Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Menatap Wajah Kekasih

Menatap Wajah Kekasih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (1hdwallpapers.com)
Ilustrasi. (1hdwallpapers.com)

dakwatuna.com Pernahkah kalian menatap pasangan kalian saat si dia sedang tidur – bagaimanapun pose tidurnya-? Saat suami sedang pulas terlelap dan tak menyadari betapa seringnya kita menatapnya saat tidur – bahkan saat terbangun tengah malam, kita sering melirik si dia, memastikan ia di samping kita. Entah membetulkan letak selimut, memindahkan posisi tangannya, atau kembali memeluknya dalam tidur.

Apa yang terlintas dalam benak kalian ketika menatap kekasih yang sedang terlelap? Mengamati bentuk alisnya yang ternyata terlebih tajam, iseng menghitung jumlah jerawatnya atau bahkan mengusapnya dahinya pelan agar makin terlelap. Sementara kita tak kunjung memejamkan mata dan asyik sekedar menatap wajahnya penuh cinta. Bukan wajah itu mungkin yang membuat kita jatuh cinta pertama kali padanya. Tapi cinta itu tumbuh seiring kehadiran wajahnya yang meneduhkan.

Di luar semua itu, ada hal-hal non fisik yang kita amati dan rasakan saat menatap pasangan kita tidur. Menatap wajah lelahnya usai berjibaku dengan pekerjaan agar dapur tetap mengepul. Menatap warna kulit tangannya yang makin gelap karena berkendara sepeda motor. Mencoba menebak isi pikiran dalam kepalanya yang bersisian dengan kepala kita, begitu dekat, namun tak selalu dapat kita jangkau seberapa banyak kekhawatirannya – yang jarang sekali ia tunjukkan di hadapan kita. Yang kita tahu, lelaki kita selalu mencoba menenangkan kekhawatiran-kekhawatiran kita tentang ini itu. Meyakinkan kita bahwa semua akan baik-baik saja, meski kita sendiri tak pernah benar-benar tahu seberapa besar badai dalam pikirannya.

Ah, meski sering kali sebagai istri kadang kitapun melakukan hal serupa. Mencoba menenangkan kegelisahan pasangan kita dan mendukungnya sepenuh hati. Saat itu, kita tahu, kita sebenarnya sedang menenangkan diri kita sendiri. Keyakinan pasanganlah yang kembali mendorong kita untuk yakin, semua selalu ada jalan keluarnya. Semua lelah selalu bisa berkurang dengan istirahat. Lapar bisa hilang dengan makan. Luka dan sakit selalu ada obatnya. Panas dan dingin selalu menyisakan tempat berteduh. Dan menatap wajahnya saja saat tidur, bisa mengurangi segala keresahan kita. Berganti syukur panjang atas segala nikmat Tuhan.

Jika menatap wajah suami saat ia tidur saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita. Bagaimana dengan banyak hal lain yang Tuhan berikan melalui sosoknya? Sungguh, bersyukur adalah salah satu cara tersantun menikmati semua rasa dalam rumah tangga. Lainnya? bersabar tentu saja. Tapi, kondisi manakah yang lebih sering menghampiri kita? Rasanya semakin kita bersyukur, cinta-cinta itu tumbuh makin subur.

Saya suka menatap wajahnya saat ia tidur seraya berterima kasih pada Tuhan telah menghadirkannya dalam hidup saya. Menatapnya saja sudah menenangkan. Meski lelah seharian dengan pekerjaan rumah tangga, meski sering mengeluh ini itu memintanya turut membantu, suami berkorban lebih banyak dibandingkan kita. Pikiran dan tenaganya tercurah untuk keluarga. Hingga saat ia pulang, saat ia ingin merefreh tubuh dan jiwanya, bertemu kekasihnya yang meneduhkan. Kita justru kadang suka salah menyambutnya, balas meminta perhatian lebih karena merasa menjadi orang paling lelah bagi keluarga. Betapa manjanya kaum perempuan itu, selalu membutuhkan limpahan perhatian dari pasangannya. Begitulah siklusnya, seperti halnya kita butuh perhatian, para suami juga membutuhkan pengakuan.

Hmm, ini hanya perkara menatap wajah kekasih saat ia tidur. Kadang kala sakinah muncul dari hal sepele bukan? Ada cinta dalam wajah lelahnya. Ada kasih sayang dalam wajah pulasnya. Merasakan cinta yang melintasi hati saat menatapnya. Cinta yang semoga mengantarkan kita pada ketaatan pada suami. Meski kadang taat- menuruti keinginan suami- terasa begitu berat ketika berseberangan dengan pendapat kita. Dalam hal sepele sekalipun. Bukankah para istri terkenal dengan kengeyelan dan kecerewetannya? Ah, itu bukan bahasan sekarang.

Tataplah pasangan kita saat ia tidur, sungguh itu saja sudah menenangkan dan membuat kita banyak bersyukur.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 7,64 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ochikohumaira
Ibu rumah tangga bahagia

Lihat Juga

Valentine’s Day, Hari Kasih Sayang Kok Merusak?