Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengenali Jiwa

Mengenali Jiwa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Dalam surat Asy-Syams, Allah SWT bersumpah dengan berbagai ciptaan-Nya dan ini adalah sumpah terbanyak Allah di dalam satu surat. Tetapi yang paling menarik dari sumpah tersebut adalah, Allah bersumpah demi jiwa serta menyempurnakannya. Dapat diketahui ketika Allah bersumpah dengan satu benda maka benda itu mempunyai posisi yang sangat penting di sisi Allah SWT.

Penyebutan jiwa di dalam surat tersebut memberikan ibrah kepada kita supaya berhati-hati dalam mengelola jiwa karena jiwa merupakan aset penting yang akan menjadi penentu baik buruknya kita di sisi Allah SWT. Jiwa sering kita kenali dengan istilah qolbun atau hati dan hati itu merupakan unsur yang terdapat di dalam tubuh. Akan tetapi banyak sekali di antara kita yang tidak mengenali hatinya sendiri dan bagaimana mengelola hati tersebut sehingga menjadi hati yang tunduk kepada Allah SWT.

Beberapa alasan penting kenapa kita mesti mengenali hati adalah :
Pertama, Al-Qolbu Mahallu Nazhrillah (Hati adalah tempat penilaian Allah terhadap seorang hamba). Allah tidak pernah melihat kepada bentuk fisik kita akan tetapi yang Allah lihat adalah hati kita. Hal tersebut pernah dialami oleh Ammar Bin Yasir sahabat Rasulullah yang hidup dalam siksaan dan tekanan kafir Quraisy. Kedua orang tuanya dibunuh oleh orang-orang kafir karena keteguhan iman mereka kepada Allah SWT akan tetapi kondisi mereka berdua sangat berbeda dengan anak mereka tercinta yaitu Ammar Bin Yasir. Suatu hari siksaan yang dialami Ammar sudah melampaui kekuatan manusia untuk menanggungnya maka terucaplah kalimat kufur akan tetapi hal tersebut menjadikan penyesalan yang sangat mendalam dalam diri Ammar sehingga beliau mendatangai Nabi Muhammad seraya berkata “…Halaktu ya Rasulullah” celaka aku ya Rasulullah, aku telah mengucapkan kalimat kufur karena ketidaksanggupanku menghadapi siksaan yang begitu kecil. Maka Nabi berkata, bagaimana dengan kondisi hatimu? Ammar menjawab, “Demi Allah hatiku tenang dengan keimanan kepada Allah. Nabi mengatakan kepada Ammar tidaklah hal tersebut menggugurkan keimananmu dan kejadian inilah yang menyebabkan turunnya wahyu yang bercerita tentang qaidah “Illa man ukriha wa qolbuhu muthmainnun bil iman” kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanan. Qaidah tersebut memberitahu kepada kita bahwa penilaian Allah kepada seorang hamba adalah bagaimana kondisi hati, jikalau hati itu baik dan berimana kepada Allah maka Allah akan menilainya baik.

Kedua, Al-Hayatu Hayatul Qulub (Kehidupan yang sebenarnya adalah hidupnya hati). Terkadang kita miris dengan kondisi kaum muslimin yang selalu sibuk untuk menata penampilan fisik tapi di sisi lain mereka tidak pernah memperhatikan kondisi hati yang sudah mulai mati dan tidak peka dengan kebaikan sedangkan hati adalah kunci apakah kita hidup di sisi Allah atau tidak. Kesempurnaan fisik tidak menentukan apapun di sisi Allah ketika hatinya masih sakit dan jauh dari Allah SWT. Kualitas kehidupan kita adalah bagaimana kualitas koneksi hati kita kepada Allah SWT.

Masih kuat dalam ingatan kita tentang seorang ulama yang bernama syekh Ahmad Yasin yang bentuk fisiknya lumpuh sejak remaja dan kondisi itu dialami dalam rentang 46 tahun. Fisiknya rusak akan tetapi hatinya hidup, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya beroreantasi kepada Allah SWT. Kelumpuhan tersebut tidak menghalanginya untuk mendapatkan syuhada. Itu semua disebabkan hati yang selalu hidup dan mempunyai koneksi yang kuat terhadap Allah.

Ketiga, Quwwatul Mar’i fi Qholbihi (Kekuatan seseorang terletak pada kekuatan hatinya). Ini adalah gambaran yang pas untuk para pejuang yang sedang berperang di Gaza. Mereka tidak memiliki persenjataan yang kuat sebagaimana yang dimiliki kaum zionis Israel akan tetapi mereka memiliki kekuatan hati yang selalu meyakini dan mengesakan Allah SWT. Tubuh mereka boleh terluka, keluarga mereka banyak yang meninggal dunia akan tetapi itu semua tidak bisa merontokkan kekuatan hati mereka kepada Allah. Maka kekuatan hati adalah kekuatan hakiki yang menjadi tolak ukur kita untuk menjalani kehidupan dengan ketaatan kepada Allah.

Memelihara hati dalam kebaikan sama dengan memelihara seluruh unsur yang ada dalam diri kita dalam kebaikan. Hal itu senada dengan yang disamapaikan Nabi Muhammad SAW dalam hadist : “…Di dalam tubuh terdapat segumpal darah (hati) apabila dia baik maka semua tubuh akan baik dan apabila dia (hati) sakit maka akan sakit seluruh anggota tubuh. Ketahuilah dia itu adalah hati).

Pada akhirnya hati lah yang akan mengantarkan kita berjumpa dengan Allah yaitu orang-orang yang mempunyai hati yang selamat atau qolbun salim.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Ma'had Ali An-Nuaimy Jakarta angkatan ke3. Guru bahasa Arab di Pondok Pesanteren Khalid bin Walid Rokan Hulu Riau.

Lihat Juga

Pesona Selfie dan Hati