Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menulis Dalam Kesederhanaan, Berkarya Demi Keabadian

Menulis Dalam Kesederhanaan, Berkarya Demi Keabadian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Menulis adalah aktivitas yang sangat layak untuk ditilik. Darinya bisa dihasilkan dua macam kemungkinan; bisa kebaikan, bisa pula keburukan. Maka muncul pendapat bahwa seorang manusia ditentukan oleh apa yang ia baca dan dengan siapa ia bersahabat. Sehingga, dalam hal ini, seharusnya pertanyaan yangdimunculkan adalah, “Kenapa harus menulis?”

Ya, kenapa harus menulis? Pertanyaan ini pula yang mengisi benak saya di awal-awal punya niat untuk menulis. Saat itu, yang ada dalam pikiran saya hanya perasaan senang apabila tulisan saya dibaca banyak orang dan mereka mendapatkan manfaat darinya. Itu artinya, ilmu saya bisa bermanfaat. Dan, kata manfaat adalah satu hal yang saya cita-citakan sejak dulu.

Kemudian, muncul pula pertanyaan, “Pantaskah aku menulis dengan niat membagikan ilmu? Bukankah seharusnya yang melakukan hal ini adalah orang-orang yang betul-betul punya pemahaman yang mumpuni dan dalam ilmunya? Sedangkan aku, hanya seorang pemuda yang sederhana dalam pemahaman dan dangkal ilmunya.”

Ajaib! semakin lama saya mengingat pertanyaan ini, yang ada di dalam pikiran saya bukan keraguan. Tetapi semangat dan keinginan yang kian menggebu. Tentang ilmu, saya mengingat pernyataan Imam Ibnul Jauzi dalam muqaddimah Shaidul Khatirnya, “Qayyidul ‘ilma bilkitaabah!”. Maknanya, “Tambatlah ilmu dengan menulis!”

Imam Ibnul Jauzi tidak mensyaratkan kesempurnaan bagi siapa yang punya niat baik dalam menulis. Bahkan, ilmu sendiri bisa semakin melekat dalam benak bila diiringi dengan berbagi dalam tulisan. Belum lagi energi positif yang bisa muncul dari niat tulus untuk menyebarkan kebaikan, pasti akan menambah mudah mendapatkan ilmu baru bagi si penulis.

Saya pun teringat riwayat yang mengisahkan datangnya seorang pemuda pada Imam Ahmad bin Hanbal, kemudian bertanya, “Wahai Imam, bagaimana menurutmu, apakah aku memulai berdakwah sejak sekarang, ataukah aku menunggu sampai sempurna dahulu (baru berdakwah)?”

Dengarlah jawaban Imam Ahmad bin Hanbal, beliau balas bertanya, “Wah, kalau begitu, siapakah yang sempurna?”

Dengarlah tanya Imam Ahmad bin Hanbal, “Siapakah yang sempurna?” Itu artinya memang tidak akan pernah ada lagi orang yang bisa mendalami Islami seperti Rasulullah saw. Mulianya Imam Ahmad, beliau tidak mengingkari sifat manusia yang tidak lepas dari salah dan lupa. Pertanyaan itu tentu saja bermakna bahwa tidak ada manusia yang sempurna dalam berdakwah (selain Rasulullah Saw), termasuk Imam Ahmad sendiri.

Nah?!

Begitulah niat di dalam hati ini teryakinkan. Maka, awal-awal mulailah saya menuliskan sebuah tulisan singkat (artikel). Saya mencurahkan pikiran saya di dalamnya. Tentu saja, niatnya adalah untuk turut menyebarkan kebaikan dan kemanfaatan. Sebabnya, sebisanya saya akan selalu mencari penjelasan dalam dalil terhadap sesuatu permasalahan terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam pikiran sendiri. Inilah ciri kita sebagai seorang mukmin. Sumber rujukan utama adalah al-Qur’an dan al-Hadits.

Alhamdulillah, saat ini sudah ada beberapa artikel yang saya tulis. Di Web Dakwatuna sendiri sudah ada beberapa. Insya Allah, di dalam hati saya hanya ada harapan, “Semoga tulisan-tulisan saya bermanfaat.” Tentu, niat di dalam hati saya tidak hanya sebatas di sini. Saya sudah punya tekad, sepanjang saya masih bisa mengingat, berpikir sehat, dan mampu menulis, insya Allah saya akan terus menulis.

Saya pun punya kerinduan menjadi seperti penulis-penulis Islam yang karya-karyanya abadi sampai sekarang. Mereka sudah lama meninggalkan dunia, tetapi ilmu yang mereka tinggalkan dalam tulisan tetap dipelajari sampai sekarang, bahkan sampai akhir zaman nanti. Sebab yang mereka tinggalkan adalah ilmu tentang agama dan prinsip-prinsip menjalani kehidupan. Seperti agama Islam yang tidak akan pernah berubah ini, seperti itu pula ilmu yang mereka tinggalkan akan tetap berlaku.

Mewujudkan kerinduan itu tidak mudah. Melakukan satu hal yang besar memang tidak bisa dengan kerja-kerja ringan. Umpan harus sebanding dengan target ikan yang ingin didapat. Maka, semoga kesungguhan menghadapi yang sulit itu layak menjadi pertanda ketulusan, keikhlasan, dan kemurnian tekad. Saat ini, saya mengusahakan menulis buku. Saya berharap bisa tercatat dalam lembaran sejarah orang yang bermanfaat menebarkan kebaikan selama hidupnya. Mudah-mudahan, kelak melalui buku-buku itu saya bisa mewujudkan rindu di dalam hati saya.

Benjamin Franklin mengatakan, “Apabila Anda ingin abadi, maka menulislah atau lakukan sesuatu yang layak dituliskan.”

Saudara-saudaraku sekalian, menanggapi pernyataan ini, saya tidak berniat untuk memilih. Malah, sebisanya, saya akan berusaha untuk melakukan keduanya. Tidak masalah bermimpi besar, sebab tak bayar. Lagi pula, kalau tujuan kita adalah kebaikan, maka meniatkannya pun sudah diganjar satu pahala. So, are you with me?

Saudaraku, sungguh saat ini di dalam hati saya masih menggebu satu kerinduan. Mudah-mudahan keinginan saya untuk menjadi orang bermanfaat melalui buku bisa terealisasi di pertangahan tahun ini. Bagi saudaraku sekalian, bila berkenan, sudilah do’akan tercapainya impian ini.

Saudara-saudaraku sekalian. Beginilah kita sebagai generasi muda umat ini. Kita tidak boleh tenggelam dimakan zaman, tidak pula hanyut dibawa derasnya arus modernitas yang satu sisinya bisa merusak agama kita. Marilah bersamaku, kita pancangkan impian untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat dan bangsa kita. Sehingga tak sia-sia hidup kita di dunia ini.

Bila ternyata saudara punya keahlian dan bakat di bidang lain, silahkanlah digeluti. Asal tujuannya kebaikan dan cara meraihnya juga dengan kebaikan, tidak masalah. Itulah kebaikan yang sesungguhnya.

Saudaraku, ini impianku. Bagaimana denganmu?

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Wanita, Kartini, dan Emansipasi dalam Tinjauan Sejarah Islam