Home / Berita / Opini / Berharap pada Sekolah Asing?

Berharap pada Sekolah Asing?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Tawuran, salah satu potret buram dunia pendidikan
Tawuran, salah satu potret buram dunia pendidikan

dakwatuna.com – Kasus Pedofilia terhadap anak di TK Jakarta International School (JIS) beberapa waktu lalu, membuat banyak kalangan terhenyak. Sekolah Internasioal yang diharapkan mampu memberikan pendidikan terbaik bagi generasi, ternyata malah memberikan trauma yang mendalam bagi korban yang merupakan generasi penerus bangsa ini di masa depan.

Sekolah Internasional yang marak di Indonesia, ternyata tidaklah seperti yang diharapkan banyak kalangan. Banyak kalangan yang masih beranggapan bahwa pendidikan Barat menjadi pijakan bagi kemajuan pendidikan dengan pendidikan bertaraf Internasional. Sehingga banyak orang tua yang memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah bertaraf Internasional.

Alih-alih ikut berperan aktif dalam mencerdaskan bangsa, ternyata sekolah-sekolah asing (sekolah bertaraf internasional) ikut berkontribusi melemahkan, merusak generasi bangsa ini. Di berbagai sekolah di negara-negara Barat seperti Polandia, Amerika bahkan di pusat pemerintahan katolik Vatikan, kasus pedofilia juga bukan hal baru. Sering terjadi, bahkan dilakukan oleh pastur dan pemuka agama Katolik.

 

Evaluasi Total

Belajar dari kasus maraknya Pedofilia di Jakarta International School (JIS), semestinya pemerintah mengevaluasi total keberadaan seluruh sekolah asing yang ada di Indonesia.

Semestinya pemerintah bertindak tegas dengan menutup sekolah-sekolah asing yang ada di Indonesia yang tidak mengikuti aturan main, menanamkan nilai, standar dan gaya hidup bertentangan dengan budaya bangsa yang mayoritas Muslim ini.

Keberadaan sekolah asing di Indonesia sangat berbahaya. Dikarenakan akan menjadi sarana efektif untuk penanaman nilai dan gaya hidup yang bertentangan dengan agama dan budaya bangsa. Nilai-nilai yang ditanamkan adalah nilai-nilai liberal dan sekuler. Nilai-nilai liberal dan sekuler terbukti banyak menggerus fitrah kemanusiaan. Sekolah yang semestinya menjadi rumah kedua bagi anak, tempat kedua yang aman bagi anak, ternyata menjadi tempat yang mengerikan. Orang dewasa yang semestinya melindungi anak-anak malah menjadikannya korban nafsu binatangnya. Naluri seksualnya dilampiaskan secara menyimpang. Bukankah ini menunjukkan manusia bisa lebih hina dari binatang?

Sekolah-sekolah asing juga menjadi jalan menundukkan kedaulatan melalui loyalitas anak bangsa yang diarahkan untuk mengagumi dan menggunakan standar Barat untuk menilai segala sesuatu. Standar yang lahir dari nilai di masyarakat Barat  –baik bersumber dari agama maupun ideologi liberal sekular- adalah bertentangan dengan fitrah manusia. Ketika segala sesuatunya mengikuti standar Barat, yang terjadi adalah menilai baik dan buruknya mengikuti standar musuh, bukan mengikuti standar yang datangnya dari Sang Pencipta. Alhasil, anak bangsa akan menjadi pembebek Barat, dan melupakan budaya bangsanya sendiri yang mayoritas muslim, tidak lagi memperjuangkan kepentingan bangsanya sendiri, tetapi menjadi pejuang kepentingan asing.

Hal utama yang menjadi pemicu munculnya penyimpangan seksual di sekolah internasional (JIS) adalah adanya kesempatan. Kesempatan tersebut justru muncul dari standar yang diberlakukan sekolah tersebut. Sekolah Asing ini merekrut tenaga kependidikannya dengan standar kompetensi semata  dan tidak memperhatikan aspek kelayakan mendidik atau memberikan teladan dan mewujudkan keamanan fisik dan psikologis yang sangat dibutuhkan bagi mereka yang bekerja di dunia pendidikan.

Bukti nyatanya adalah buronan FBI William James Vahey yang bisa menjadi staf pengajar di Jakarta International School selama 10 tahun. Kompetensinya sudah tidak diragukan lagi, sehingga ia dengan mudah diterima di berbagai sekolah yang berstandar sama dengan JIS di berbagai Negara. Namun kelayakannya untuk mendidik dan memberikan teladan yang baik, mampu memberikan keamanan fisik dan psikologis tidak ada.

Adalah hal yang sangat berbahaya ketika sekolah-sekolah asing dijadikan sarana untuk melakukan upaya pendangkalan akidah, pemurtadan, kristenisasi dan sekularisasi, serta menjauhkan kaum Muslim dari Islam, pemikiran dan hukum-hukumnya. Hal yang sangat nyata dan tak terbantahkan adalah ketika Sekolah-sekolah Asing memberikan pemahaman-pemahaman yang menjauhkan anak bangsa dari budaya bangsanya yang mayoritas muslim. Pemahaman-pemahaman seperti liberalisme, sekulerisme dan pluralisme adalah paham-paham yang diberikan kepada anak didik.

Satu hal yang sangat penting diperhatikan oleh penguasa negeri ini adalah, bahwa pelajaran berharga semestinya diambil kaum Muslim dari skenario penghancuran Khilafah Islamiyah oleh Kristen Eropa yang dimulai dari berdirinya ratusan Sekolah Asing milik Eropa di berbagai wilayah Khilafah. Mereka menggerogoti loyalitas generasi Islam terhadap agamanya hingga kaum muslimin rela menempatkan musuh layaknya sahabat kepercayaan. Hal ini tentu saja tak boleh kita biarkan terjadi di negeri Muslim Indonesia yang akan menjadi cikal bakal kembali tegaknya Khilafah mengulang sejarah kelam umat Islam tersebut.

Kualitas Pendidikan Islam

Kejayaan dan kehancuran suatu bangsa ditentukan oleh kualitas para pemimpinnya. Kualitas para pemimpin saat ini ditentukan oleh kualitas generasi muda di masa lalu. Sedangkan kualitas para pemimpin di masa depan ditentukan oleh kualitas generasi muda saat ini.  Dan pendidikan, berkontribusi besar dalam meningkatkan kualitas generasi.

Pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi berkualitas yang akan melanjutkan kepemimpinan bangsa. Pendidikan Islam akan melahirkan generasi shalih dan berkarakter pemimpin, pembangun peradaban mulia. Kualitas pendidikan Islam yang ditetapkan oleh Allah Swt. adalah melahirkan generasi yang secara individu berkualitas Ulul Albab dan secara generasi berkualitas Khoiru Ummah. Generasi yang dihasilkan dari proses pendidikan Islam yang berkualitas ini, akan mampu memimpin bangsanya menjadi bangsa besar, kuat dan terdepan. Bahkan akan mengantarkan bangsanya menjadi  pemimpin peradaban dan perkembangan teknologi dunia.

Kurikulum pendidikan dalam Islam didasarkan pada aqidah Islam. Artinya bahwa Pendidikan harus mengintegrasikan ilmu-ilmu yang dipelajari dengan Aqidah yang diyakini oleh orang beriman, atau harus berlandaskan akidah. Sehingga akan terwujud tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Maka berharap pada pendidikan bertaraf Internasional -yang menjauhkan dari Islam, pemikiran dan hukum-hukumnya- untuk melahirkan generasi berkualitas yang akan mampu menjadi pemimpin peradaban adalah hal yang utopis. Satu-satunya yang bisa mengantarkan kepada kebaikan, sesuai dengan fitrah manusia, adalah kembali kepada ajaran Islam, ajaran yang datangnya dari Pencipta mansuia, alam raya dan kehidupan semesta.

Wa Allahu ‘alam

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pendidik Generasi di HSG SD Khoiru Ummah Mahad Al-Abqary Serang-Banten, Member of Belajar Nulis (BN 0020).

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Pemuda Investasi Bangsa