Home / Berita / Opini / Ulul Albab dan Hikmah Pergantian Tahun

Ulul Albab dan Hikmah Pergantian Tahun

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi, sebening air (embunhati.com)

dakwatuna.com – Semua orang menginginkan dirinya menjadi orang yang pintar, pandai, dan cerdas. Namun seringkali kecerdasan dan kepandaian yang dicapai bukanlah kepandaian yang sesungguhnya. Kecerdasan yang diraih masih menyisakan lubang kebaikan universal  yang memunculkan ironi dari kecerdasan itu sendiri. Gelar pendidikan yang tinggi masih diselimuti berbagai pertanyaan tanda keraguan atas setiap capaian yang sudah digenggam.

Di dalam Alquran, Allah memberikan gelar bagi orang yang cerdas dengan sebutan “Ulul Albab”. Kata “Ulu” memiliki kesamaan dengan kata “zu” yang artinya pemilik, sedangkan kata  “Albab” sendiri adalah bentuk jama’ dari “Lubb” yang berarti isi dari sesuatu. Seperti kacang yang sudah tidak ada kulitnya, buah-buahan yang sudah bersih tanpa kulit. Sedangkan pada diri manusia, “Lubb” bermakna akal yang merupakan isi dari kerangka kepala yang dimiliki manusia.

Secara garis besar “Ulul Albab” dapat dimaknai dengan orang yang mengetahui sesuatu hinga ke inti, substansi dan dasarnya. Seseorang dengan predikat “Ulul Albab” dapat mengetahui hingga pada hakekat segala sesuatu, dan ia tidak berhenti pada bungkus, kulit dan kemasan.

Dalam surat Ali Imran ayat 190, Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Ayat di atas menjelaskan ciri-ciri Ulul Albab sebagai seseorang yang peka dan tajam penglihatannya. Seorang Ulul Albab dapat menjangkau pemahaman bahwa ada kebesaran dan keagungan Allah di balik semua fenomena yang ada dalam kehidupan. Adanya langit dan bumi dan pergantian siang dan malam dapat mengantarkan Ulul Albab untuk semakin tunduk kepada Allah, karena di dalamnya terasa begitu besar kekuasaan Allah. Langit yang sebagai pelindung bumi, diciptakan tanpa satu pun tiang yang menyangganya.

Bumi diciptakan dengan segala kebutuhan manusia yang terkandung di dalamnya. Sungguh semakin dalam langit dan bumi dikaji dengan segala rinciannya, mengantarkan Ulul Albab semakin ingin taqarrub kepada Allah. Sementara mereka yang cerdas cendekia,tidak sedikit yang pengetahuannya berhenti pada fenomena dan kulitnya saja. Kedalaman ilmunya tak sampai pada isi sesungguhnya, hingga hal itu membuatnya semakin lama tertunduk dan bersujud di hadapan Sang Pencipta.

Jika saja pergantian siang dan malam yang memunculkan hari begitu besar pengaruh spiritualnya bagi Ulul Albab, apalagi jika pergantian siang dan malam berulang-ulang hingga muncul adanya hari, bulan, dan tahun! Tentu saja keagungan dan kebesaran Allah lebih dirasakan oleh seorang Ulull Albab. Dari sinilah dapat dianalogikan betapa pergantian tahun dari 2017 menuju 2018 memiliki pesan betapa besar dan agungnya Allah SWT.

Apa Makna Pergantian Tahun Bagi Kaum Muda?

Bagi para pemuda maka hadits riwayat Imam Tirmidzi perlu dijadikan sebagai perhatian. Rasulullah menjelaskan bahwa ada 5 hal yang akan dievaluasi dan dituntut pertanggungjawabannya di sisi Allah, yaitu; tentang usia, masa muda, harta, ilmu, dan fisiknya. Satu hal yang patut diperhatikan adalah tuntutan pertanggungjawaban yang pertama dan kedua yaitu usia dan masa muda.

Sekilas bahwa usia tentu saja sudah termasuk di dalamnya masa muda. Akan tetapi hadits tersebut menyebutkan secara khsuus masa muda sebagai masa yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Seolah masa muda adalah sesuatu yang berbeda dengan usia manusia. Ternyata jika direnungkan ada pesan mendalam akan betapa pentingnya masa muda dalam kehidupan seseorang. Masa muda adalah masa keemasan seseorang di mana di dalamnya ada puncak potensi yang dimiliki setiap orang.

Masa muda adalah masa yang paling produktif dalam diri seseorang. Bagi orang yang taat kepada Allah, maka masa muda adalah puncak produktivitas amal sholeh yang bisa ia lakukan. Sebaliiknya, bagi pemuda yang tidak baik maka masa muda akan melahirkan karya keburukan yang sangat besar.

Dalam surat ar-Rum ayat 54 Allah SWT berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.

Ayat tersebut menjelaskan tentang 3 fase perjalanan hidup manusia. Fase perjalanan setiap manusia dimulai dari masa lemah, kemudian masuk pada fase kuat, dan pada akhirnya manusia akan kembali menjadi makhluk yang lemah ditandai dengan tumbuhnya uban di kepala. Dengan demikian masa muda merupakan masa keemasan manusia (golden age) yang diapit oleh 2 masa kelemahan.

Dari hadits riwayat Imam Tirmidzi dan surat ar-Rum ayat 54, memberikan pesan akan pentingnya masa muda yang akan secara khusus diminta pertanggungjawabannya. Oleh karena itu, bagi para pemuda adanya pergantian tahun harus menyadari bahwa tahun 2017 yang sudah berlalu akan diminta pertanggungjawabannya.

Jika dirasakan ada waktu yang belum optimal, kerja dan aktivitas yang belum efektif, kesempatan yang belum berbuah pahala, maka 2018 harus menjadi momen perbaikan untuk menyempurnakannya.

Pesan Khusus Bagi yang Menjelang dan Sudah Berusia 40 Tahun!

Adapun bagi mereka yang sudah berusia menjelang 40 tahun, atau sudah pada usia tersebut bahkan melebihinya, maka surat al-Ahqaf ayat 15 harus menjadi sumber pelajaran yang terus-menerus dihayati dan diamalkan. Dalam ayat tersebut Allah SWT berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas memberikan gambaran tentang pesan Allah secara khusus kepada setiap orang yang sudah berada dalam lingkaran usia 40 tahun agar fokus dengan lima hal dalam hidupnya.

Fokus pertama adalah manusia harus mengubah mindset dari lebih banyak mengingat nikmat yang belum Allah berikan menjadi fokus pada mengingat limpahan nikmat Allah yang sudah diberikan selama kurun waktu kurang lebih 40 tahun. Manusia sudah harus berpikir berapa banyak nikmat yang sudah dikonsumsi, berapa banyak pakaian yang sudah dipakai sejak lahir hingga saat ini.

Manusia harus mengingat kembali berapa banyak nikmat kemampuan bergerak, berjalan, dapat mendengar dan melihat yang sudah Allah anugerahkan sehingga ia dapat merasakan nikmatnya kehidupan ini. Bahkan ia harus merenungkan betapa jauh lebih banyak nikmat yang sudah Allah anugerahkan sebelum ia sempat memintanya. Betapa banyak nikmat yang sudah terberi sebelum tangan menengadah ke langit. Perjalanan hidup sejauh yang sudah dilalui pun sebenarnya jauh lebih hebat capaiannya apa yang kita rencanakan sebelumnya.

Fokus kedua adalah amal sholeh. Sisa perjalanan waktu yang ada sudah harus mengantarkan seseorang pada usia 40 tahun untuk lebih banyak melakukan amal, amal dan amal sholeh. Hal ini sangat wajar, karena jatah waktu kehidupan yang akan dilalui tinggal sedikit. Jika seseorang sempurna diberikan jatah hidupnya hingga 60 tahun, maka 2/3 perjalanan sudah dilalui, dan yang tersisa adalah 1/3-nya lagi. Jika 2/3 perjalanan yang sudah lewat tak terasa lama dirasakan, apalagi perjalanan yang masih tersisa, tentu saja jauh lebih singkat.

Oleh karena itu seluruh aktivitas kebaikan dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali harus diorientasikan kepada mencari ridha Allah. Allah menjadi tujuan pokok dari seluruh kebaikan yang dilakukan. Orientasi selain Allah, harus dijadikan sebagai media saja. Dengan seperti itu, balasan jangka pendek tidak menjadi harapan utama, sehingga konsistensi dan istiqomah dalam beramal dapat terjaga. Puncak dari itu semua adalah apa yang Allah gambarkan dalam surat al-Insan ayat 6 yang berbunyi:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Fokus ketiga adalah berikhtiar dan berdoa demi kesholihan anak, cucu dan seluruh keturunannya. Waktu yang tidak berapa lama lagi, harus digunakan untuk memfasilitasi terlahirnya keturunan yang sholih dan sholihah. Masa berpisah antara orang tua dan anak akan semakin dekat. Masa di mana orangtua tak lagi bisa mengawasi anaknya secara langsung semakin nyata.

Padahal hanya keshalihan yang akan kembali menyatukan sebuah keluarga di syurga-Nya nanti. Hanya keshalihan yang kembali membersamakan seorang suami dengan istrinya, orangtua dengan anaknya, kakek dan nenek dengan cucunya. Begitulah Allah menggambarkan dalam surat ath-Thur ayat 21 yang berbunyi:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

Dan orang-oranng yang beriman, dan  anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka

Fokus keempat adalah dengan banyak bertaubat kepada Allah. Betapapun buruknya masa lalu, ampunan Allah lebih besar dari itu semua. Mungkin ada di antara masa lalu yang belum sempurna, masa lalu yang berisi kelalaian, maka kalimat-kalimat istighfar akan menghapuskan noda-noda dan kehidupan seseorang menjadi bersih kembali. Allah adalah al-Ghofur dan ‘Afuww. Allah maha mengampuni dan maha memaafkan. Tidak ada ungkapan “tidak ada maaf bagimu” untuk manusia.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dijelaskan betapa gembira dan bahagianya Allah menyaksikan hamba-Nya kembali setelah berlumuran dosa. Kegembiraan Allah terhadap hamba-Nya yang kembali melebihi kebagiaan seseorang yang kehilangan unta kemudian setelah lelah dan putus asa mencari, tiba-tiba untanya muncul dan kembali kepadanya.

Fokus yang terakhir adalah terus mengafirmasi dan mendeklarasikan dirinya sebagai seorang muslim. Sesungguhnya saya, kamu dan kita semua adalah orang-orang yang berserah diri, tunduk serta patuh sepenuhnya kepada Allah. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya agar kita tetap dan terus istiqomah menjadi seorang muslim. Agar benar-benar terwujud apa yang Allah wasiatkan agar kita tidak meninggal dunia kecuali dalam keadaan Muslim.

Puncak harapan dari pembiasaan bersyukur, memperbanyak amal sholih, mendoakan dan mengikhtiarkan keturunan yang baik, serta melazimkan istighfar adalah dengan berakhirnya waktu di mana setiap kita dalam puncak keimanan dan keislaman. Ending kehidupan dunia yang baik akan menjadi awal dari kehidupan akhirat yang penuh kebahagiaan.

Semoga Allah menerima seluruh kebaikan 2017 kita dan memaafkan segala kelalaian di dalamnya! Mudah-mudahan 2018 datang dengan amal shalih yang semakin meningkat baik dari kuantitas maupun kualitas dari 2017 yang sudah berlalu! (ghoni/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Dosen STIU Al-Hikmah

Lihat Juga

Pecahkan Kaca dengan Kepala, WN Turki Ini Selamat dari Serangan Teroris di Selandia Baru

Organization