Home / Pemuda / Essay / Bermimpilah Sekalipun untuk Memeluk Bulan, Proses Mengajarkan Kita Arti Hebat

Bermimpilah Sekalipun untuk Memeluk Bulan, Proses Mengajarkan Kita Arti Hebat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Q.s. al-Insyirah: 5-6).

Man Jadda Wajada!

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasib mereka sendiri.”(Q.s. ar-Ra’d: 11).

Mbak Gita, itulah nama sahabat mbak Oki Setiana Dewi yang mempunyai semangat begitu luar biasa. Saya benar-benar salut dan terharu saat membaca kisah mbak Gita. Mbak Gita yang telah menyelesaikan program magister hukum S2-nya di UI dengan predikat cumlaude itu, ternyata pernah mendapatkan ranking paling akhir semasa sekolahnya dulu. Mbak Gita pernah mendapat peringkat ke-30. Akan tetapi, pada semester berikutnya, mbak Gita mencoba lebih bersungguh-sungguh dan lebih giat lagi dalam belajar.

Ternyata, mbak Gita dapat peringkat 29. Alias naik 1 peringkat saja. Padahal mbak Gita sudah belajar mati-matian. Tapi meskipun mbak Gita mendapatkan peringkat yang paling bawah mbak Gita tidak sekalipun pernah menyontek. Karena mbak Gita yakin orang yang suka menyontek itu nilainya juga belum tentu baik/bagus. Dosa sudah pasti iya. Tapi hasil belum tentu mendapatkan nilai yang memuaskan.

Bahkan, ketika mbak Gita naik kelas, salah seorang guru berkata kepada mbak Gita, “Kamu naik kelas, tapi dengan bersyarat! Masa percobaan yang kami berikan sekitar 3 bulan dan jika nilaimu masih saja tetap jelek, maka kamu harus rela menjadi siswi abadi di kelas ini.” Kata-kata ini seakan-akan menggelegar bagai guntur di siang bolong. Sehingga wajah mbak Gita terlihat pucat pasi dan tertunduk lesu tanpa syarat.

Menakutkan sekali, bukan?

Setelah masuk SMP, mbak Gita mencoba lebih giat lagi dalam belajar. Dengan keuletan dan ketekunan yang luar biasa, mbak Gita akhirnya bisa masuk SMA Unggulan. Di sekolahnya itu,  mbak Gita mendapat peringkat pertama. Subhanallah… Begitu luar biasa perjuangan mbak Gita. Buah kerja keras serta ketekunan yang simultan ternyata berbanding lurus dengan manisnya hasil yang dicapai.

Nah, di dunia ini, adakah seorang juara yang tanpa melewati proses belajar? Atau, mungkin seorang pengusaha sukses yang mencapai kesuksesannya dengan tanpa berusaha? Atau bahkan seorang pemusik handal yang tanpa melalui penempaan diri yang intens?

Tidak ada keberhasilan yang instan. Ada banyak anak tangga yang harus dinaiki sebelum sampai ke puncak. Ada jalan yang harus di lewati sebelum sampai ke tujuan. Dan percayalah, selalu ada cerita indah di balik kesuksesan yang teraih dari kegetiran usaha yang mengharu-biru .

Melalui proses penciptaan manusia, Allah Swt sesungguhnya telah mengajarkan banyak hal kepada manusia bahwa segala sesuatu pasti melewati suatu proses. Allah Swt mengajarkan kepada manusia agar selalu berusaha dengan melewati sunnatullah dan tidak meraih sesuatu dengan jalan pintas. Apalagi dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.

Jalan pintas dan instan hanya berlaku bagi makhluk yang berhati kerdil. Di antara contoh yang akhir-akhir ini kian banyak kita jumpai di media masa yaitu kasus korupsi. Baru-baru ini dapat kita saksikan pemberitaan di media masa bahwa uang untuk hajipun dikorupsi, Na’udzubillah. Entah di mana nurani orang tersebut.

Dalam kehidupan ini, berlaku sunnatullah yang bernama timbal-balik. Menurut hukum energi, E1=E2. Energi yang masuk sama dengan energi yang keluar. Jadi, semakin banyak usaha yang kita keluarkan untuk meraih sesuatu, sebesar itu pulalah hasil yang akan kita dapatkan. Sebesar apa keinsafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu.

Sekarang coba kita kembali ke kisah mbak  Gita di atas yang nilai raportnya sungguh sulit untuk ditebak. Saya rasa, banyak juga di antara kita yang mengalaminya. Sebagian dari kita pasti pernah mendapatkan peringkat buncit atau penurunan prestasi termasuk saya salah satunya.

Ibarat filosofi penebang pohon. Penebang pohon itu butuh waktu yang lama ketika mengasah goloknya. Sehingga golok yang dihasilkanpun akan tajam sehingga mudah dipakai untuk menebas pohon. Dan seandainya proses mengasah itu asal-asalan dan bahkan hanya sebentar, maka ketajaman golok tersebut tidak mencapai hasil yang maksimal. Akhirnya, pohon yang ditebang itupun membutuhkan waktu yang cukup lama agar tumbang atau bahkan pohon tersebut tidak berhasil untuk ditumbangkan. Begitu juga kehidupan kita.

Semoga tulisan yang sederhana ini bisa sedikit menyirami dahaga para pereguk hikmah pengetahuan sehingga semua orang yang membaca tulisan ini dapat mengambil manfaat. Dengan demikian, marilah berproses untuk menjadi pribadi yang istimewa karena sejatinya upaya kita hari ini sebagai kaca benggala yang memperlihatkan kondisi kita di masa mendatang. Mari gantungkan mimpi setinggi-tingginya dan marilah kita coba untuk meraih mimpi tersebut dengan usaha yang maksimal. La Tu’akhir ‘Amalaka Ilaa al-Ghodi Maa Taqdiru an Ta’malahu al-Yauma.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lilik Maftuhatul Jannah
Siswi MA Muhammadiyah 01 Karangasem Paciran-Lamongan yang baru saja menghadapi beratnya UN. Di samping itu juga aktif di organisasi HPMM (Himpunan Pemuda Muslim Mencorek) dan menjadi penulis cilik di organisasi tersebut.

Lihat Juga

Fahira Idris, Wakil Ketua Komite III DPD (poskotanews.com)

Sudah Saatnya DPD RI Dikuatkan