Home / Pemuda / Cerpen / Hati yang Terpilih

Hati yang Terpilih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (hayatinanabilah.wordpress.com)
Ilustrasi. (hayatinanabilah.wordpress.com)

dakwatuna.comMasih dalam kebimbangan yang sama. Nayla masih larut dalam syair-syair lagu nasyid pernikahan. Mendadak hatinya meragu, apa yang salah dengan dirinya hingga terasa begitu sulit baginya untuk meniti jalan itu.

“Nayla sudah siap menikah?” tanya Umi Aina pekan lalu. Pertanyaan Murabbiyahku itu sontak menghadirkan desir hebat di hatiku.

“Ng… Insya Allah sudah, Umi. Memangnya ada apa ya, Umi” Umi tersenyum mendengar jawabanku yang setengah yakin.

“Hmm, ini ada ikhwan yang mau cari istri. Insya Allah shalih, bagaimana?” seloroh umi sembari menyodorkan amplop besar berwarna cokelat yang kuyakini isinya berupa biodata sang ikhwan.

“Kalau Nayla memang sudah siap menikah di jalan Allah, silakan Nay pelajari dulu biodatanya. Jika merasa cocok, segera beri tahu Umi agar bisa segera diproseskan ta’arufnya”, sambung Umi Aina.

Deg, seolah darahku mengalir cepat ke kepalaku menghadirkan setumpuk bintang yang berputar-putar di dalamnya.

Dengan mengucap basmalah sembari menarik nafas dalam-dalam, perlahan tanganku meraih amplop cokelat yang diletakkan umi di hadapanku.

“Akan Nay pelajari, Umi. Insya Allah selambat-lambatnya dalam waktu dua minggu ini Nay kabari,” jawabku mencoba meyakinkan hati.

***

Usai menunaikan shalat isya, kuhempaskan diriku di tempat tidur. Kuraih amplop cokelat yang tadi sore diserahkan Umi Aina. Perlahan kukeluarkan setumpuk berkas di dalamnya, dan kubaca biodata yang tertulis di sana.

Masya Allah! Ini kan…? Akhi Fariz?” aku tersentak saat membaca sederet nama yang tertulis di halaman pertama itu. Untuk lebih meyakinkan, kubaca dengan cepat data lainnya dan segera kubuka lembar foto yang terlampir.

“Ya Allah…,” lagi-lagi aku terpekik. Biodata dan foto itu… ternyata milik seorang ikhwan yang sangat kukenal. Akhi Fariz, dulu dia adalah seorang ketua rohis saat aku menjadi mahasiswa baru di fakultasku. Siapa yang tak mengenal Akhi Fariz, lelaki shalih, tegas, dan sangat terjaga. Sepak terjangnya di dunia dakwah kampus pun tak ada yang meragukan. Dan hari ini, saat ini, biodatanya telah sampai ke tanganku. Biodata seorang ikhwan yang kutahu menjadi dambaan banyak akhwat. Subhanallah…

Akhi Fariz, aku tahu dia ikhwan yang baik sangat terjaga. Tapi…

***

“Bagaimana Ukhti Nayla? sudah dilihat biodata ikhwannya?” tanya Umi Aina di halaqah berikutnya.

“Sudah, Umi,” jawabku lemah. Aku tertunduk saat Umi Aina menatapku lembut. Aku sudah menganggap umi seperti ibu kandungku sendiri.

“Lalu, apa sudah dipertimbangkan?” tanya umi lebih dalam.

Lagi, aku terdiam. Senyum lembut dan tatapan teduh umi membuatku ragu untuk menyampaikan apa yang sebenarnya aku rasakan.

“Maaf, Umi. Sebenarnya Nayla sangat tahu kalau Akhi  Fariz adalah lelaki yang sangat baik, selama Nayla mengenalnya dan pernah berkomunikasi dengannya beberapa kali, dia begitu sopan. Keshalihannya pun Nayla tak meragukannya.”

“Jadi, Nayla sudah mengenal Akhi Fariz sebelumnya?”

“Sudah, Umi. Kami pernah satu tim di kegiatan organisasi rohis kampus,”

“Lalu, bagaimana keputusan Nayla terhadap biodata Akhi Fariz?”

“Sekali lagi maaf, Umi. Telah berulang kali Nay mencoba menyelami dasar hati Nay untuk menemukan barang sedikit saja rasa terhadap Akhi  Fariz, tapi hingga saat ini Nay belum menemukannya, bahkan Nay pun sudah istikharah beberapa kali, ” jelasku ragu. Aku takut umi akan marah jika aku menolak lelaki shalih itu.

“Nayla, jika memang Nayla ingin menikah di jalan Allah. Pilihan terhadap lelaki shalih adalah jalan yang tepat. Jika Allah ridha, insya Allah rasa cinta akan hadir di tengah kalian seiring berjalannya waktu, bukankah Nay selalu bilang bahwa cinta dalam pernikahan bisa diupayakan?” lembut senyum umi merasuk hatiku. Aku tertunduk malu mengingat kalimat yang sering kuucapkan saat menjawab keraguan kawan-kawan dalam hal pernikahan yang kini justru kuhadapi.

“Nay takut tidak bisa menghadirkan cinta itu, Umi. Maafkan Nay,” aku menggigit bibir mencoba menahan kalimat yang baru saja terucap.

Lagi-lagi umi tersenyum mendengar jawabku, “Jika Nayla sudah memutuskan seperti itu, tidak apa-apa. Mungkin memang belum jodohnya,” bijak umi.

”Sekali lagi maafkan Nay, Umi

“Tidak apa-apa, Umi mengerti apa yang Nayla rasakan. Memang tidak bisa dipaksakan jika kita merasa belum menemukan kecocokan atau mungkin Nayla memiliki pertimbangan lain yang tidak bisa disampaikan kepada Umi.

Aku tersentak mendengar kalimat umi yang terakhir. Pertimbangan lain? Seketika kuteringat pada sebuah nama. Ya, sebuah nama yang kini bersemayam di hatiku, sebuah nama yang kuharapkan tertulis dalam biodata yang diajukan Umi Aina. Astaghfirullah…

***

“Nayla, sudah siap menerima tawaran ikhwan berikutnya?” tanya Umi Aina setengah bercanda tiga bulan pasca penolakanku terhadap Akhi Fariz.

“Eh, masih punya stok ya, Umi?” balasku bercanda.

“Masih ada beberapa lagi Ikhwan yang minta bantuan Umi untuk minta dicarikan calon istri. Ya, barangkali ada salah satu di antara mereka yang cocok sama Nayla,”

Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan umi. Ada rasa haru singgah di hatiku atas perhatian umi yang berusaha memilihkan jodoh terbaik untukku, memang hingga saat ini dari delapan akhwat binaan umi hanya tinggal aku sendiri yang belum menikah. Namun aku pun malu untuk menerima tawaran umi berikutnya, karena nyatanya aku belum siap untuk menerima ikhwan lain di hatiku. Ya, ikhwan lain selain Akhi Ardi. Seorang ikhwan yang namanya kini bersemayam di hatiku. Seorang ikhwan yang mengajarkan aku banyak hal tentang Islam secara benar sebelum akhirnya aku mengenal Umi Aina yang kini menjadi murabbiku.

Umi…,” panggilku ragu.

“Iya, Nay. Ada apa?”

“Berdosakah bila seorang akhwat memendam kekaguman terhadap ikhwan?” sebuah tanya pun akhirnya keluar dari bibirku dengan sangat hati-hati.

“Tidak, selama kita mengendalikan perasaan kita agar tidak menjadi kekaguman yang berlebihan.”

“Lalu bagaimana jika kekaguman itu telah menjadi sebuah harapan terhadap si ikhwan, Umi?”

“Boleh saja jika kita mengharapkan seorang ikhwan, tapi kita juga harus tahu, akhwat seperti apa yang diharapkan oleh si ikhwan tersebut,” aku terpaku mendengar jawaban umi. Ada benarnya juga. Belum tentu akhwat yang diharapkan oleh ikhwan yang kita harapkan itu adalah kita.

“Nampaknya Nayla sedang jatuh cinta, ya? Hayoo…,” goda umi.

Aku tersenyum, semoga saja umi tak menangkap rona merah di wajahku.

“Berdosakah bila kita jatuh cinta, Umi?” lirihku.

“Jatuh cinta adalah hal yang biasa. Siapa yang membuat kita jatuhlah yang menjadikannya tidak biasa,” jawab Umi Aina tenang.

“Jika memang benar Nayla sedang jatuh cinta, sebaiknya segera dieksekusi,” sambung umi.

“Maksud Umi?”

“Siapa ikhwannya? Biar Umi bantu sampaikan lewat murabbinya.”

Hah?! Haruskah kuceritakan tentang Akhi Ardi kepada Umi Aina? Tentang perasaan yang cukup lama menjadi hiasan di taman hatiku?

“Em… enggak kok, Umi. Nay cuma sekedar bertanya aja kok,” elakku. Kutangkap senyum penuh makna dari wajah umi. Aku hanya tertunduk, kikuk. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini.

***

Aku terpana melihat selembar kertas undangan walimah pernikahan yang tertuju atas namaku tergeletak di meja tamu. Segera kuraih kertas wangi berwarna hijau tua keemasan itu. Muhammad Ardian, kutatap lekat nama yang tertulis sebagai mempelai pria. Ada guncangan yang sangat tiba-tiba menghujam jantungku membuat detaknya berlari semakin cepat.

Kini belum lah saatnya, aku membalas cintamu… sebait syair nasyid berjudul nantikanku di batas waktu berdering dari HPku, sebuah kalimat bertuliskan 1 pesan belum terbaca menghiasi layar ponselku.

Assalamu’alaikum, Ukhti. Tadi ana mampir ke rumah anti. Tapi antinya sedang tidak di rumah. Sudah terima titipan undangan ana? mataku basah membaca SMS yang baru saja kuterima, lalu perlahan butiran-butiran beningnya berjatuhan membentuk lukisan kristal di kertas undangan pernikahan yang masih berada dalam genggamanku.

Wa’alaikumussalam, sudah, Akhi. Barakallah… selamat atas pernikahan Antum. Semoga dilancarkan prosesnya. Ada perih yang kurasakan saat kucoba tegarkan hatiku. Tiba-tiba kuteringat pada Akhi Fariz, lelaki terjaga yang dipilihkan umi untukku yang tiga bulan lalu telah kuabaikan hanya demi perasaanku terhadap Akhi Ardi yang kini justru telah menemukan tulang rusuknya yang bukan ada padaku. Tambah perih ketika teringat taushiyah umi pekan lalu, “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian), maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.“

Umi, Nay patah hati…”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 7,11 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Banjarmasin.

Lihat Juga

Sebutir Noda di Hati