Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bagaimana Rasanya Jika Kau Cemburu?            

Bagaimana Rasanya Jika Kau Cemburu?            

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (artmidos.deviantart.com)
Ilustrasi. (artmidos.deviantart.com)

dakwatuna.com – Sahabat, bagaimana rasanya cemburu? Sakit? Kecewa? Marah? Kurasa demikianlah yang dirasakan setiap orang ketika sedang cemburu. Kau mencintai seseorang, tetapi orang yang kau cintai itu lebih memilih dan mencintai yang lain. Apalagi jika kau telah berbuat banyak untuknya, entah pengorbananmu itu ia sadari ataupun tidak. Atau barangkali orang yang kau cintai itu memang bersikap cuek dan masa bodoh dengan apa yang kau lakukan untuknya. Ya, pasti sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Pernahkah kita menyadari bahwa diri kita pun ternyata sering melakukannya? Berbuat seenaknya dan mengabaikan cinta. Sadarkah bahwa di sana ada yang senantiasa mencintai dan menyayangi kita, selalu menjaga dan melindungi saat tiada yang bisa melindungi, dan senantiasa memerhatikan tiap inchi perbuatan kita? Iya sahabatku, cinta dan kasih sayang-Nya teramat sangat kepada kita.

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (Qs. al Baqarah: 143)

Betapa indahnya kalimat di atas. Mari resapi dan renungkan. Acapkali kita lebih mendahulukan dunia dibandingkan dengan-Nya. Saat jari-jemari asyik menari-nari di atas keyboard, di saat yang bersamaan pula seruan-Nya menggema. Apa yang kita lakukan? Bergegas mematikan laptop dan segera memenuhi panggilan-Nya? Semoga memang seperti itu. Baiklah, tetapi pernahkah kita berbuat seperti ini,

“Ah, masih jam segini. Masih ada waktu lama kok, ntar dulu deh shalatnya, sebentar lagi.”

“Duh, satu jam lagi nich tugas dikumpulkan. Mana udah azan lagi. Tapi terusin ini dulu aja dech, bisa-bisa nggak selesai tugasnya.”

Atau seperti ini, “Bentar lagi, tanggung ah masih loading.”

Memangnya siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih hidup sebelum menjalankan shalat padahal sudah memasuki waktunya? Siapa yang memberi kita tangan dan membuatnya dapat dengan lincah bergerak di atas keyboard?  Siapa yang memberi penglihatan sehingga kedua bola mata itu dapat dengan jelas melihat dunia maya, berjam-jam di hadapan si tipis kotak yang melenakan? Itu baru contoh kecil saja.

Bagaimana Allah tidak cemburu jika kita seperti itu. Dia senantiasa memberikan apa yang makhluk-Nya butuhkan. Tetapi sahabat, cemburunya Allah tidak seperti manusia. Karena Dia memang tak sama dengan makhluk-Nya. Pun, cinta-Nya adalah cinta di atas cinta.

Seseorang mendatangi Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam dan bertanya tentang keluasan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau bersabda, “Engkau datang untuk menanyaiku tentang keluasan rahmat Allah? Aku beri tahu bahwa Allah telah memberi tahumu dan berkata, ‘Aku (Allah) tidak marah pada hamba-Ku yang datang kepada-Ku dengan maksiat. Sungguh, di sisi-Ku ada ampunan. Jikalau Aku ingin menyegerakan atau ketergesa-gesaan adalah sifat-Ku sungguh Aku segerakan mereka putus asa dari rahmat-Ku.” (Kanzu al-Umah (5901)).

Sahabat-shabatku yang dicintai Allah, semoga hati kita selalu tertuju pada-Nya, selalu ingat betapa cintanya Allah pada kita. Jangan marah dan kecewa jikalau orang lain membuat kita cemburu jika kita sering membuat Allah cemburu.

Wallahu A’lam bi Shshowwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
College student of S1 Accounting Education, State University of Malang

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang