Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mendung di Langit Gaza

Mendung di Langit Gaza

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: anita-chenit.blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: anita-chenit.blogspot.com)

dakwatuna.com Tak seperti hari-hari biasanya, langit terlihat kelabu pagi ini. Ia nampak tak ramah dengan senyumnya yang biasanya cerah. Tak terlihat tanda-tanda matahari akan muncul dengan sinar wajahnya yang berbinar. Ia masih malu-malu, tak seperti biasanya, setiap pagi menebar cahaya senyumnya kepada segenap penduduk alam.

Mendung bergulung-gulung memaksa mentari menyembunyikan diri. Bersembunyi di balik perkasanya awan-awan kelabu yang berjingkrak-jingkrak berkejar-kejaran. Membuktikan kedigdayaannya pada penduduk bumi sekalian alam.

Di sudut sebuah masjid, di kota Gaza tampak seorang gadis itu masih saja bersimpuh menunduk wajah. Dia diam seribu bahasa. Menunduk meratapi semua yang telah terjadi pada dirinya, pada seorang yang dicintainya, mengingat semua dosa dan durhaka. Mengiba di hadapan yang Maha Kuasa. Tasbih dan tahlil masih saja ia teriakkan tak henti-henti dalam dada. Dia tertunduk pilu tenggelam dalam gelimang nestapa. Meratapi dan meminta diampuni segala dosa oleh yang Maha Mengampuni dosa-dosa.

Sebulan lamanya ia menunduk mengadu dalam doa. Ia merintih, melangkah datang kepada Rabbnya dengan tertatih. Mungkin ini karena sebab masih tersisa bercak-bercak dosa di dalam jiwa. Hingga Allah mengujinya dengan ujian berat tiada tara. Maka tak henti, tak letih dia meminta ampun dari khilaf dan silaf yang telah tertoreh.

“Dosaku telah menggores luka dan nestapa” gumamnya. Tak pernah sebelumnya Allah menguji dengan beban ujian seberat ini. Yang dia tau, Rabbnya begitu sayang kepadanya. Namun kali ini dia sadar, sebulan sudah dia lupa dan tak bermesra dengan-Nya. Bahwa ia segera tahu maksud Tuhannya. Sebulan sudah cintanya mendua. Cintanya terbelah antara Tuhan dan cinta kepada makhluk ciptaan-Nya. Seorang pemuda yang menyebabkan senyumnya kini mengembang. Pikirannya terus melayang terbang. Jiwanya tidak lagi kosong. Ya… sebulan ini ia telah jatuh cinta. Dan ia telah memutuskan untuk menikah dengan pemuda belahan jiwanya. Ia telah menerima pinangan pemuda Jabaliya. Sebuah kota utara Gaza yang menjadi benteng lapis pertama menuju Gaza city.

Namun ironisnya, cintanya kepada pemuda itu tak berbuah manis. Justru dia menggores luka di dalam dada, perih, teriris-iris. Sebulan menanti jawaban indah berseri bertabur bunga yang ia dambakan. Dan saat waktu yang dijanjikan benar-benar datang, ternyata pemuda yang menjadi pujaan hati itu bukanlah jodoh baginya. Cintanya dan segala pengorbanan jiwanya seolah sia-sia tiada artinya. Sebulan lamanya ia berharap. Dan baru beberapa saat harapnya terjawab. Jawaban datang dari ayah pemuda itu menyayat pilu. Kini wajahnya masih saja tertunduk malu. Mengharap cinta Tuhan yang telah ia duakan sejak sebulan yang lalu kembali.

Tak ada bejana hati yang tak remuk, tak retak jika api cinta yang menyala dipaksa padam seketika. Memuncak mendidih dipaksa membeku. Hancur lebur suasana hatinya. Bermaksud menentukan hari pernikahan tak berjalan sesuai harapan. Sesak tak habis-habis. Melayang terbang terbayang wajah sang pejuang sejuk begitu menawan. Namun mungkin tuhan sudah punya pilihan untuk dirinya selaksa zaman di kemudian.

***

Mendung masih saja menyelimuti langit kota Gaza. Kini ia menggelantug, bergelayut seolah tak kuat menahan beban. Warna kelabu seketika menjadi hitam pekat menakutkan. Sesekali warna kelabu berubah memerah bak senja menanti mentari dari peraduan.
“Dhuuuummmmmm”. Suara yang tak asing bagi penduduk Gaza. Bom dan rudal Israel.  Membumbung tinggi kepul asap kelabu dibakar api kecongkakan rudal-rudal Israel. Gegap suara sirine memekak telinga. Menjerit-jerit memenuhi ruang angkasa.

Sementara siang masih saja murung dan enggan disinari matahari. Para wanita, anak-anak, tua muda, laki-laki perempuan, besar kecil telah berbaris–baris berteriak menangis seolah menyayat hati di pinggir-pinggir kota. Suara takbir menggema membuncah bersahut-sahutan bak suasana takbiran hari raya. Namun ini suasana Gaza. Sirine menjadi peringatan bagi penduduk Gaza bahwa Israel kembali melancarkan serangan udaranya ke kota kecil di Negara Palestina itu.

Sudah hampir sebulan Gaza kembali berduka. Di saat Zahra memantapkan hati menerima cinta pemuda Jabaliya. Hamid bin Muhammad namanya. Dan Hamid berjanji akan menikahinya di akhir Ramadhan nanti. “Aku meminta waktu satu bulan, aku ingin mengambil momen akhir Ramadhan. Semoga keberkahan pernikahan ini akan kita raih di akhir Ramadhan, saat hari kemenangan itu datang”. Begitu janji Hamid.

“Dhuuuummm..” Suara itu semakin menggema, dekat sekali. Zahra pun berusaha bangkit dari mihrabnya. Ia teringat calon suaminya yang telah syahid dengan suara dentuman itu. Dentuman rudal-rudal liar bak memanggil-manggil namanya untuk segera menyusul. Calon suaminya telah mendahului ke surga.
“Mau kemana kau Zahra” Suara yang tak asing ditelinganya itu menyeru.
“Aku ingin menyusul calon suamiku” Jawabnya tanpa beban.
“Tetap duduklah di masjid. Jangan keluar. Di luar sangat berbahaya Zahra. Jika kau ingin menyusul calon suamimu bukan sekarang waktunya.”

Zahra teringat peristiwa intifadhah dua puluh tahun lalu. Hampir seluruh kota Gaza dipadati kerumunan berbaris-baris tak beraturan. Bahkan anak-anak berbadan kurus kering mengacung-acungkan tangan mereka. Sementara jemari kecil mengepal menggenggam bongkahan batu-batu kasar sekenanya. Sedang di hadapan mereka berderet-deret rapi tank-tank tentara bengis Israel seperti rumah-rumah berjalan. Moncong tank mereka siap memecahkan kepala mungil anak-anak dekil di hadapan roda-rodanya.

Intifadhah… Sebuah perjuangan melawan penjajahan dan pembantaian terhadap rakyat Palestina. Bersenjatakan batu-batu di tangan dan kantong-kantong bajunya melawan tentara Israel yang dilengkapi senjata-senjata super modern. Begitulah anak-anak dekil itu. Mereka siap mengusir tentara Israel dengan melempari tank-tank raksasa berlapis baja itu dengan batu sebesar kepalan tangan mereka.

***

Zahra masih berkabung. Setelah kesyahidan colon suaminya, Ia teringat Peristiwa lima hari yang lalu. Umminya yang sedang terbaring sakit di rumahnya. Saat ia baru tiba membeli obat di apotek dekat rumah, didapatinya ummi masih berbaring lemas di atas tikar kasar. Tiba-tiba berdiri di hadapan Zahra tiga manusia bengis tak punya hati itu menenteng senjata di pundak kanan mereka. Tak banyak kata, mereka menebar peluru ke arah keluarga itu sekenanya. Zahra merintih, mungkin menahan rasa perih yang teramat sangat. Berbutir timah panas bersarang di pundak dan tangannya. Ia terjatuh lemas di samping umminya yang sudah terkulai berlumur darah.

Samar-samar ia melihat sosok adik kecilnya yang berlari tertatih kearahnya. Dan kini giliran anak yang tak punya dosa menjadi korban kebiadaban zionis yang tak punya hati itu. Si kecil pun tersungkur. Dengan deraian air mata Zahra terus mencoba merangkak ke arahnya. Merangkak sekuat yang ia bisa dengan sisa tenaga yang dia punya. Dan lagi-lagi zionis Israel mendaratkan timah panasnya punggungnya berkali-kali. Kini ia tak bergerak, tenang dan tertidur nyaman.

***

Saat pertama kali ia membuka matanya. Tepatnya tiga hari setelah peristiwa memilukan itu; abah, ummi dan tiga adiknya telah tiada menyusul calon suaminya. Zahra tak sadarkan diri selama tiga hari. Dan kini dia masih terbujur lemas di atas tikar kasar di sebuah masjid di kota Gaza. Sesekali ia terduduk dan berjalan tertatih mengusir kebosanan dalam pembaringan.

Kemenangan itu telah datang di akhir Ramadhan bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Namun langit Gaza masih saja mendung. Belum ada tanda-tanda mentari akan muncul. Semendung langit-langit hati Zahra yang pilu hidup sebatang kara ditinggal semua orang-orang terkasihnya.

Semendung hati seluruh penduduk Gaza yang telah dirampas kemerdekaannya oleh kerakusan dan kebengisan Zionis Yahudi Israel. Semendung penduduk muslim seluruh dunia yang telah dihinakan dan dinistakan kehormatan dan kemuliaan masjid Al-Aqsha.
Mendung bertambah mendung oleh kepul asap hitam pekat rudal-rudal yang membumbung memenuhi seluruh langit Gaza. Hanya Intifadhah jilid tiga yang akan mengusir mendung permusuhan Zionis Yahudi dari negeri Palestina.

Kalian akan dapati orang yang paling getol memusuhi (kalian) orang-orang beriman adalah Yahudi dan orang-orang yang kafir”. (QS. Al-Maidah: 82)

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Khumaidi
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, aktif di beberapa kajian keislaman, pembinaan remaja dan kepemudaan di kota Solo.

Lihat Juga

PKS Ucapkan Duka Cita Mendalam untuk Korban Gempa Aceh