Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Film Tanpa Skenario

Film Tanpa Skenario

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Sri Wahyuni)
Ilustrasi. (Sri Wahyuni)

dakwatuna.com – RPP (Rencana Program Pembelajaran) adalah hal yang tidak asing lagi bagi kalangan guru. Dalam RPP, semua proses pembelajaran telah tersusun rapi.  Ibarat film, RPP adalah skenario jalannya pembelajaran yang dilakukan oleh sang guru di dalam kelas.

Film tidak akan tercipta tanpa adanya skenario yang tersusun rapi. Begitu juga dengan pembelajaran di kelas. Tanpa adanya RPP yang menjadi panduan guru dalam mengajar, maka proses transfer ilmu itu tidak akan berjalan sistematis. Guru bukanlah robot yang otaknya terprogram sistematis sehingga dapat mengingat semua hal yang harus disampaikan selama proses pembelajaran. Karena guru adalah manusia. Jadi, agar semua target dalam pembelajaran dapat tercapai, maka alur belajar itu harus dirancang dan tertulis sedemikian rupa di dalam RPP.

Tanpa RPP, guru hanya akan mengajarkan apa yang diingatnya saja. Dengan tidak adanya RPP, guru akan menjelaskan materi pembelajaran seadanya karena memang tidak ada perencanaan sebelumnya. Padahal, dalam proses pembelajaran itu, ada tahap-tahap yang harus dilakukan secara sistematis oleh guru agar hasil belajar anak dapat maksimal.

Di awal pembelajaran, sangat diperlukan apersepsi agar anak tidak langsung masuk ke zona otak yang serius. Anak diajak perlahan memasuki proses pembelajaran serius dengan memberikan pancingan menarik ketika pembelajaran dimulai. Beda materi yang diajarkan, beda apersepsi yang dilakukan diawal pembelajaran. Agar apersepsi yang kita lakukan sebagai pancingan di awal pembelajaran sesuai dengan materi yang akan diajarkan, maka perlu direncanakan. Ada tidaknya guru mempersiapkan apersepsi yang tepat, maka dapat dilihat didalam RPP yang dibuat oleh guru tersebut.

Setelah anak terpancing dengan apersepsi yang diberikan guru, pembelajaran akan masuk ke materi inti. Dalam proses pentransferan ilmu ini, ada metode yang digunakan oleh guru dalam pelaksanaannya. Beda materi, berbeda pula metode yang dipakai dalam proses pembelajaran. Metode apa  yang akan dipakai dalam proses belajar mengajar ini, maka hal ini juga tercantum di dalam RPP yang dibuat guru.

Terkait metode pembelajaran, apakah itu student center learning ataupun teacher center learning, ada model-model pembelajaran yang mengiringi metode pembelajaran tersebut. Model pembelajaran seperti apa yang akan dipakai dalam proses mengajar oleh guru harus disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Apapun model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam mengajar, semuanya juga tertuang di dalam RPP.

Selain menggunakan model pembelajaran yang tepat, dalam proses mengajar guru juga harus menggunakan alat peraga yang sesuai untuk memudahkan anak-anak memahami materi yang akan diajarkan. Alat peraga yang sesuai dengan materi pembelajaran juga harus dirancang dan dipersiapkan.

Jikalau tidak ada RPP yang yang berisi tentang alat peraga yang akan digunakan, tentu guru tidak akan mempersiapkan alat itu sebelumnya. Jadi dengan adanya RPP yang telah dirancang, guru dapat menyiapkan alat peraga sebelum proses pembelajaran yang dilakukan. Dengan demikian, ketika hendak mengajar, guru bisa langsung menggunakannya.

Materi pembelajaran itu tidak hanya sekedar akademik, tetapi akhlak anak juga harus dibangun. Hal ini bertujuan agar anak tidak hanya cerdas dari segi otaknya saja, tetapi juga dari segi moral. Apalah arti kecerdasan seorang anak tanpa diiringi kecerdasan spiritualnya. Oleh karena itu, nasehat dan  pesan moral juga sangat penting disampaikan dalam proses belajar. Hal ini juga tercantum di RPP di bagian penutup pembelajaran.

Setelah pembelajaran dilakukan, guru memberikan evaluasi dan penilaian kepada siswa untuk mengetahui hasil belajar. Instrumen tes seperti apa yang akan dipakai oleh guru dalam penilaian ini, semua rancangannya juga tertulis di dalam RPP.

Oleh karena itu, jika guru tidak membuat RPP, maka proses pembelajaran tidak akan berjalan lancar. Proses belajar akan terasa sangat membosankan jika guru tidak mempersiapkan pembelajaran yang menarik. Jadi jika guru hanya berceramah di depan kelas tanpa melibatkan siswa, maka siswa akan mengalami kejenuhan dalam belajar. Dengan demikian, tidak dapat disalahkan jika ada siswa yang mengantuk dan bermain dalam belajar untuk menghilangkan kesuntukkannya.

Oleh sebab itu, agar proses pembelajaran terasa lebih hidup, maka guru harus merencanakan pembukaan pembelajaran dengan apersepsi yang menarik yang kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dengan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Semoga dengan persiapan mengajar yang baik, maka para siswa pun dapat menikmati apa yang telah dipersiapkan oleh sang guru untuknya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

(Video) Sebuah Iklan Media Diduga Merupakan Kode Rencana Kudeta di Turki