Home / Berita / Opini / Menggugat Indonesia

Menggugat Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Semoga Presiden kita nanti bisa berlaku adil, ya Bang.” kata ibu dengan penuh harap, saat memulai obrolan pada suatu sore.

Teh dan cemilan berupa kue-kue menjadi teman kami, yang selalu saja sudah habis duluan sebelum topik obrolan selesai dibahas.

Beberapa waktu setelah pemilu legislatif berlalu, dan ketika orang-orang sibuk membicarakan calon presiden jagoannya, ibu saya melihatnya dengan cara yang berbeda, mungkin seperti ibu lainnya, dia bicara tentang harapan dan kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang, di negeri ini, dibawah siapapun presidenya.

Pemilu legislatif di lingkungan tempat kami tinggal, ibu melihat pemilu legislatif dengan perasaan yang sedih bercampur marah. Tetangga sekitar tempat kami tinggal mulai mengeluarkan jargon-jargon di masa kampanye para caleg, “Berani berapa?”. Hal yang sedikit aneh menurut ibu, ketika kita mengharapkan pemimpin yang jujur dan amanah, kita juga yang mengharapkan mereka melakukan praktik politik uang.

“Itu mereka yang menerima uang suap untuk mencoblos, tidak boleh menghujat-hujat para anggota dewan yang korupsi.” kata ibu dengan nada sedikit marah. “Kenapa?” Kemudian saya bertanya penasaran.

“Karena uang-uang yang mereka terima itu kan harus dicari lagi dan diusahakan kembali dengan cara yang belum tentu baik, bisa saja dengan praktik jahat, korupsi tadi misalnya.” Ujar ibu berpendapat.

Jadi menurut ibu, kita tidak boleh menerima uang suap dari caleg untuk mencoblosnya. Karena itu sama saja dengan mengizinkan caleg tersebut nanti setelah terpilih nanti untuk korupsi. “Pilih yang baik, yang dekat dengan kita, yang cerdas, yang menjumpai kita, yang dekat dengan agama.” Titah ibu.

Menggemaskan memang kalau orang tua kita sudah mulai kritis dan mengomentari politik dengan cara mereka. Hal yang mulai Ibu soroti, karena dia mulai sadar politik berpengaruh kepada harga tabung gas untuk dapurnya, harga pendidikan untuk anak-anaknya, dan harga kesehatan yang harus dibayar kalau saja keluarganya sakit. Semakin ibu sadari, politik berpengaruh secara langsung terhadap itu semua.

Pada akhirnya pemilihan presiden digelar, dan bagi ibu rasanya singkat sekali. Saya tidak menemani waktu beliau memantaiu jalannya quick count tiap tiga menitnya di televisi. Tapi dari pengakuannya, ibu ketar-ketir dan deg-degan, jagoannya, calon presiden yang dia dukung mendapatkan presentase suara yang kalah sedikit dari calon presiden yang lain. Lalu ibu mulai melakukan analisa-analisa.

“Semoga berjuang dalam situasi yang kalah, akan lebih terasa nikmatnya, ya Bang.” Aku takjub sambil tersenyum mendengar kesimpulan yang dia buat dan itu ditujukan pada saya, pada kami, para aktivis dakwah. “Untuk selanjutnya Allah akan bukakan tabir, citra siapa yang sebenarnya jahat, dan memenangkan kita dalam keterhormatan, kekhusyukan dan kesyahduan bernegara. Ibu terus saja memperdengarkan mutiara yang terkandung dalam kata-kata, sesuatu yang keluar dari dalam hatinya.

Perhelatan mencari pemimpin belum selesai, setelah komisi pemilihan umum mengetuk palunya dan sorak sorai pendukung yang KPU menangkan tak henti-hentinya. Kubu satunya menemukan kecurangan yang sangat masif, teratur dan disimpan sejak awal, untuk digugat-sidangkan. Ibu menanyakan hal-hal yang tidak bisa dia ketahui di televisi, dia ingin tahu isi surat kabar, internet, bagaimanakah kondisinya, suasananya, apakah berbeda, apakah lebih gaduh.

Saya menerangkan kemeriahan di sosial media padanya, hal-hal yang terkait kampanye dan jargon-jargon sebelum hari pencoblosan, termasuk kubu yang dimenangkan KPU dan caci maki pendukungnya, kata-kata kasar simpatisannya, ejekan-ejekan, gambar-gambar tidak senonoh, bahkan sesudah KPU memenangkan jagoan mereka, itu masih saja mereka lakukan.

Mereka yang secara umur tidak lagi anak-anak mengajarkan ketidak-dewasaannya pada kita semua. Mereka tidak lagi pendukung, mungkin sudah jadi anak angkat calon presiden tersebut. Kata-kata kasarnya, gambar-gambar yang sengaja diedit untuk menjelekkan, jargon-jargon tendensius yang mereka buat, dan sebagainya, menunjukan pada kita, sampai mana akalnya mereka. Dan tetaplah kita seperti apa adanya, mendukung yang satu tanpa menjelekan yang lain.

Dugaan ibu benar, presiden terpilih versi KPU dan versi Mahkamah Konstitusi, tetapi tidak sudi untuk versi hatinya berulah. “Mereka, belum duduk saja, belum dilantik, belum resmi, sudah mau menaikan harga BBM.” Kata ibu agak emosi. Ini adalah hal yang sudah ditebaknya dari awal sejak BBM susah sekali didapatkan, SPBU hobinya memasang plang di depan dengan bertuliskan “Premium Habis,” dan harga sembako di pasar sudah beranjak naik, membersamai isu kenaikan harga BBM tadi.

“Sudah, sudah.. Insya Allah semua baik-baik saja, kita doakan kejahatan dibuka seterang-terangnya, dan kebaikan dimenangkan seadil-adilnya.” Pinta ibu.

Akhirnya doa adalah senjata yang lebih tajam, dalam akurasi yang lebih sempurna, dan menghujam dengan sangat dahsyat. Akhirnya gerak, karya dan amal adalah perwujudan yang lebih indah, bahkan dalam kondisi yang lelah, kalah dan marah, ianya saling melengkapi sebagai cinta yang menyala. Dan pada akhirnya, sembari membenahi kerja-kerja kita yang berat, hati kita yang penuh cacat dan keimanan yang sekarat, pada-Nya jualah segala gelisah dipasrahkan dan cinta diwujudkan dalam amal kebaikan.

Kita gugat Indonesia, dengan cinta, kerja dan doa.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nanda Koswara
Pendiri #MakingPeopleSmileProject wadah kreatif untuk berekspresi di bidang sosial.

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya