Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bangga Jadi Guru!

Bangga Jadi Guru!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Islamic School (Ilustrasi)

dakwatuna.com Menjadi seorang guru merupakan sebuah kebanggaan. Maka beruntunglah orang-orang yang berprofesi sebagai guru. Seperti yang ada di dalam sebuah buku Stop Menjadi Guru karya Asep Sapa’at “Banggalah orang yang berprofesi sebagai guru, punya orang tua guru, suami dan istri guru, anak-anak guru dan bahkan keluarga guru”. Menjadi seorang guru adalah kebanggaan. Karena guru adalah pemberi hikmah, dan hanya orang-orang yang mencari serta mendapat hikmah juga yang bisa menjadi guru sejati.

Hal itu jugalah yang pernah saya rasakan ketika memutuskan untuk bergabung ke dalam sebuah program yang ada dalam divisi pendidikan yayasan amil zakat Dompet Dhuafa, Sekolah Guru Indonesia. Tidak hanya menjadi guru yang hanya bisa mengajar, namun dituntut juga untuk bisa mendidik dan memimpin selama menjadi guru.

Desa Dama, Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara merupakan tempat yang saya yakini akan membawa perubahan besar bagi diri saya. Terlebih amanah yang saya emban untuk kemudian mengubah kondisi daerah penempatan.

Ungkapan rasa iba dan sedihpun saya terima ketika melaporkan kegiatan yang akan dilakukan satu tahun ke depan di dinas pendidikan kota tobelo. “Berani sekali ngoni (kamu). Itu terpencil tempatnya, orang-orang di sini saja tidak mau mengajar di sana” ungkap ibu Maromon Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Utara. Namun dengan percaya diri saya menjawab “Ini merupakan sebuah pengabdian sekaligus perjuangan saya bu”.

Menurut beberapa orang termasuk Maromon mengatakan bahwa Loloda Kepulauan merupakan tanah buangan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sini. Banyak orang yang kemudian minta pindah atau pulang lagi ke kota setelah mendapat tempat tugas di sini.

Banyak hal yang melatarbelakangi kenapa fenomena itu terjadi. Wajar saja jika seseorang ingin mendapat tempat yang “layak” untuk bertugas. Tapi tidak untuk tempat ini, selain tidak ada akses sinyal. Listrik di sini juga hanya menyala dari jam 6 sore sampai jam 11 malam menggunakan diesel. Fasilitas pengembangan diri dan informasi seperti; televisi, internet, buku dan sarana penunjang lain pun masih sangat minim. Ditambah lagi jarak yang harus ditempuh untuk menuju kota dan kecamatan membutuhkan waktu dan biaya yang besar serta kendaraan yang sulit.

Karena saya percaya “seandainya perjuangan itu mudah, maka pastinya akan banyak orang yang mau berjuang dan tentunya akan ada banyak yang namanya pejuang. Namun karena perjuangan itu sulit sehingga sedikit orang yang mau berjuang”.

Ungkapan tersebut merupakan sebuah keniscayaan atas makna sesungguhnya dari sebuah perjuangan. Sebagai seorang relawan saya menyadari betul bahwa ini merupakan pilihan dari jalan hidup saya.

Saya bangga jadi guru! Bangga jadi guru, yang berkarakter, menggenggam Indonesia!

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alvauzi, S.Hum
Relawan pendidikan Sekolah Guru Indonesia (SGI) angkatan ke VI, saat ini sedang pengabdian di desa Dama Kepulauan Loloda, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Pria asli Padang ini lahir bulan Agustus 1991. Jebolan pada salah satu universitas terbaik di sumatera Universitas Andalas jurusan sastra Inggris. Sebelum menjadi relawan SGI beliau juga aktif sebagai relawan pendidikan di daerah asal dan menjadi assisten dosen di jurusan sastra inggris. Pernah menjadi pemakalah dalam konferensi penerjemah international.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Asma Ditha)

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku