Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Bersumpah Akan Menjadi Saksi Mereka

Aku Bersumpah Akan Menjadi Saksi Mereka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kampanye terbuka PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (16/3). (Foto: viva..co.id)
Kampanye terbuka PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (16/3). (Foto: viva..co.id)

dakwatuna.com – Pesta demokrasi baru saja usai. Hajatan akbar nasional ini telah melahirkan ratusan wajah lama dan baru yang akan duduk di kursi parlemen. Dari tingkat pusat sampai daerah. Mereka adalah para wakil rakyat yang akan mengemban amanah membawa dan menerjemahkan aspirasi seluruh rakyat Indonesia ke dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang mereka buat dan mereka sahkan menjadi Undang-Undang. Harapan kita, semoga dengan hadirnya mereka ini bisa merubah wajah Indonesia menjadi lebih baik untuk 5 tahun mendatang.

Jika bagi partai yang lain, mungkin pemilu ini sudah selesai. Apalagi bagi partai-partai yang merasa akan menjadi pemenang pemilu tahun ini, mungkin mereka sudah berpesta pora merayakan kemenangannya. Walaupun faktanya, belum ada pengumuman  resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengenai siapa yang akan menjadi juaranya. Namun hal ini tidak berlaku bagi PKS. Berakhirnya pesta demokrasi ini, bukan berarti berakhirnya sebuah perjuangan. Bukan berarti tugas dan kerja para kader PKS juga sudah selesai. Justru sebaliknya. Segudang tugas berat siap menanti dan menuntut perhatian serta kesigapan mereka. Mulai dari hari pencoblosan (9 April 2014) sampai beberapa waktu ke depan.

Tugas itu adalah menghitung, merekap dan membuat tabulasi penghitungan suara.  Dimana hasil tabulasi yang berasal dari semua TPS yang ada di seluruh wilayah Indonesia ini, akan diformat menjadi data entri yang nantinya akan dikirim ke DPP PKS.  Untuk selanjutnya, akan dijadikan bahan rujukan guna melengkapi data tabulasi penghitungan suara tingkat nasional. Dan hasil inilah yang kelak akan diumumkan secara resmi oleh DPP PKS, dengan tetap beracuan kepada data resmi dari KPU.

Sehubungan dengan itu, layaknya pemilu-pemilu yang lalu, PKS selalu membentuk tim saksi serta tim tabulasi. Tim saksi dan tim tabulasi ini bertugas mengawal, menjaga dan mengawasi hasil penghitungan suara yang terkumpul dari tiap TPS. Sebelum bertugas, terlebih dahulu tim saksi dan tim tabulasi ini dibekali ketrampilan yang didapatkan melalui training atau pelatihan yang diadakan oleh Bapilu (Badan Pemenangan Pemilu) PKS. Pelatihan ini diselenggarakan di tiap jenjang wilayah dimana PKS berada, dari tingkat pusat sampai tingkat terendah atau kelurahan.

Adapun tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai tata cara  penghitungan, pengisian form C-1 serta merekap hasilnya ke dalam bentuk kolom tabulasi suara dengan menggunakan sistem komputerisasi. Yang tentu saja semua aktivitas ini bukanlah merupakan sebuah pekerjaan yang ringan dan mudah. Dibutuhkan ketelitian, keseriusan, konsentrasi penuh serta kesiapan lahir dan batin guna memperoleh sebuah hasil yang akurat dan maksimal. Mereka yang masuk ke dalam tim ini adalah orang-orang yang memang sudah teruji kredibilitas serta loyalitasnya terhadap PKS. Jadi, tidak sembarangan orang bisa menjadi bagian dari “tim tangguh” ini.

Silahkan dicek atau ditanyakan kepada KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) setempat, tim saksi dari partai mana yang memiliki kesiapan kerja yang baik pada setiap pemilunya? Insya Allah, jawabannya pasti dari PKS. Dan ini memang sudah diakui oleh banyak pihak. Bahkan tak jarang partai lain juga ikut mengandalkan kerja dari para saksi PKS dengan menitipkan hasil penghitungan suara mereka kepada tim ini. Mengapa hal itu bisa terjadi? Berdasarkan beberapa informasi yang saya dengar, hal ini mereka lakukan karena mereka sangat percaya kepada para kader PKS yang memang sudah terkenal dengan kecerdasan, kejujuran serta keikhlasannya. Suatu penilaian yang objektif terhadap kinerja dan kualitas dari kader-kader PKS. Alhamdulillah.

Dan sebagaimana PKS di wilayah lainnya, di Pamulang tempat tinggal saya pun sudah membentuk satu tim kerja saksi dan tabulasi. Tim ini dibentuk kurang lebih sebulan sebelum pelaksanaan pemilu. Dengan menempati sebuah ruko milik salah seorang anggota dewan dari PKS yang kami jadikan sebagai markas pemenangan partai, maka seluruh aktivitas kerja tim ini mulai dari pelatihan saksi sampai proses tabulasi dilakukan di sini. Siang dan malam tanpa kenal lelah. Semua ini kami lakukan semata-mata bukan karena demi PKS-nya saja, namun adalah demi kemenangan dakwah ini khususnya di daerah kami, Pamulang.

Ketika pemilu kemarin berlangsung -dari sejak sebelum hari pencoblosan sampai pada saat tulisan ini saya buat-, para saksi, tim tabulasi beserta kader PKS lainnya di daerah kami (Kelurahan Pondok Benda) tak pernah berhenti bekerja. Segenap potensi dikerahkan, walaupun dengan segala keterbatasannya. Baik itu moril maupun materiil. Oleh sebab itulah, ruko yang kami jadikan sebagai markas dakwah inipun tidak pernah sepi. Ada-ada saja kegiatan dan aktivitas yang dilakukan di sana. Dan yang paling membuat saya sangat terharu dan terenyuh terhadap kawan-kawan saya ini adalah pada saat mulai pembuatan data tabulasi suara. Dimana proses rekapitulasi ini benar-benar membutuhkan perhatian ekstra.

Di sini, saya menjadi saksi hidup atas kerja keras dari para kader dakwah yang telah menjadi sahabat seperjuangan saya selama ini. Dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan tadhiyah (pengorbanan) lahir-batin mereka. Yang tak jarang tanpa mereka ketahui mampu membuat saya menangis karena dilanda selaksa keharuan terhadap diri mereka. Segenap pengorbanan yang menurut saya sangat luar biasa serta tidak ada duanya, jika dibandingkan dengan para kader dari partai manapun yang ada di negeri ini. Demi Allah, sedikitpun saya tidak bermaksud “lebay” dengan melebih-lebihkan kesaksian saya ini. Pun saya tidak dalam rangka mengambil simpati dari siapa pun juga atas kesaksian saya ini. Semua ini saya katakan dengan sejujur-jujurnya dan keluar dari hati saya yang paling dalam. Bahwa saya sangat menaruh rasa kagum, respek juga cinta kepada mereka, itulah adanya.

Selama saya bergabung dengan PKS dan mengikuti beberapa kali pemilu, baru kali ini saya terjun langsung dalam pengerjaan proses data tabulasi. Sebelumnya saya tidak mengerti sama sekali. Saya baru tersadar bahwa pekerjaannya sungguh berat. Tak hanya menyita stamina dan pikiran, namun juga menguras emosi serta airmata. Dan karena keterbatasan jumlah kadernya, maka saya dan teman-teman mau tidak mau harus bekerja keras menuntaskan proses data tabulasi ini yang harus selesai tepat pada waktunya.

Untuk itu kami membagi diri dalam beberapa tim kecil, yaitu tim pemindahan data dari form C-1 (yang diperoleh dari para saksi di setiap TPS) ke dalam tabel yang lebih lengkap dan rumit. Kemudian ada tim yang bertugas mencontreng suara-suara yang masuk dari tim pertama, setelah itu baru diteruskan kepada tim IT yang bertugas meng-input data excel. Dari data excel yang sudah jadi inilah yang nantinya akan dikirim ke Tim Tabulasi Nasional yang bermarkas di kantor DPP PKS untuk disatukan dengan data tabulasi suara PKS dari seluruh Indonesia dan luar negeri.

Perlu diketahui, kami tidak hanya meng-input data dari PKS saja. Akan tetapi kami juga meng-input semua data dari parpol peserta pemilu kemarin. Untuk apa? Hal ini bertujuan untuk menghindari dan meminimalisir berbagai macam kecurangan yang mungkin terjadi, baik di TPS maupun sampai kepada pusat tabulasi suara nasional milik KPU nanti. Satu suara sangat berharga bagi kami. Oleh sebab itulah kami akan menjaga dan mempertahankannya sampai titik darah penghabisan. Takkan kami biarkan ada orang lain yang ingin merusak dan merampasnya.

Dalam pengerjaan proses tabulasi inilah, banyak diantara kami (terutama ikhwannya) yang tidak pulang ke rumah selama beberapa hari. Dan kalaupun ada yang pulang atau singgah, itu cuma sebentar saja untuk sekedar mandi, ganti pakaian atau bekerja (bagi yang kerja di kantoran dan lain-lain). Selebihnya waktunya banyak dihabiskan di ruko ini. Begitu pula dengan para ibu-ibu (akhwatnya) tak kalah besar pengorbanannya. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang terpaksa harus membawa putra-putrinya ke markas dakwah ini, demi membantu kerja tim tabulasi data.

Salah satunya adalah saya. Hari jumat kemarin saya terpaksa harus membawa si bungsu Fathur (3 tahun) ke sini, karena di rumah tidak ada orang yang menjaganya. Kebetulan sekali Mbak Herti, khadimat yang biasa membantu pekerjaan di rumah kami selama ini, pulang kampung sejak sebulan yang lalu. Sedangkan anak-anak kami yang lainnya bersekolah sampai sore. Jadi apa boleh buat, Fathur terpaksa saya bawa. Sementara saya dan kawan-kawan bekerja, Fathur dan kawan-kawannya bermain di dalam dan di luar ruko. Ya, inilah salah satu “resiko”nya menjadi kader PKS, harus ada yang berkorban dan ”dikorbankan.”

Pada hari Kamis (10 April 2014), saya dan kawan-kawan pulang sampai jam 3 subuh. Dan pada hari Jumat (11 April 2014), saya beserta ibu-ibu yang lain pulang jam 23.00. Sedangkan para bapak atau ikhwannya (termasuk juga Abi) masih tetap bertahan. Mereka sampai menginap di sana guna menyelesaikan tugas tabulasi tersebut. Sedangkan bagi kader yang tidak bisa menyumbangkan tenaganya, mereka berpartisipasi dalam bentuk yang lain. Seperti menyuplai logistik (makanan) dan juga uang yang dipergunakan untuk keperluan kegiatan selama proses tabulasi ini. Pokoknya, apapun yang bisa diberikan untuk dakwah ini, insya Allah pasti akan diberikan tanpa sedikitpun meminta balas jasa atau balas balas budi. Pendek kata, tak ada kata tidak untuk dakwah ini! Masya Allah.

Di tengah rasa lelah dan kantuk yang menyerang, masih tetap terselip segudang semangat demi menjaga dan menyelamatkan suara PKS. Sungguh, di sini saya kembali menjadi saksi hidup bagi  kawan-kawan saya ini. Di mana mereka bahu-membahu, saling membantu dan menguatkan satu sama lain agar kami dapat terus bertahan dalam  jalan dakwah ini. Selama beberapa hari bersama mereka, sedikitpun telinga saya tak pernah mendengar keluhan ataupun gerutuan mereka. Secuilpun mata saya tak pernah menangkap kelemahan dan kekalahan dari wajah-wajah mereka. Justru saya menangkap wajah yang penuh dengan kemenangan, semangat yang sarat dengan perjuangan dan pengorbanan yang tak pernah luntur dan padam. Tak ada kata istirahat bagi mereka, kecuali makan dan shalat saja. Sungguh luar biasa!

Wahai, Para Ikhwah, ketahuilah… inilah yang membuat saya tetap bertahan di sini bersama kalian. Inilah yang tak pernah saya temukan dan rasakan dari jamaah yang lain selain kalian. Inilah yang membuat saya sangat mencintai jalan dakwah ini bersama kalian. Demi Allah, saya akan menjadi saksi kalian di akhirat kelak, insya Allah. Bila nanti saya ditanyakan oleh Allah tentang kalian, akan saya katakan kepada Allah, bahwa kalian ini adalah orang-orang yang kuat dan hebat!

Ya Allah, saksikanlah…dan sesungguhnya Engkau Maha Menyaksikan apa yang sudah mereka lakukan, baik yang tampak maupun yang mereka sembunyikan. Catatlah semua ibadah mereka sebagai amal sholeh. Dan balaslah kelelahan, rasa kantuk dan tadhiyah (pengorbanan) lahir-batin mereka ini dengan jannah-Mu. Aamiin.

*Tulisan ini saya buat dan persembahkan untuk sahabat-sahabat tercinta, ihkwah PKS di Pamulang (khususnya Dpra Pondok Benda). Jazakumullah khoiron katsir atas kebersamaan dan ukhuwah yang indah selama ini. Semoga Allah swt senantiasa melindungi serta meridhoi setiap gerak dan langkah kita. Ana Uhibbukum Fillah…

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.
  • sartono

    tidak ada sesuatu yang di lakukan itu sia sia mari terus berjuang kami di lampung juga lakukan hal serupa MantaPKS

Lihat Juga

silaturahimprabowokemd

Aksi 4 November Murni dari Masyarakat