Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Aku dan Rintik Hujan

Aku dan Rintik Hujan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com

Semesra pagi yang menyambut fajar dalam hening dan kesunyian
Pagi ini, seakan langit tak bisa diajak bernegosiasi
Awan mendung bergerombol memasung rindu dalam kebekuan
Menggelora dalam diam
Mencipta senyap dan kebisuan

Aku memikirkanmu, belahan jiwaku
Tatkala semilir angin melewati sela-sela rambut dan rumput di pelataran
Aku tersipu menerjemahkan rasa yang tak kutahu namanya
Lembut, putih, dan menentramkan
Dan belakangan ku ketahui ia bernama cinta

Aku di sini mengeja iman
Bertanya kepadanya dalam kesunyian
Tentang rasa yang tumbuh perlahan
Menyemai dan merawatnya tanpa beban
Mengharap hijau tumbuh di halaman, altar sanubariku

Gemericik rintik hujan seakan membawa pesan
Titah dari Tuhannya yang tiada terbantahkan
Tentang iman, Islam dan ihsan
“Seberapa banyak diri ini menjadikan Tuhan sebagai tempat pengaduan”

Oh Tuhan,
Jiwaku kering, ragaku membiru lebam
Menahan rindu pada belahan jiwa yang tak kunjung jumpa
Hingga menyedot seluruh saripati energi
Tanpa henti

Aku dan rintik hujan
Kami pun saling membincang
Menaksir rasa takut akan kebesaran Tuhan
Dan aku ingin membaginya bersamamu
Tentang rindu dan cinta yang kucipta
Untukmu, karena Tuhan

Demi waktu fajar yang terbasuh rintik hujan
Aku berharap kembali bertemu denganmu
Atau Tuhan memutar ulang kembali waktu
Membiarkanku bercanda mesra denganmu
Membincang tentang ukhuwah yang mulai lekang oleh waktu

Teman, engkau di mana?
Jiwa ini merapuh memendam rindu
Pulanglah kembali, mari membangun rumah-rumah di surga bersama lagi
Dalam cinta, kerja, dan harmoni

Puisi ini didedikasikan untuk sahabat perjuangan di jalan dakwah yang mulai futur terbawa arus dan pasang surutnya zaman. Dengan harapan kembali dikumpulkan dalam reuni akbar di surgaNya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 6,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.
  • Lusiana Najhan

    syair yang lembut tapi menyayat kalbu
    reuni akbar di JannahNya menjadi tujuan utama
    walau harus tertatih, tersungkur, terluka, bahkan nyawa sekalipun sebagai tebusannya
    kuatkan kami semua Ya Rabb agar istiqomah di jalan-Mu
    Aamiin…

Lihat Juga

Hujan lebat disertai angin kencang (ilustrasi) - Foto: depoklik.com

Ini Penyebab Curah Hujan di Pulau Jawa Terus Meningkat