Home / Pemuda / Cerpen / Satondaku

Satondaku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasu, (gambarunik.co)
Ilustrasu, (gambarunik.co)

dakwatuna.com – “Ayo ni, kita ke tempat itu segera!” Sefo dengan logat Mbojonya. Pemilik perahu kecil yang kusewa. Tanpa alasan yang jelas mengajakku berangkat selepas subuh. Tak seperti biasanya. Ada raut khawatir yang kutangkap di wajah tuanya.

“Ada apa, Sefo?” Tanyaku tak mengerti. Nama lengkapnya Syafruddin. Namun, kebiasaan suku Mbojo  menghilangkan satu bunyi atau lebih pada akhir kata, termasuk pada nama. Tujuannya, agar lebih menghormati si empunya nama yang dipanggil. Walaupun hanya dengan nama itu saja tanpa embel-embel “pak” atau “ibu” di depannya. Itu sudah cukup membuat yang dipanggil tidak tersinggung karenanya.

“Sebelum jam delapan, kita ni harus sampai di sana!” Untuk mengimbangi ombak, Sefo setengah teriak padaku. Jarakku tak terlalu jauh darinya. Menegaskan bahwa aku benar-benar harus segera ikut.

“Ini ada apa, Sefo? Mengapa kita harus terburu-buru? Bukankah berangkatnya…?” Kalimatku terputus. Jubaidah atau akrabnya disapa Bodi, istrinya, mengiyaratkan untuk mengikuti ajakan suaminya.

“Naya, maira!,”[1]Bodi memanggilku. Segera bergegas! Aku berlari ke dalam rumah. Terburu-buru tanganku mengambil peralatan selam. Masker selam, snorkel, sirip selam dan baju penyelam. Untungnya, kusediakan sejak semalam. Dengan tubuh atletisku, hanya butuh beberapa menit, aku telah berada di atas perahu kecil itu. Waktulah yang akan menjawab mengapa pasangan ini begitu mendesakku. Mendesak untuk segera sampai di sana. Surga kecilku; Satonda.

Ya, tugasku sebagai peneliti muda yang tergabung dalam Tim Riset Ekspedisi Satonda membuatku mengenal akrab keluarga ini. Di rumah mereka yang sederhana kadang menampungku dua atau tiga hari sebelum melakukan penyeberangan ke pulau Satonda.

***

Bola raksasa itu terlihat mendaki kaki horizon. Menandakan pagi beranjak siang. Pupil mataku tak bosan-bosannya menikmati tingkah nakal mereka. Seekor Tongkol dan Baracuda berlompatan. Memburu dan tak henti mencandai ikan–ikan kecil itu. Tanpa terasa, perahu telah bersandar di mulut dermaga. Mataku tertumbuk pada sebuah tulisan di gerbang utama. Tulisan berwarna putih yang bernada asing “Welcome to Satonda Island, Dompu”. Alisku bertaut. Bukan karena tak mampu membacanya. Tapi kenapa kita tak menggunakan bahasa sendiri. Mungkin turis-turis asing akan lebih tertarik dan tentu punya rasa ingin tahu.  Membaca sesuatu yang tak mereka tahu dan asing di telinga mereka. Ya, bisa jadi begitu.

Ah, beberapa bulan, Satonda kini sedikit demi sedikit berwajah baru. Melakukan berbagai riasan di sana sini. Termasuk sebuah tulisan yang dipampang di gerbang. Juga tangga menuju danau yang menurutku terlihat tidak alami.  Di wilayah gerbang utama, aku disambut teriakan Monyet-monyet Abu. Mereka mendekam berkelompok di pepohonan yang ditutupi tumbuhan merambat. Sefo dan Bodi menghampiri bapak yang berdiri di pintu masuk gerbang utama tadi. Bapak paruh baya itu menyodorkan kertas. Wajah-wajah itu menegang sesaat. Kerutan wajah Sefo rasanya bertambah saja. Lelaki sederhana itu tersenyum saat aku mendekat. Ada sesuatu yang seolah berusaha disembunyikannya.

“Ada apa, Sefo?” Hanya gelengan kepala yang kudapatkan. Aku melirik Bodi juga bapak tadi, sama tak ada jawaban. Baiklah, kupikir Sefo perlu waktu untuk bicara. Ia pasti akan segera memberitahuku. Kunikmati sepanjang hari ini dengan melepaskan semua kehausanku. Tak henti kujamahi surga tersembunyi ini. Harta karun terpendam di dalam dan sekitarnya.

Ya..aku saksinya. Saksi betapa pulau ini menyimpan sejuta kekayaan alam yang tak tertandingi. Istana biota laut dan satwa langka tersembunyi di surga kecilku ini. Satonda.

Matahari kian merangkak ke atas. Birunya langit masih setia memayungi bumi. Gumpalan cumulus berkejaran ceria. Seolah tahu keasyikanku bersnokeling riasejak tadi. Namun, aku belum juga memuaskan kerinduanku. Kerinduanku pada sahabat-sahabat; biota laut Satonda. Tak lelah aku mengitari pulau ini. Hamparan karang meja besar dan luas dihiasi karang–karang lunak dan keras lainnya. Acroporidae, Favidae, Xenia sp, Sarcophyton sp, Labophyton sp, Hetractris crispa, Nephtea sp, Capnella sp, dan teman-temannya. Semuanya seolah melambai-lambai. Berlomba mempertontonkan keindahannya. Mengisi dan memanjakan retina mataku. Masya Allah… Maka nikmat mana lagi yang akan didustakan manusia?

Ombak begitu tenang. Sangat menguntungkan tugas risetku hari ini. Sinar matahari ikut menghangatkan air laut yang merendam tubuhku sejak tadi. Hangat dan bening. Kebeningannya membuat bola mataku leluasa menjamah segala yang terpendam di dalamnya. Aku kini berada di pantai barat. Tepat di depan gerbang utama, hamparan karang lunak tumbuh bergerombol memenuhi pesisir pantai. Ikan hias dan penyu sisik berlarian. Bersembunyi pada rerumpun karang-karang. Seolah mengajakku bermain.

***

Beberapa hari kegiatan rutinku meneliti harta karun Pulau Satonda. Mengeruk segala yang ada di perutnya. Tak peduli keadaan mendung atau panas terik. Sama seperti saat ini, dalam rintik gerimis dan cahaya matahari pagi yang redup. Berhari-hari bersnokeling, meriset kekayaan laut di pulau kecil ini. Kini aku akan bertualang di daratan pulau Satonda. Kakiku melalui jalan setapak menuju bibir bukit. Tanpa sadar, kini telah berada di persimpangan.

Di depanku ada tiga pilihan perjalanan. Danau, punggung bukit barat atau punggung bukit timur? Memikirkan Sefo dan Bodi tak datang beberapa hari. Planning risetku pagi ini sedikit terganggu. Bukankah biasanya mereka dengan riang mendatangi penginapanku? Sambil membawa sambal khas Bodi dan rujak yang disebutnya Mangonco.

Aku memilih ke arah kiri. Treking menuju punggung bukit barat. Aneka kupu-kupu dan serangga beterbangan menggodaku. Segera kubidik dan kuabadikan di kameraku. Kulanjutkan perjalanan menuju dataran lebih tinggi di samping kanan. Sedikit demi sedikit, danau Satonda menampakkan dirinya. Terdengar merdu kicauan Srigunting dan kawanan burung lainnya. Sahut menyahut. Berpindah dari ranting ke ranting lainnya.

Tepat di bawah pohon Pulai besar, kuhentikan langkah. Posko II tim riset Ekspedisi Satonda. Masih terlalu pagi, sengaja aku berangkat lebih awal. Menunggu kedatangan tim kunikmati suguhan lukisan-Nya. Danau Satonda terlihat menyerupai angka delapan. Tiba-tiba, dari arah belakang, kulihat Rusa-rusa Timor duduk berteduh dirindang semak belukar. Sangat beruntung bisa melihatnya dari jarak dekat. Segera kubidikkan kameraku.

Hampir sejam berlalu. Tidak seperti biasanya. Ada apa ini? Chris dan Danish belum jua muncul batang hidungnya. Dua orang asing rekan kerjaku dalam misi ekspedisi ini. Aku berbalik arah. Kembali ke posko I. Aku yakin terjadi sesuatu!

***

Chris dan Danish terlihat berbicara serius dengan Sefo. Terlihat pula sekelompok warga. Bersitegang dengan warga. Mereka membawa golok! Ada apa ini?

“Kami akan menggunakan bom ini ni di sini!” Ancam bapak yang memegang golok.

Wa ura…wa ura![2]Dao…kasihan terumbu karang yang ada di sini!” Sefo menenangkan.

“Ini tanah kami, mengapa kami dilarang melaut di sekitar sini?” Sefo berusaha tenang. Dia memang laki-laki tua yang bijak.

“Bukankah kami telah memberikan surat itu beberapa hari yang lalu. Tak ada yang boleh melaut di sekitar sini.” Ujar Chris. Sefo tergugu tak mampu berbicara.

“Ya, pulau ini sudah dijual Republik kepada kami. Sekarang pulau ini dan kekayaan yang ada di dalamnya adalah milik kami.” Danish ikut berbicara. Telingaku seolah tertimpa cairan panas mendengarnya.

“Apa…! Dijuaaaal?!” Aku tak mampu menyembunyikan rasa kagetku. Membuat yang ada di sana sertamerta menoleh padaku. Tubuhku serasa lumpuh. Jadi, selama ini aku telah menjual negeriku.

Dan rintik hujan pun mengamini kami yang menangis. Hujan deras mengguyur bumi, membersamai Sefo dan warga lainnya pulang ke rumah. Aku berlari ke danau Satonda yang kini beriak dengan jutaan jarum-jarum air di atasnya. Berharap deras guyuran air hujan itu akan menghapus segala. Perasaan sedihku, kecewa juga bersalah yang kini menyatu jadi satu. Airmata mengalir tak kalah derasnya dengan hujan yang turun. Hingga jarak pandang terasa begitu sempit. Menumpahkan segala duka dalam jiwa.

Air hujan perlahan reda. Kupandangi landskap terbuka Bukit dan Danau Satonda untuk terakhir kalinya. Hanya memandang bentangan Danau Satonda yang kadang berwarna biru atau hijau. Terlihat Bangau Putih dan Abu berenang kesana kemari menyelam kemudian menyembul kepermukaan danau. Itik- itik liar yang hanya hidup di Danau Satonda yang seolah menghiburku. Mungkin suatu hari, anak-anak negeri ini bisa membeli kembali danau ini. Surga yang tersembunyi.

 

[1] Naya kemari..

2 sudah, sudah…

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Naia Athiyah
Prakstisi pendidikan, guru bantu di sekolah pelosok SDN 29 Manggelewa, Dompu NTB (Sekolah Guru Indonesia angkatan 4, Dompet Dhuafa). Pembelajar. Ingin seperti padi. Makin berisi makin merunduk
  • bill nhuda

    bertele-tele tak jelas…………maksud dan tujuan tulisan ini.

  • Armela Praninditya

    pulau satonda milik siapa? tentu bukan milik saya. pulau satonda sampai saat ini masih milik Indonesia. masuk dalam salah satu kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam NTB (kementerian kehutanan) dan setelah saya konfimasi, tidak ada yang menjual pulau ini. kalimat “jadi selama ini aku telah menjual negeriku?” jika berkenan mohon dikoreksi lagi karena menurut saya kurang pas karena yang mbak ceritakan tentang pulau itu begitu indah (saya saja mupeng mau ke sana) dan tiba2 ada kalimat yang kurang pas. Allahu’alam bish showab.

  • Wandi Apriliyandi

    ini kan hanya cerpen…

  • Adel Teloor

    cerpen fiksi jangan meggunakan abjek yang real membuat rancu dan menimbulkan fitnah jangan membagikan informasi yang tidak atau kurang lengkap sehingga membuat salah mengerti

Lihat Juga

Indonesia, ISIS, dan Manusia Perahu (Rohingya)