Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Aktivis Dakwah Kampus Manuverlah ke Himpunan Sosial Humaniora

Aktivis Dakwah Kampus Manuverlah ke Himpunan Sosial Humaniora

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)
Ilustrasi – Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

dakwatuna.com Pada perguruan tinggi terdapat macam-macam aktivitas seperti olahraga dan seni, keagamaan, sosial politik, dan campuran dari semuanya. Banyak orang yang memiliki minatnya masing-masing dalam mengasah kemampuannya selama di kampus. Selain menjadi mahasiswa, ia juga akan memiliki identitas lainnya ketika memasuki kelompok tertentu. Salah satunya adalah mahasiswa yang bergelut pada dakwah yang bisa masuk ke ranah manapun. Dirinya disebut Aktivis Dakwah Kampus (ADK) pada bidangnya masing-masing.

ADK yang menentukan untuk aktif di lembaga dakwah, itu merupakan hal yang sudah lumrah, begitupun ADK menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) sudah menjadi tradisi di beberapa fakultas dan tingkat universitas. Sayangnya, ADK masih sedikit pada ranah seni dan olahraga dan masuk himpunan jurusannya masing-masing. Karena sudah menjadi kebiasaan untuk beraktivitas di lembaga dakwah dan sosial politik, tetapi ada satu ranah sosial politik yang masih jarang ADK rela untuk melakukan manuvernya, yakni Himpunan Jurusan/Departemen pada fakultas sosial humaniora.

Fakultas sosial humaniora, fakultas yang belum sepenuhnya dikuasai oleh ADK karena pergulatan cukup keras dalam memenangkan perpolitikannya. Sedangkan, pada fakultas IPA, Kesehatan, dan Sainstek bisa terkondisikan dengan ADK. Kondisinya memang kader ADK pada fakultas tersebut cukup banyak dan bisa didistribusikan pada ranah-ranah dakwah di sana. Berbeda dengan fakultas sosial humaniora, dengan kondisi sosialnya yang tidak mendukung dan jumlah kader tidak terlalu banyak. Akhirnya banyak ADK memutuskan untuk berada di comfort zone, yakni lembaga dakwah dan beberapa orang di on mission kan kepada ranah sosial politik seperti BEM dan BPM. Ditambah ADK yang memang tidak dekat dengan teman sejurusannya karena tidak nyaman dan berbeda pandangan.

Saya memiliki pengalaman pada kasus ini, saya juga kuliah pada fakultas yang penuh dengan pemikiran maupun ideologi yang bermacam-macam ini. Saya memiliki teman yang mencalonkan diri sebagai ketua salah satu departemen. Ketika pencalonan tersebut terdapat tiga kandidat, dua orang dari anak kantin dan satu dari ADK. Teman saya ini pintar akademis dan jago berargumentasi, tetapi dia memiliki kekurangan dalam interaksi dengan teman-teman departemen kami. Saya kaget dari hasil voting kontestasi tersebut, tidak diduga teman saya menang walaupun jumlah suara yang diraih berbeda sedikit dengan kandidat lainnya. Sayangnya, kepemimpinan ini tidak berjalan mulus, banyak pertentangan di sana-sini.

Dari kejadian ini, kami mengambil pelajaran dalam bermanuver di departemen/jurusan. Pertama, bahwa untuk bermanuver ke departemen/jurusan memiliki posibilitas yang cukup tinggi untuk memenangkannya. Kedua, ADK harus jeli melihat peluang pada departemen/jurusan masing-masing agar ada ADK yang bisa di on mission kan. Ketiga, bangun hubungan baik dengan sesama teman departemen/jurusan lintas angkatan dan dosen-dosen. Keempat, aktif di kelas, disiplin dalam mengerjakan tugas, dan menjadikan diri menjadi teladan. Kelima, pahami medan karena pada himpunan mempunyai budayanya masing-masing, biasanya lebih kultural. Semoga pelajaran ini menjadi masukan bagi kader ADK yang bergelut di sosial politik. Saya memahami bahwa dakwah harus memasuki ranah sosial politik untuk menjadikan syiar Islam yang lebih tinggi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Amal
Mahasiswa Sosiologi FISIP UI yang sedang aktif di SALAM UI sebagai Sekretaris Jenderal. Orang yang sederhana untuk terus menjadi pembelajar sampai akhir hayat.

Lihat Juga

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial