Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Senyuman Guru

Senyuman Guru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Seorang guru harus mampu menghiasi dirinya dengan senyuman yang tulus dan jujur. Senyum yang ditandai dengan wajah yang berseri, gerak lidah yang sederhana dan tatapan mata yang indah memesona memancarkan cahaya. Cahaya itu menyentuh hati anak didik sehingga suasana yang hadir dalam interaksi antara guru dengan anak didik di dalam atau di luar kelas adalah suasana yang menyenangkan dan mengasyikkan.

Anak didik menginginkan gurunya bisa membuka pembelajaran dengan wajah berseri dan senyuman yang merekah. Kemudian menutup kegiatan pembelajaran dengan wajah berseri dengan senyuman manis serupa. Harapan anak didik ini, mereka lukiskan melalui ungkapan yang ditulis dan dipampangkan secara jelas di dinding kelas masing-masing, di antara tulisan itu berbunyi, “Senyuman guruku adalah semangat bagiku “, “Kita awali pagi dengan senyuman”, dan “ Tiada hari tanpa senyuman”. Tulisan ini sering dilihat dan dibaca oleh guru yang mengajar di kelas tersebut.

Hal ini merupakan nasehat sekaligus teguran pada guru agar selalu memerhatikan performa wajah dalam pembelajaran di dalam kelas. Banyak guru yang telah berusaha memenuhi harapan anak didik ini, tampil dengan wajah berseri dan senyuman manis serta guyonan atau candaan yang benar sebagai pemanis dan hiasan pembelajaran. Dia berusaha menciptakan suasana yang nyaman, ceria dan gembira sehingga membuat anak didik betah berlama-lama dalam kelas bersama gurunya. Namun, tak jarang juga ada guru yang mengabaikan hal penting ini. Mengajar dengan wajah yang biasa, sangat sulit untuk tersenyum, kaku dalam pengajaran, serius tanpa ada selingan yang menghibur, menjadikan suasana kelas tegang, berat dan membosankan. Sehingga anak didik berharap agar pertemuan tatap muka itu segera berakhir.

Senyuman guru bukanlah segala-galanya. Namun segala-galanya dapat diawali dengan senyuman. Kalau guru ingin menarik perhatian dan mengambil hati anak didik dalam mengajar, maka awalilah dengan senyuman. Hal ini merupakan daya tarik pertama untuk selanjutnya guru dapat menyampaikan pelajaran dengan sebaik-baiknya.

Kalau guru ingin berhasil dalam melaksanakan amanah, maka awali kerja keras dengan senyuman merekah dan wajah yang bercahaya. Sehingga kerja itu akan terasa mudah. Yang berat terasa ringan dan yang jauh terasa dekat. Kalau guru ingin bahagia, awali pagi dengan senyuman. Maka Allah juga akan “tersenyum” padanya, meringankan kakinya untuk melangkah, memudahkan hatinya untuk bekerja dan melapangkan jalannya untuk meraih bahagia.

Senyuman guru dalam pengajaran sama halnya dengan bumbu penyedap dalam sebuah hidangan. Betapa hebatnya seorang koki memasak dengan bahan makanan yang berkualitas dan peralatan masak yang cangih. Apabila kokinya lupa atau sengaja tidak memberi bumbu penyedap pada masakannya, maka masakan itu akan terasa tidak enak dan tidak sedap. Orang lain tidak menyukai makanan itu atau kalau harus juga memakannya, mereka menyantapnya dengan terpaksa dan sangat mengecewakan. Demikian juga halnya dengan makanan (pelajaran ) yang dihidangkan (disampaikan) guru di depan kelas. Sekalipun guru tinggi ilmunya dengan mengunakan model pembelajaran yang bervariasi dan dilengkapi dengan peralatan pembelajaran yang modern. Apabila sang guru tidak menyisipi dengan bumbu penyedap mata (senyuman) maka proses pembelajaran terasa hambar dan membebankan anak didik. Kalaupun mereka harus menerima pelajaran, maka anak didik menerimanya dalam keadaan tertekan dan sangat membosankan.

Oleh karena itu, guru tidak boleh meremehkan masalah ini. Meskipun kelihatannya sangat sederhana, namun pengaruhnya sangat besar bagi anak didik dalam belajar merakit masa depannya. Senyuman guru akan memberikan kekuatan fisik dan psikis pada anak didik. Ketika guru tersenyum, maka eneri positif mengalir dalam diri guru, memancar lewat wajahnya dan terus mengalir pada diri anak didik. Senyuman guru akan menghasilkan magnet kuat yang akan menghubungkan hatinya dengan hati anak didiknya.

Senyuman guru akan membangkitkan semangat anak didik dalam belajar karena ketika guru tersenyum maka berarti dirinya menyapa anak didik dengan sapaan yang indah dan memesona sebagai bentuk kecintaan suci yang membahagiakan. Dengan demikian, ada kekuatan penyemangat bagi anak didik dalam menapaki skenario pembelajaran.

Senyuman guru akan melahirkan rasa optimis dalam diri anak didik karena ketika guru tersenyum dan senyuman itu mengalir dalam diri anak didik, maka ada kekuatan luar biasa yang dirasakan anak didik. Senyuman guru sebagai dorongan yang kuat pada anak didik untuk selalu optimis dalam melangkah meraih cita-cita . Anak didik semakin optimis karena mereka berjuang tidak sendirian tapi bersama guru yang mencintai dirinya.

Demikianlah pengaruh hebat bagi anak didik apabila gurunya murah tersenyum, wajah yang indah berseri dan sapaan yang tulus. Makanya wahai para guru, tersenyumlah pada anak didik dengan senyuman yang manis maka senyuman yang sama akan diterima sebagai bentuk cinta mereka pada gurunya, selamat tersenyum.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI