hikmah Pergantian Tahun

Organization