Home / Pemuda / Pengetahuan / Bulan Sabit Siang Hari Bukan Hilal Penentu Awal Bulan

Bulan Sabit Siang Hari Bukan Hilal Penentu Awal Bulan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Thierry Legault, pemburu bulan sabit muda pada siang hari. (legault.perso.sfr.fr)
Thierry Legault, pemburu bulan sabit muda pada siang hari. (legault.perso.sfr.fr)
Elsasser pemburu bulan sabit muda siang hari. (www.mondatlas.de)
Elsasser pemburu bulan sabit muda siang hari. (www.mondatlas.de)

dakwatuna.com Masalah penentuan awal bulan qamariyah Hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, tidak terlepas dari upaya pengamatan (rukyat) hilal sesuai dengan contoh Rasul. Rukyat selalu dilaksanakan sesudah maghrib. Hilal adalah bulan sabit pertama yang teramati sesudah maghrib. Namun, pengamatan hilal yang muda sangat sulit, karena hilal yang sangat tipis itu sering kali terganggu oleh cahaya senja (syafak) akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer. Mengapa hilal yang dijadikan penentu awal bulan, walau pun itu sulit diamati? Logika astronomis bisa menjelaskannya. Hilal adalah penanda yang mudah dikenali bahwa malam itu mulainya bulan baru. Malam-malam sebelumnya ditandai dengan bulan sabit tua yang tampak pagi hari, lalu dilanjutnya malam tanpa bulan (darkmoon atau bulan mati), baru kemudian malam dengan hilal. Isyarat di dalam Al-Quran menempatkan hilal sebagai penentu awal bulan, selain perintah Rasul “Shumu li ru’yatihi ” (Berpuasalah bila melihatnya — hilal)”.

Hilal adalah bulan sabit pertama yang dijadikan sebagai penanda awal bulan Hijriyah. Itulah contoh Rasul yang sekaligus menjadikan awal hari dan tanggal dalam Islam adalah saat maghrib. Setelah hilal teramati, malam itu dimulainya bulan baru. Kalau itu hilal awal Ramadhan, maka semua ritual Ramadhan dimulai saat itu pula. Shalat tarawih dan sahur adalah ritual khas Ramadhan yang dimulai sejak malam terlihatnya hilal.

Saat ini dengan perkembangan teknologi pengamatan, bulan sabit bisa teramati pada siang hari. Teknik yang umum dilakukan adalah menghalangi cahaya matahari dengan alat penutup terpisah dari teleskop (seperti yang dilakukan Legault, lihat gambar di atas), atau dipasangkan pada ujung teleskop (seperti dilakukan Martin Elsasser, lihat gambar di atas), atau menggunakan tabung panjang di depan teleskop (seperti teknik Elsasser lainnya). Lalu pengamatan dengan teleskop yang dilengkapi dengan kamera digital. Kadang digunakan filter inframerah untuk mengurangi cahaya biru dari langit sehingga cahaya bulan sabit bisa tampak lebih menonjol. Citra yang direkam kamera digital bisa diproses dengan komputer untuk meningkatkan kontras cahaya bulan sabit.

Berikut ini beberapa contoh bulan sabit yang dipotret siang hari:

1. Bulan Sabit Sebelum Konjungsi

Bulan sabit sebelum konjungsi berhasil dipotret dari Observatorium Bosscha, ITB. Konjungsi terjadi pada 16 September 2012 pukul 07:54 WIB. Namun sehari sebelumnya, pada 15 September 2012, pukul 14:54 WIB (17 jam sebelum konjungsi) bulan sabit tipis berhasil diamati. Citra diproses setelah dikoreksi dengan citra gelap (koreksi atas ketidakrataan piksel kamera), kemudian ditingkatkan kontrasnya.

Bulan sabit tua yang dipotret siang hari di Observatorium Bosscha. (bosscha.itb.ac.id)
Bulan sabit tua yang dipotret siang hari di Observatorium Bosscha. (bosscha.itb.ac.id)

2. Bulan Sabit Saat Ijtimak

Thierry Legault memotret bulan sabit saat ijtimak pada pukul 09:14 waktu setempat. Tekniknya adalah menghalangi matahari dengan papan berlubang (lihat gambar atas), lalu memotretnya dengan teleskop yang dilengkapi filter inframerah 850 nm dan kamera digital. Kemudian citra diproses dengan koreksi medan rata (flat field, koreksi  piksel kamera), lalu ditingkatkan kontrasnya dan diberi warna biru (sekadar pilihan warna Legault).

(Thierry Legault)
(Thierry Legault)

3. Bulan Sabit Setelah Ijtimak

Elsasser memotret bulan sabit muda yang berumur 4 jam 11 menit pada siang hari, pukul 09.08 – 09.40 waktu setempat. Teknik yang digunakan adalah memotret dengan teleskop yang dilengkapi tabung panjang untuk menghalangi cahaya matahari. Citra kamera digital kemudian diproses untuk meningkatkan kontras bulan sabit.

Bulan sabit siang hari pasca ijtimak dipotret Elsasser. (mondatlas.de)
Bulan sabit siang hari pasca ijtimak dipotret Elsasser. (mondatlas.de)

Terlihatnya bulan sabit siang hari tidak menunjukkan pergantian bulan. Bulan sabit siang hari bisa menunjukkan bulan sabit tua (sebelum konjungsi, umur < 0 jam), bulan sabit saat konjungsi (umur = 0 jam), atau bulan sabit muda (setelah konjungsi, umur > 0 jam). Jadi, rukyat bulan sabit siang hari BUKAN hilal penentu awal bulan. Bulan sabit yang pasti sebagai bulan sabit awal bulan (hilal) hanyalah yang teramati setelah maghrib.

Teramatinya bulan sabit siang hari bukan jaminan akan terlihatnya hilal saat maghrib.  Pengamatan Jim Stamm bisa menjadi contoh. Jim Stamm menceritakan pengamatan dengan teleskop, tanpa kamera, hanya melihat dengan mata via okuler teleskop. Detektornya adalah mata. Kepekaan mata manusia sekitar panjang gelombang biru-hijau. Pada siang hari pk 13.00 dengan langit biru yang cerah (deep blue), bulan sabit tidak terlihat. Pada siang hari pukul 14:40 dan 16:50 dia berhasil melihat bulan sabit ketika warna langit lebih “biru keputihan” (silvery blue). Bulan sabit masih termati sampai 17.10, setelah itu tidak teramati lagi.  Dia bertanya: What did happen? Are the colors deceiving my expectations of contrast? Is there a filter quality of the atmosphere that may be enhancing the contrast at a lower altitude? Is there some kind of relationship between scattered sunlight and the reflected light of the crescent?

Penjelasan tidak berhasilnya rukyat pada saat maghrib, walau siang harinya terlihat adalah sebagai berikut: Pengamatan hilal adalah masalah kontras antara bulan sabit dan cahaya latar depan. Pada saat pk 13:00 cahaya bulan sabit masih kalah dari cahaya langit biru. Bagi mata, cahaya bulan sabit dan cahaya langit sama-sama terangnya, sehingga bulan sabit tidak terlihat. Ketika bulan (dan matahari) makin rendah sekitar pukul 14:40 sampai 17:10, langit tampak agak pucat, masih biru tetapi lebih putih. Bulan sabit pun sebenarnya mengalami peredupan ke arah panjang gelombang kuning-merah, tetapi intensitas hamburan cahaya langit berkurang. Saat itulah kontras bulan sabit meningkat (bulan sabit terlihat lebih terang dari cahaya langit) sehingga bulan sabit terlihat. Ketika matahari menjelang terbenam sampai terbenam, cahaya bulan sabit melalui atmosfer yang lebih tebal, warnanya makin kuning-merah, sementara atmosfer pun mulai menghamburkan cahaya kuning-merah. Kontras cahaya bulan sabit menurun lagi, alias bulan sabit kalah terang dibandingkan cahaya langit. Akibatnya bulan sabit tidak terlihat.

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan I, SMP Negeri I, dan SMA Negeri II. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis UFO, Bagaimana menurut Agama yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisika. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY World Assembly of Muslim Youth di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).

Lihat Juga

Ilustrasi (photobucket.com)

Belajarlah dari Bulan