Home / Pemuda / Cerpen / Pemecah Belah Cinta

Pemecah Belah Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Mbak, Mama Raihan kemana?” tanyaku pagi itu kepada Mba Lulu. Perempuan yang kupanggil Mama Raihan adalah si penjual sarapan pagi di komplek perumahanku. Sedangkan Mba Lulu adiknya. Tidak seperti biasanya, pagi itu tidak ada Mama Raihan. Ada yang kurang, suasana di warung itu tidak seceria biasanya.

***

Sudah hampir sebulan Aku tinggal di komplek perumahan ini. Suasana perumahannya nyaman dan penuh kekeluargaan. Satu sama lain saling menyapa, akrab. Bahkan Aku sebagai pendatang baru tidak butuh waktu yang lama untuk menyesuaikan diri. Dari semuanya itu, ada yang paling berkesan bagiku sejak awal tinggal disini. Ya, dialah Mama Raihan.

“Pagi tante Rina, mau sarapan dengan apa nih? Lontong gulai apa pecel? Ada bakwan kesukaan tante juga lho.”
Mama Raihan itu perempuan empat puluhan yang sangat periang, selalu tertawa seolah hidupnya tidak ada beban. Slogan yang cocok buat beliau adalah “Ngga ada loe ngga rame”. Statusnya single parent sejak Raihan lahir hingga kini Raihan berusia 10 tahun. Dan tau ngga? Raihan itu anak laki-laki yang cakep (menurut aku. hehe…).

Lantas, seperti apa sosok Mama Raihan? Beliau seperti ibu-ibu kebanyakan. Postur tubuhnya tinggi dan besar alias gemuk. Warna kulitnya gelap, tetapi memiliki paras yang manis. Selalu tampil dengan daster. Selain periang beliau juga sangat humoris. Salah satu kebiasaannya juga adalah menyapa siapapun yang lewat di depan warungnya, dengan sapaan yang khas tentunya.

***

Ini merupakan hari ketiga Mama Raihan libur berjualan. Walaupun digantikan Mbak Lulu, bagiku tetap saja ada yang kurang. Semua pelanggannya bertanya kemana Mama Raihan.

Mba Lulu akhirnya menceritakan kepadaku bahwa Mama Raihan sakit. Dua hari kemarin mimisan. Sejak Raihan berumur lima bulan Mama Raihan memang sering mimisan. Dalam waktu sebulan pasti ada sedikitnya satu kali.

Aku hanya bisa angguk-angguk kepala sambil memikirkan Mama Raihan mimisan kenapa? Mimisan biasa atau……

***

“Tante, apa kabar tante? Lama tidak jumpa tante..” Sungguh pagi itu aku kembali menikmati keceriaan Mama Raihan.
“Kabar baik, Mbak kemana aja? Dengar kabar kemaren Mbak sakit ya?” Tanyaku mengawali percakapan kami.
“Haha….., iya. Biasalah mimisan, tamu yang selalu datang beberapa tahun terakhir” Jawabnya dengan enteng.
“Mbak udah periksa itu mimisan kenapa?” Tanyaku serius.
“Sudah, ya penyakit biasa aja kok tante, ehh tante sepertinya hari ini tidak bersemangat. Kenapa tante?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Iya nih, lagi ngga semangat kerja Mbak, boring di tempat kerja” Jawabku sambil manyun.
“Tante jangan begit… Kita harus selalu bersemangat menjalani kehidupan ini. Tante lihat saya, setiap hari bagi saya adalah hari Senin. Tancap gas, semangat teruuus, haha….” Aku pun ikut tertawa.

***

“Bu, Bang Toto ngotot ingin menikahi Marni…..” Seorang gadis belia sedang curhat kepada Ibunya.
“Apakah kamu yakin menikah dengan Toto, sementara kamu dengar sendiri kalau Ibu dan adik-adiknya tidak menyetujui hubungan kalian” jawab si Ibu tenang.
“Ibu kan tahu Marni dan Bang Toto saling mencintai. Marni tidak sanggup hidup selain dengan Bang Toto Bu….” Keluh gadis itu dengan wajah yang tertunduk.
Sepertinya urusan mereka rumit. Sepasang kekasih yang sudah ingin menikah tetapi terhalangi oleh orang tua pihak laki-laki yang bersikeras tidak merestui. Begitu juga dengan adik-adik si lelaki. Tetapi dalam kisah mereka cinta mengalahkan segalanya. Si wanita dan Si lelaki memaksakan diri untuk ke pelaminan meskipun salah satu keluarga tidak merestui. Demi cinta. Cinta suci (itu kata mereka siih…). Untungnya lelaki yang bernama Toto itu seorang perantau. Jadi mereka terpisah jarak dengan keluarga Toto.

Pernikahan berlangsung dengan syukuran kecil-kecilan. Mereka sangat bahagia seperti pasangan pengantin baru lainnya. Hari-hari dilalui penuh cinta hingga tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan dua bulan.

Suatu malam Marni berlari keluar dari kamarnya menuju kamar Ibunya. Jam dinding saat itu menunjukkan angka 01.45 dini hari.
“Buuuu……, hiks,,,, Ibuuuu….., bangun Buuu……..” sambil berteriak campur isak Marni membangunkan Ibunya.
Sontak sang Ibu terkejut, ada apa gerangan dini hari begini Marni membangunkannya dengan berteriak campur isak tangis. Ibu Marni keluar dari kamar dengan agak sempoyongan. Jelas beliau belum sadar seutuhnya.
“Ada apa Marni? Kamu kenapa…, malam-malam gini kok teriak bangunin Ibu….” Ibunya sedikit kesal bercampur kaget karna mendadak dibangunkan dari tidurnya.
“Bu…., hiks,,,, itu Bu…., Bang Toto teriak-teriak ngga jelas sambil manjat dinding….. dia kesurupan.”

Memang malam itu tiba-tiba Toto berteriak-teriak dan memanjat dinding kamarnya. Sangat menakutkan. Dia sepertinya kesurupan. Marni dan Ibunya terpaksa membangunkan tetangga sebab dirumah mereka tidak ada laki-laki selain Toto. Lama, Toto akhirnya dapat ditenangkan. Dua orang lelaki yang merupakan tetangga Marni mengikat Toto agar tidak bergerak dan memanjat dinding lagi. Marni dan Ibunya kalut. Peristiwa itu berlangsung cukup lama, sejak pukul 01.45 dini hari Toto baru tenang setelah adzan subuh berkumandang.
Malangnya, kejadian itu tidak terjadi malam itu saja. Bersambung ke malam-malam berikutnya. Bahkan pernah tiga malam berturut-turut. Marni dan Ibunya berusaha sekuat tenaga mengobati Toto. Toto yang tampan itupun sudah terlihat kusut masai seperti lelaki tidak waras alias gila.

Lima belas hari berlalu, hampir setiap malam Toto kambuh. Obat-obat yang diberikan Marni tidak menampakkan hasil. Dihari keenam belas sejak awal kejadian, Marni dan Ibunya kedatangan tamu. Keluarga Toto datang ke rumah. Mereka ingin membawa Toto pulang kampung dan berobat disana. Rupanya keluarga Toto mendengar kabar tentang penyakit yang dialami anak lelaki mereka. Dan Marni pun mengizinkan Toto pulang ke kampung. Tetapi sayang seribu sayang alangkah terkejutnya Marni karena dia tidak dibolehkan ikut ke kampung Toto, bagaimana mungkin dia tidak mendampingi Toto berobat?.

Marni tidak bisa berkata apa-apa. Keluarga Toto bersikeras dan bisa terjadi percekcokan yang lebih dahsyat bila Marni memaksa ikut. Dengan hati yang sangat berat Marni dan Ibunya melepas Toto pulang. Sedih bukan kepalang, tangis tak terbendung. Hampir seminggu Marni mengurung diri di kamar, sedih. Tapi akhirnya ia ikhlas, tak mengapa demi kesembuhan sang kekasih hati.

Hanya beberapa hari sejak kepulangan Toto, Marni mendengar kabar bahwa Toto sudah sembuh. Alangkah bahagianya Marni, hatinya berbunga-bunga. Dia menaruh harapan yang besar agar Toto segera kembali ke rumahnya dan hidup normal seperti dulu. Merajut kasih lagi. Marni ingin menyampaikan kabar gembira kepada Toto bahwa mereka akan segera punya bayi, Marni hamil. Namun apa daya kenyataan tidak harus sesuai dengan harapan.

“Apa? Abang diminta menikah lagi, dan abang menceraikan aku?”
Sungguh bumi terasa bergoncang, berputar dan semua benda seperti bergerak lari dari tempatnya. Tidak hanya bagi Marni tetapi juga dirasakan Ibunya. Bagaimana mungkin mereka bercerai sementara keduanya sebelumnya saling mencinta. Selama ini tidak ada konflik apapun di antara mereka. Marni pingsan setelah mendapatkan telpon dari Toto, lama baru dia siuman. Sejak itu rupanya dunia benar-benar telah kelabu. Marni merasa hampir gila. Setiap hari nelangsa. Kadang tertawa sendiri mengenang masa manis mereka. Tak jarang menangis bila ingat kejahatan mertuanya. Marni tidak habis pikir, teganya.

Hari demi hari kondisi tubuh Marni semakin melemah. Perutnya semakin membesar. Terbayang kelak anaknya tidak memiliki Ayah. Sesak dada bila memikirkannya, kenapa dia begitu malang. Apa salahnya?. Marni kusut masai kurus kering. Mata sembab karena menangis berkepanjangan. Mandi dan makan sudah tidak diperhatikannya. Dia hampir tidak memperdulikan bayi yang ada dalam kandungannya.
Benar adanya, Toto melangsungkan pernikahan dengan wanita yang diinginkan Ibunya. Entah apa yang terjadi Toto tiba-tiba bukanlah Toto yang dulu lagi. Seperti habis melakukan pencucian otak. Toto yang pernah mati-matian memperjuangkan Marni kini dengan enteng bersedia menceraikannya. Dan Toto tidak pernah kembali ke kota tempat dia menikahi Marni, dia selamanya di kampung. Bahkan Toto tidak pernah melihat wajah putranya yang lahir dari rahim Marni, sebab Toto ditakdirkan meninggal dunia karena kecelakaan saat putranya sudah berumur enam tahun. Takdir itu tidak memberi kesempatan kepada anaknya untuk melihat seberapa tampan wajah ayahnya.

Untuk diketahui sebelumnya pada saat putra mereka masih berusia lima bulan, Marni mengetahui jawaban kenapa dulu Toto selalu kesurupan hampir setiap malam. Ternyata Toto telah diguna-guna keluarganya. Toto dibuat kesurupan setiap malam sampai memanjat dinding, kemudian membenci Marni setengah mati. Mereka yang mendatangkan penyakit dan mereka pula yang mengobatinya kembali. Tidak heran bila Toto waktu itu cepat sembuh dan kemudian bersedia dengan enteng menceraikan Marni. Di hatinya ada kebencian kepada Marni. Keluarga Toto tega melakukan itu demi memenuhi hajat mereka itu untuk menikahkan Toto dengan gadis pilihan mereka.

Sungguh, Orang tua Toto telah meluluhlantakkan perasaan Marni dan menghacurkan hampir sebagian besar masa depannya. Marni tidak pernah mau menikah lagi, dia bersumpah. Padahal dia masih muda dan banyak yang menginginkannya menjadi Istri, maklum Marni itu berparas manis. Tetapi tidak mudah baginya melupakan Toto, kekasih sejatinya. Toto adalah satu-satunya lelaki yang menghiasi hatinya sampai kapanpun. Cinta yang hancur dilamun ombak.

Begitulah kisah dramatis cinta Marni. Lalu, siapakah Marni itu?

Dialah Mama Raihan. Wanita single parent nan selalu riang gembira itu. Dengan kerja keras beliau mampu menyekolahkan Raihan di sekolah swasta ternama serta telah memiliki sebuah rumah mungil. Meski tanpa suami Mama Raihan menjemput bahagianya dan membagikan kebagiaannya kepada orang lain. Tentunya dengan berbagi keceriaan kepada siapa saja sepanjang waktu. Dia mampu move on, tapi tetap tidak mau menikah lagi.

Mimisan sudah sering dialaminya sejak Mama Raihan itu tahu bahwa keluarga Toto yang telah memporak-porandakan cintanya. Karena ulah rumus guna-guna.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Putri minang asli, daerah asal adalah Mungka Kab. 50 Kota, Payakumbuh Sumbar. sekarang domisili di Batam, bekerja disalah satu perusahaan swasta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Eksistensi Ekonomi Syariah di Indonesia