Home / Pemuda / Cerpen / Goresan Hati

Goresan Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)
Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

dakwatuna.com – Aku wanita yang berumur lima puluh tahun. Meski aku tak bisa lagi dibilang muda, tapi kebanyakan orang mengatakan aku masih cantik. Tubuhku masih ramping, tak melebar kesana sini seperti wanita seusiaku.

Meski aku dinilai cantik dan ramping, tapi itu tak membuatku bahagia. Tubuhku yang tidak melebar kemana-mana itu karena memang aku tidak memakai KB yang dapat menyebabkan badanku menjadi besar. Lagipula, bagaimana mungkin aku memakai kontrasepsi itu jikalau hingga saat ini pun aku belum dikarunia anak. Anakku memang sudah tiga, tapi tidak satupun yang lahir dari rahimku. Jadi aku merasakan belum menjadi ibu yang sesungguhnya.

Anak pertama kudapatkan dari sebuah rumah sakit. Di saat itu, dikala kupergi menemani Ibunda berobat kerumah sakit bersama suami tercinta, ternyata ada seorang perempuan malang yang melahirkan namun tidak sanggup membayar tagihan biaya persalinan itu. Karena itu, suami perempuan itu hendak memberikan anaknya kepada kami, dan itu berarti kamilah yang membayarkan semua tanggungan persalinan wanita itu.

Karena saat itu, di umurku yang sudah dua puluh delapan tahun, di saat usia pernikahanku telah tiga tahun dan belum dikarunia anak, makanya kuterima tawaran itu bersama suami. Kala itu, meski kami tidak memiliki uang tunai, akhirnya kami sepakat menjual sepeda mtor buntut yang kami punya.

Jika dilihat sekarang foto anak itu, dia persis seperti suamiku. Wajahnya begitu mirip. Meski dia bukan anak kandung kami, tapi sepertinya cinta suamiku pada anak itu membuat bocah malang itu mrirp dengan suamiku. Saat ini, anak yang kami namai Dafa itu sedang bertugas di perbatasan. Dia telah menjadi Tentara. Dia mewarisi cita-cita suamiku yang kini menjadi ayahnya. Sedari kecil, suamiku ingin menjadi tentara. Tapi karena terhalang restu orang tua, akhirnya kini dia hanya menjadi guru, sama sepertiku.

Anak kedua dan ketiga bukanlah anak yang kuasuh sedari kecil seperti Dafa. Dua anak perempuan yang kini kusebut sebagai anakku adalah anak dari kakak suamiku. Karena keterbasan ekonomi juga, akhirnya anak itu dipercayakan kepada kami. Berbeda dengan Dafa, karena kedua anak itu baru kuasuh setelah mereka besar. Itu berarti, mereka mengetahui bahwa aku bukan ibu kandungnya. Tentang rahasia Dafa yang bukan anak kandungku, semoga hal ini takkan pernah terbongkar dan tidak diketahui Dafa sampai kapanpun.

Sekali lagi, karena saat ini aku masih belum memiliki anak yang lahir dari rahimku, kebahagiaan itu belum lengkap. Aku bersama suami telah berusaha berobat ke manapun untuk segera mendapatkan anak. Tapi sayang sekali, hingga saat ini, usaha kami belum membuahkan hasil.

Pernah di suatu malam, dikala kami telah berputus asa atas doa kami yang tak kunjung diijabah Tuhan, suamiku mengucapkan kata yang tak pernah kuduga sebelumnya.

“Dek, sepertinya Allah belum percaya dengan kita. Hingga saat ini kita belum mendapatkan momongan. Padahal sudah bertahun-tahun kita menikah.”

“Sabar bang. Selain berusaha, kita juga harus berdoa. Jika tidak sekarang, mungkin nanti kita akan mendapatkan anak seperti yang kita mau.”

“Tapi kita telah berusaha, Dek. Apalagi yang kurang. Mungkin Allah menginginkan hal yang lain dari kita.”

“Maksud abang?” Tanyaku karena tak paham dengan apa yang dia ucapkan.

“Mungkin lebih baik aku beristri lagi dan kamu pun bersuami kan lagi. Mungkin kondisi kesuburan kita masing-masing membuat kita tidak memiliki anak. Sebagai lelaki, tentu tidak …”

Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Kata-katanya tak tersambungkan karena air mata telah membanjiri wajahku. Aku pun tak sanggup berkata-kata.

“Maafkan Abang, Dek. Abang tak bermaksud melukai hatimu. Tapi kenyataan ini harus kita terima. Mungkin dengan bersuamikan orang lain, kamu bisa mendapatkan keturunan seperti yang kau mau. Begitu pun aku. “

Aku masih belum berkomentar tentang kata-kata yang telah dia ucap. Tidak berfikirkah dia tentang apa yang kurasa saat ini. Kenapa dia begitu tega menyuruhku bersuamikan lagi dengan orang lain. Tentu aku harus bercerai dulu dengannya. Tapi bagaimana mungkin. Aku begitu mencintainya.

“Aku tahu tentang apa yang Abang rasa saat ini. Aku tahu kebahagiaan Abang belum lengkap karena kita belum sanggup meiliki anak. Meski kebahagiaan itu belum seutuhnya kita miliki, tapi aku tidak ingin bersuamikan orang lain, Bang. Aku rela tak memiliki anak asal tetap bersamamu, daripada memiliki anak bersama orang lain.”

“Ya Dek, Tapi..”

“Tapi apa Bang?” Aku memotong pembicaraannya. “Bukankah sudah pernah kukatakan, aku hanya akan bersuamikan satu kali. Jika Abang memutuskan untuk bersama wanita lain, tapi aku tidak Bang. Meski nanti Abang lebih memilih wanita lain, aku takkan seperti itu Bang. Biarkan saja aku hidup sendiri tanpa ada suami lagi di sampingku.”

Air mata telah membasahi kasur berwarna hijau itu. Jelas air mataku memberikan warna beda pada seprai tak bermotif itu.

“Jika Abang hendak meninggalkanku dan ingin hidup bersama wanita lain, tak mengapa bagiku Bang. Mungkin ini sudah takdirku. Mungkin sudah suratanku harus hidup seorang diri. Tapi nanti jikalau Abang tidak jua memiliki anak bersamanya dan ingin kembali hidup denganku, aku akan ikhlas menerima Abang kembali. Aku akan mengabdikan hidupku lagi untuk Abang, satu-satunya lelaki yang paling aku cintai di dunia ini.”

Mendengar ucapan yang keluar dari mulutku, maka dia pun merangkulku.

“Maafkan Abang, Dek. Tak ada maksudku hendak melukai hatimu. Tak bermaksud pula Abang nak membuat kau menangis seperti ini. Jika kita berpisah dan kau memutuskan untuk tidak bersuamikan lagi, mana tega aku membiarkanmu tidur sendiri sedangkan aku tidur bersama wanita lain. Abang masih memiliki hati, Dek. Maafkan Abang yang telah terlanjut mengucapkan kata-kata tadi kepadamu. Abang hanya ingin kita-sama-sama punya anak. Meski itu bukan dari kita berdua. Tapi mendengar ucapanmu tadi, tak sanggup Abang meninggalkanmu.”

“Bang. Ini cobaan bagi kita. Sebesar apapun keinginan kita untuk memiliki anak, tapi jika kita tak meraihnya itu bukan suatu alasan bagi kita untuk berpisah. Aku hanya mencintaimu, Bang.”

“Abang juga, Dek. Sekali lagi maafkan Abang. Apapun yang terjadi, mari kita tetap ikhtiar dan bertawakal kepada Allah. Semoga doa kita segera dikabulkan-Nya.”

“Iya, Bang.” Jawabku masih dalam pelukannya.

Dinginnya malam membuat pelukan kami semakin erat. Angin malam yang bertiup tanpa izin memasuki ruangan, membuat kami tak melepaskan pelukan satu sama lain. Aku sebagai istri akan melakukan kewajibanku kepada suami. Semoga tak lama lagi tangisan anak kecil yang berasal dari rahimku segera mengudara memenuhi ruangan ini.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Ilustrasi. (gallery.naslno.com)

Merasa Bersalah Telah Mengkhianati Suami, Mohon Saran atau Masukan

Organization