Home / Pemuda / Essay / Stop PHP!

Stop PHP!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Aku begitu mengagumi sahabatku itu, sebut saja namanya Aqila, sosok wanita muslimah yang mungkin nyasar masuk ke dalam lingkaran persahabatan denganku beserta tiga sahabatku lainnya yang sama sekali berbeda dengannya. Ketika kami berempat mengobrol ria dengan tawa yang menggelegar, dia hanya tertawa kecil. Ketika kami tergesa-gesa melipat mukena setelah shalat di masjid kampus, dia masih berlama-lama dalam khusuknya menengadah kepada-Nya. Dia berbeda, bicaranya lemah lembut, ucapannya santun, tertawa tak pernah berlebihan, tak pernah ikut-ikutan ghibah, tekun belajar dan tidak pernah pacaran. Bagiku dan bagi ketiga sahabatku yang lain, Aqila adalah sosok muslimah sejati.

Waktu berlalu dan pada akhirnya kami semakin sering jarang berkumpul atau sekedar saling menyapa di dunia nyata selain dari telfon dan SMS. Melalui sebuah acara syukuran wisuda salah satu sahabat, kami berkumpul kembali. Kali itu aku melihatnya tampak berbeda. Dia terlihat sedang dekat dengan seorang laki-laki. Aku tidak mengenal laki-laki itu, tapi dia tampak sedang mendekati Aqila. Aku mencoba khusnudzan, mungkin saja sepupunya, atau saudara dekat yang belum sempat kukenal selama ini. Aku menghilangkan pikiran buruk juga rasa penasaranku.

Sepulang dari acara tersebut, kami berbarengan keluar dari rumah teman yang punya acara. Aku melihat Aqila dibonceng dengan motor oleh laki-laki tadi. Aku semakin yakin bahwa itu pasti saudaranya. Terakhir aku dan Miska, salah satu sahabatku juga pulang berboncengan motor. Di dalam perjalanan, tanpa dinyana, Miska tiba-tiba mengomel di boncenganku. “Astaghfirullah, aku enggak nyangka Qila mau-mau aja dibonceng sama cowok yang gak jelas itu, pakai motor tinggi lagi. Dia terlalu alim untuk cowok itu.” “Kali aja itu saudaranya,” aku mecoba mengajaknya berkhusnudzan. “Saudara apaan. Itu kerjaannya si Adi yang ngejodoh-jodohin dia ama cowok itu. Wallahu A’lam yah, tapi aku enggak setuju.” Miska nampaknya benar-benar meluapkan kekecewaannya, aku mendengarkan saja.

Pada kesempatan yang lain, aku bertemu kembali dengan Aqila. Sebelum aku sempat bertanya padanya, kali itu dia sendiri yang memulai. Meminta pendapat bagaimana menanggapi laki-laki yang mencoba mendekatinya itu. “Kalau berani ke rumah dan siap menikah, oke go. But if no, leave,” pendapatku. Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa dia telah benar-benar menjauhi laki-laki itu. Kasus-kasus seperti Aqila sangat banyak. Sekarang ini, laki-laki tingkahnya semakin aneh saja. Perempuan berpenampilan syar’i dan berperilaku santun pun masih coba ingin dijeremuskan. Tetapi syukurlah, Aqila tidak sampai tergoda dan kembali pada yang diyakininya benar untuk mengabaikan laki-laki semacam itu. Lalu apa tanggapan para laki-laki setelah ditolak. Ada yang katanya ‘sok’ bersabar akan tetap menunggu, ada yang tiba-tiba hilang ditelan bumi, ada yang mundur pelan-pelan, ada juga yang justru berkata bahwa kami ‘sok jual mahal’.
Jika Aqila didekati oleh laki-laki yang belum mendapatkan petunjuk, ternyata ada juga perempuan yang didekati justru oleh laki-laki yang ‘katanya ikhwan’. Sebut saja namanya Faizah, dia adalah salah satu anggota aktif dalam lembaga dakwah di kampus. Baru-baru ini, seorang ikhwan sangat sering sekali mengirimkan pesan singkat berisi ungkapan-ungkapan perhatian padanya, sesekali menelfon dan berbicara hal ‘tidak penting’ ketika bertemu tak sengaja di kampus atau dalam sebuah kegiatan. Sang ikhwan sendiri adalah salah satu pengurus inti. Banyak fans dan secara fisik memang oke. Faizah sempat memasukkan sang ikhwan ini ke dalam pikirannya. Sempat bertanya kiri-kanan dan meminta saran bagaimana menanggapinya. Syukurlah Faizah tidak begitu saja menelan mentah-mentah perhatian manis yang dilemparkan si ikhwan itu. Setelah di telusuri ternyata bukan hanya Faizah yang diberikan perhatian serupa dan yang paling mengganggu adalah bahwa pendekatan itu bukan dengan alasan untuk menikah. “Lalu mendekatiku untuk apa?” keluh Faizah.

Istilah yang lagi tren sekarang adalah PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Laki-laki banyak yang digelari istilah itu karena memberikan harapan-harapan palsu pada perempuan, manis-manis diucapan tapi keberanian tindakan tidak ada. Beraninya hanya menggoda dengan kata-kata manis tetapi ketika ditantang untuk menemui orang tua, nyalinya ciut. Apa mereka tidak tahu bahwa perempuan adalah makhluk paling lembut hatinya, mudah tersentuh dan mudah terluka.

Sangat menyedihkan diperlakukan begitu manis oleh laki-laki seolah kita perempuan adalah ikan di dalam kolam yang dapat diumpan dengan kata-kata manis. Sangat menyedihkan diberikan perhatian-perhatian berlebihan oleh laki-laki seolah kita adalah anak ayam kehilangan induk dan laki-laki itu datang seolah pahlawan yang siap memberikan perlindungan

Apakah perempuan-perempuan ini adalah barang di toko yang bebas kalian telusuri harga, kualitas hingga membandingkannya dengan barang-barang lain melalui pedekate tidak jelas sehingga kalian merasa wajar saja jika melemparkan umpan pada banyak perempuan lalu akan kalian pilih satu yang siap menangkap umpan atau yang kalian rasa cocok.

Sungguh, didekati dan diberikan kata-kata manis bukanlah hal yang romantis. Bukan hal yang membanggakan. Bukan hal yang patut membuat kita ikut tersipu-sipu tidak jelas. Justru menyedihkan. So stop it please!

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Perempuan berdarah bugis yang memiliki nama asli Jayanti ini memiliki impian untuk membangun sekolah Islam tak berbayar bagi anak-anak kurang mampu di daerah asalnya, kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Alumnus Unismuh Makassar serta Sekolah Guru Indonesia ini sedang menjalankan tugas sebagai pengelola School of Master Teacher Makassar, salah satu program pendidikan keguruan yang diinisiasi oleh Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa serta mengelola Kolong Ilmu, salah satu program dari Klinik Pendidikan Nusantara, sebuah Komunitas Volunteer yang berupa rumah baca, rumah belajar dan rumah kreatifitas bagi anak-anak pelosok Nusantara yang saat ini tersebar di tujuh titik di Indonesia.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan

Organization