Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Beristighfarlah (Bagian ke-3)

Beristighfarlah (Bagian ke-3)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: konihospitality.com)
Ilustrasi. (Foto: konihospitality.com)

dakwatuna.com – Beristighfarlah. Untuk pakaian kesombongan yang kita kenakan. Untuk lagak congkak yang kita tampilkan. Karena pengaruh kekayaan, tak sudi memakai pakaian murahan. Karena kendali jabatan, ogah memakai pakaian orang kebanyakan. Ingin beda! Harus beda dari orang lain. Karena saya bukan orang sembarangan.

Beristighfarlah. Karena hanya Allah yang berhak sombong. Hanya Allah yang berhak dengan kebesaran. Karena hanya Dialah yang memiliki segala kebesaran dan kemuliaan. Semoga dengan istighfar kita, Allah mengampuni segala laku lagak kita yang berlebihan. Dan menolong kita menjadi hamba yang rendah hati dan merasa cukup dengan kesederhanaan.

Beristighfarlah. Untuk tatapan syahwat yang kita umbar. Untuk pandangan liar yang diperturutkan. Pada segala yang dilarang. Karena bukan hak kita untuk memandang. Sementara Allah memerintahkan kita untuk selalu menjaga pandangan dari hal-hal yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya…’” (QS. an-Nur: 30-31).

Serahasia apa pun tatapan kita, tak akan luput dari pengawasan Allah. Setersembunyi apa pun arah pandangan kita, Allah mengikuti, mencatat dan memperhitungkan balasannya. Sehalus apa pun lirikan dan keterpanaan, Allah mengetahuinya. “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19).

Beristighfarlah. Untuk perselisihan yang kita kobarkan. Yang telah menyulut kebencian dan permusuhan. Yang telah menimbulkan penderitaan pada jiwa dan perasaan. Yang telah meretakkan hubungan persaudaraan, pertemanan, kekerabatan, dan ketetanggaan. Yang telah memutuskan jalinan persaudaraan. Yang telah merusak bangunan persatuan dan kebersamaan. Yang telah menodai rasa saling percaya. Yang telah merenggangkan keeratan persahabatan. Yang telah mengeruhkan suasana saling menghargai dan menghormati.

Padahal mulanya, kita saling mengasihi dan menyayangi. Saling mengerti dan memahami. Saling membela dan melindungi. Sesuka seduka. Senasib sepenanggungan. “Perumpamaan orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh menderita sakit maka seluruh bagian tubuh merasakan penderitaannya, tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Lantas mengapa kita berselisih dan saling menjauh?

Beristighfarlah, dan ishlahlah. Kembalilah ke dalam jalinan cinta yang tulus. Yang didorong rasa ingin memberi dan berbagi. Untuk bersama-sama menegakkan bangunan kebaikan dan pilar-pilar kashalehan. Karena sesungguhnya kita bersaudara. “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujurat: 10). Karena sesungguhnya kita satu kesatuan yang saling menegakkan dan menguatkan. “Seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya adalah bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Tidak halal bagi kita mendiamkan sesama mukmin dalam konflik yang berlarut-larut. Apalagi sampai bermusuhan dan saling membenci. Ingatlah wasiat junjungan kita yang mulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah kalian saling membenci dan janganlah saling iri hati. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra.). “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Sebaik-baik kalian adalah yang memulai salam.” (HR Imam Bukhari dari Abu Ayyub Al-Anshari ra.).

Beristighfarlah, dan mulailah hari baru dalam keeratan cinta dan ukhuwah di antara kita. Saling berjabat tanganlah. Saling berpelukanlah. Rasakan gelora cinta yang teramat kuat bahwa kita adalah hamba-hamba Allah yang saling mencinta. Rasakan. Rasakanlah betapa indah dan nikmatnya ishlah. Maka air mata pun menetes bahagia. Inilah nikmat persaudaraan yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Nikmat yang tidak akan mungkin didapatkan di luar ini.

Beristighfarlah. Untuk amalan asing yang kita hidup-hidupkan. Yang kita bangga-banggakan, dan menganggap ini bagian dari ajaran agama. Padahal, kita mendapatinya dari tetua. Konon, dahulu, secara turun-temurun. Agama bukanlah soal keturunan. Ia adalah ilmu yang mendatangkan keyakinan. Maka beramallah dengan landasan ilmu. Bukan mengira. Atau, meraba-raba. “Barangsiapa mengada-adakan hal baru dalam urusan (agama) yang tidak ada landasan hukumnya, maka ia tertolak.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ummul Mukminin A’isyah Ra.). Beristighfarlah dan mohon ampunlah kepada Allah. Dan berusahalah memperbaiki keberagamaan kita. Mudah-mudahan dengan istighfar ini, Allah mengampuni dan memperbaiki amal-amal kita.

Beristighfarlah. Untuk sunnah yang kita lupakan. Untuk amalan dicintai Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kita abaikan. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk selalu mengikuti sunnah-sunnah beliau. Allah berfirman, “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu ambillah. Dan apa saja yang dilarangnya tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr: 7). Dan Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan  Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS Ali ‘Imran: 31).

Beristighfarlah. Untuk kesia-siaan yang kita lakukan. Yang telah membuat kita terlena. Dalam aneka permainan. Dalam segala macam kesenangan yang melalaikan. Hanya karena suka. Atau karena terbawa. Sementara usia merambat terus tanpa memberi tahu kapan ajal ‘kan tiba. Dan ketika ia datang, ia datang tanpa menunda. Ia muncul tanpa menunggu taubat dan persiapan kita. “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. Imam Tirmidzi).

Beristighfarlah. Untuk kekosongan waktu yang kita lewatkan dari amal shalih dan kebaikan. Yang kita biarkan berlalu tanpa ada apa pun yang kita kerjakan dari amal-amal kebaikan. Justru, kita asyik dengan kesantaian dan keberlehaan. Tak tergerak untuk mengisinya agar kedatangannya memberi makna pada hidup dan mati kita. Padahal, junjungan kita telah mengingatkan dalam sabdanya, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya, ialah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Imam Bukhari).

Maka, beristighfarlah. Dan bangunlah untuk beramal. Waktu adalah aset yang diberikan Allah secara cuma-cuma. Tapi petaka akan diderita bila kita tak pandai mengelola dan memanfaatkannya untuk amal dan keshalehan. Semoga istighfar dan usaha perbaikan kita mendatangkan ampunan Allah dan Ia berkenan memperbaiki kita untuk rangkaian waktu demi waktu yang datang berikutnya.

Beristighfarlah. Pada kesendirian kita. Pun  di tengah keramaian. Karena keimanan kita tidak dibatasi ruang dan waktu juga situasi. Istighfar kita menandakan keimanan masih bersama kita. Semoga Allah memberikan petunjuk dan pertolongan-Nya dalam keadaan apa pun kita.

Beristighfarlah. Karena ada janji Allah di baliknya. Janji-Nya akan ampunan. “Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Muzzammil: 20).

Beristighfarlah, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat. “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. an-Nashr: 3).

Beristighfarlah dan akui kekeliruan kita. Seperti penyesalan orang tua kita,  Adam dan Hawa ketika menyadari bahwa mereka telah berbuat aniaya terhadap diri sendiri dengan memperturutkan keinginan nafsu. Maka, mereka pun berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 23).

Beristighfarlah. Mohon ampunlah dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Allah Ta’ala tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

Semoga lantunan lirih istighfar-istighfar kita menyebabkan turunnya ampunan Allah hingga dihapuslah dosa-dosa kita karena rahmat dan kasih sayang-Nya. Selama kita tidak syirik kepada-Nya, maka Allah menjanjikan ampunan itu bagi kita. Asal disertai ketulusan dan kejujuran hati. Karena Allah Maha Pengampun. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48). Wallahu A’lam Bish-shawab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ayah dari tiga orang puteri (Asma, Waffa, dan Aisyah). Lahir di Kuningan, Jawa Barat. Kini tinggal di Bogor.

Lihat Juga

dzikir

Memperbanyak Dzikir dan Istighfar