Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hidayah-Nya

Hidayah-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (grandstrandvacations.com)
Ilustrasi (grandstrandvacations.com)

dakwatuna.com Sejenak sangat miris melihat kondisi masyarakat sekarang ini. Betapa tidak, ketika iqomah dikumandangkan masih terlihat orang-orang sibuk dengan rutinitas sendiri. Bahkan, saat tempat tinggal mereka berdekatan dengan masjid atau mushola tempat didirikannya shalat berjamaah, hanya berjarak beberapa meter dari rumah, sebab hati yang belum terketuk, sehingga begitu berat melangkahkan kaki menuju rumah-Nya yang mulia.

Fenomena ini kita temui di zaman sekarang. Orang yang tinggal berdekatan dengan masjid atau mushola masih terasa berat berjalan untuk ikut shalat berjamaah. Bagaimana dengan orang-orang yang rumahnya berjarak lumayan atau bahkan jauh dengan masjid? Apakah mereka lebih berat lagi menggerakkan kaki untuk melangkah?

Bukankah telah sampai kabar tentang orang-orang yang berjalan menuju rumah-Nya akan dibalas dengan balasan kebaikan yang berlipat ganda?

“Barangsiapa yang pergi ke masjid pada waktu pagi atau sore hari, maka Allah pasti sudah menyiapkan tempat untuknya di surga, setiap kali ia pergi pada waktu pagi atau sore hari” (Hr. Muttafaqun ‘Alaih)

Hadiah berupa surga telah disiapkan. Namun, manusia tak menyadarinya. Rasa malas dan enggan masih menempel di dalam diri yang penuh dosa. Sehingga sangat berat menggerakkan anggota badan untuk menghadiri panggilan-Nya. Itu semua disebabkan karena masih terkuncinya hati manusia dari hidayah-Nya.

Apa jadinya jika hati tetap terkunci dari hidayah-Nya? Apakah kebahagiaan di dunia dan akhirat akan menghampiri, jika sang insan terus terjerumus pada hal-hal yang Dia murkai dan melanggar semua perintah-perintah-Nya?

Hidayah memang hak Allah untuk memberikan kepada makhluk-makhluk-Nya. Namun, manusia tidak boleh bermalas-malasan dengan dalih menunggu hidayah itu turun. Tetapi, berusaha agar hidayah itu diterima dalam segala amal kebaikan yang diperbuatnya.

Cara-Nya memberikan hidayah ada dua. Dengan cara kebaikan dan keburukan. Tentu, kita semua berharap semoga hidayah yang diberikan dengan cara kebaikan. Sebab, jikalau dengan cara keburukan, manusia akan diberikan keburukan terlebih dahulu sehingga dia tersadar dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Hidayah yang diperoleh dengan cara kebaikan yakni usaha-usaha kebaikan yang dilakukan untuk memperoleh hidayah-Nya. Tak salah, jika kita melakukan kebaikan agar mendapatkan hidayah-Nya. Salah satunya berupa kemanisan dan kelezatan ibadah ketika bersama-Nya.

Adapun hidayah yang diperoleh dengan cara keburukan yakni segala aktivitas buruk yang membuat manusia tersadar. Namun, dia terlebih dahulu mengalami berbagai hal buruk yang menimpa dirinya sendiri.

Hidayah yang manakah yang kita pilih? Akankah kita ditimpa keburukan terlebih dahulu agar berharap hidayah datang? Ataukah kita berusaha tetap melakukan kebaikan agar hidayah-Nya dengan mesra menghampiri orang-orang yang selalu mendekatkan hatinya dengan kebajikan?

Setiap orang tak bisa memberikan hidayah. Bahkan seorang nabi dan rasul pun diutus bukan untuk memberikan hidayah. Tetapi, mereka diutus untuk menyempurnakan akhlak setiap kaumnya.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” (Hr. Ahmad dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam ash-Shahihah)

Itulah pengakuan langsung yang terlontar dari lisan seorang yang patut dijadikan teladan dari dulu, sekarang hingga hari mendatang. Dia diutus untuk menyempurnakan akhlak. Urusan hidayah pun dia serahkan sepenuhnya kepada Sang Pemilik Hidayah.

Hak penuh hidayah ada di Sang Pemilik Hidayah sehingga wajarlah jika ditemui orang-orang yang belum terketuk pintu hatinya untuk segera menghadap-Nya tatkala iqomah berkumandang. Walaupun hanya dengan beberapa langkah dari tempat tinggalnya menuju tempat beribadah umat muslim.

Mereka terlalu asyik dengan urusan dunia menyebabkan lalai dengan urusan akhirat. Dunia mengalahkan akhirat. Apakah itu benar? Padahal dunia ini hanya tempat singgah sementara menuju tempat yang kekal dan abadi kelak.

Di dalam kalam-Nya tertulis dengan jelas,

Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu dari dunia.” (Qs. ad-Dhuha: 4)

Ayat di atas menyatakan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia. Sebab dunia hanya bersifat fana dan tak kekal. Tidak seperti akhirat yang kekal dan abadi bahkan kebahagiaan yang sesungguhnya itu, kelak ketika berada di surga. Dan, kesedihan yang sesungguhnya kelak ketika berada di neraka.

Mungkin masih teringat dengan salah satu pepatah yang mengatakan,

“Jikalau kita menanam padi maka rumput ikut tumbuh. Tapi, jika kita menanam rumput, padi tak akan ikut tumbuh”

Sebuah pepatah yang mengajarkan kepada kita. Jikalau mementingkan urusan akhirat maka urusan dunia akan mengikuti. Tapi sebaliknya, jika mementingkan urusan dunia, urusan akhirat tak akan mengikuti. Semoga hidayah-Nya selalu terlimpahkan kepada kita semua lewat kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat demi meningkatkan ketakwaan insan kepada Sang Khalik.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia