Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menulis… Benarkah??

Menulis… Benarkah??

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Beberapa hari ini terpikirkan untuk menulis artikel ini. Saat itu saya melihat-lihat kembali tulisan yang sudah diterbitkan oleh web dakwatuna ini. Tulisan saya saat itu berjumlah delapan. Seakan tidak percaya bahwa itu tulisan saya dan ternyata dibaca oleh orang lain. Kenapa saya merasa tidak percaya??? Karena saya merasa dan sadar bahwa saya tidak begitu pintar merangkai kata. Hal itu mungkin bisa terlihat dari tulisan-tulisan saya sebelumnya. Saya senang membaca artikel di sini dan setiap saya merasa harus diberi taujih maka saya akan membaca artikel di sini dan saya sangat kagum dengan penulis-penulis itu. Saya merasa bahwa mereka benar-benar pintar memilih kata-kata yang enak dibaca, kata hiasan yang mereka pakai sangat bagus. Dan itu membuat saya kurang PD dengan tulisan saya pribadi. Hal ini jugalah yang menjadi alasan kenapa saya menulis artikel ini.

Saya akan berbagi sedikit awal dari saya mencoba untuk menulis yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan bisa menulis sesuatu. Saya suka membaca tulisan bertajuk cerpen, essay dan artikel lepas karena saya memang tidak begitu bisa betah membaca hal-hal yang berat he…dari semua artikel yang pernah saya baca, artikel milik Abi Sabila yang akhirnya mendorong saya untuk menulis juga. Saat itu saya membaca tentang seorang teman kantor beliau yang lupa dengan perlengkapan/ bahan rapat yang kembali dia ambil di tempatnya dan hal itu dianalogikan dengan akhirat. Ketika kita masih di dunia, kita masih bisa kembali mengambil kembali tapi ketika sudah di akhirat, maka tidak ada kesempatan kembali ke dunia untuk menyiapkan kembali bekal untuk akhirat. Pembaca dapat membacanya di tulisan berjudul “Salah Bekal“.

Hal itu merupakan teguran tersendiri bagi saya, kemudian saya renungi, bukankah hal tersebut merupakan kejadian-kejadian yang dialami oleh penulis di sekitarnya? Mengambil hikmahnya dan mencoba membagi hal-hal tersebut kepada pembaca melalui tulisannya. Subhanallah….bukankah semua orang juga memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu??? Mencoba mengingatkan saudara-saudarinya melalui tulisan. Bukankah kewajiban setiap muslim untuk saling mengingatkan??? Dan salah satu sarananya adalah dengan Menulis. Apalagi bagi orang-orang yang “berkumpul” di setiap pekannya. Bukankah di tempat “berkumpul” itu ada taujih, entah itu taujih dari MR atau petugas taujih dari kelompok tersebut. Kenapa kita tidak berfikir untuk membaginya ke orang-orang dengan membuatnya dalam sebuah tulisan walaupun kita tidak punya basic menulis? Subhanallah ketika ada saudara-saudari kita yang bisa “tersadarkan” atau merasa mendapat “muhasabah” dari apa yang kita sampaikan melalui tulisan. Bukankah itu akan menjadi aset amal kita??? Tidak harus seperti solikhin Abu Izzudin atau Salim A Fillah (penulis favorit he…) atau penulis terkenal lainnya. Cukup niatkan untuk saling berbagi dan saling mengingatkan ke jalan kebaikan. Hal itu sudah cukup menjadi alasan untuk kita menulis. Dan terkadang pesan tertulis itu lebih mengena dari pada pesan yang dikatakan.

Ada banyak jalan dan cara Allah memberikan hidayah kepada makhluk-Nya dan salah satunya adalah dengan seseorang membaca sesuatu. Bayangkan ketika ternyata ada orang yang mendapat hidayah dari membaca tulisan kita? Walaupun semuanya dari Allah Yang Maha Kuasa tapi Allah menurunkannya melalui tulisan kita.  Subhanallah….Oleh karena itu, melalui kesempatan ini, saya mengajak teman-teman pembaca untuk menulis. Jangan takut tidak akan dipublikasikan atau tidak memenuhi syarat atau tidak akan dibaca oleh pembaca. Seperti yang sering saya tekankan pada beberapa tulisan saya sebelumnya bahwa semua tergantung pada NIATnya. Jadi, ketika menulispun kita harus memperbaiki niat kita. Ketika sedari awal niat kita memang untuk mendapat Ridha-Nya melalui barisan kata yang terangkai menjadi kalimat dan akhirnya menjadi paragraph ini, maka andaikan tulisan itu tidak bisa tersampaikan kepada pembaca, maka cukuplah Allah yang menilai itu.

Ragu, bingung, dan tidak cukup PD untuk memulainya… semua orang pasti merasakannya ketika melakukan sesuatu yang baru begitupun dengan Menulis. Buanglah semua pikiran-pikiran itu, satu kalimat yang sering saya ingat yaitu “jangan terlalu banyak berfikir, tapi langsung dikerjakan”. Jadi segera dimulai saja, nyalakan komputer/ laptop dan cobalah untuk menumpahkan idemu, dengan begitu tidak akan terasa satu halaman dari wordmu akan terisi oleh kalimat-kalimat yang diketik oleh jari-jemarimu. Dan ketika kamu membacanya kembali, maka kamupun akan tersenyum sendiri…

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (Al-Zalzalah: 7)

Sesuai dengan firman Allah di atas dalam Al-Quran surat Al-Zalzalah ayat 7 bahwa kebaikan seberat dzarrahpun akan kita terima balasannya jadi jangan pernah melecehkan amalan baik yang dilakukan. Termasuk pada amalan yang ingin kita sampaikan melalui tulisan.

Akhir kata, silakan menulis… yakinkan pada diri sendiri dan buanglah semua keraguan. Ketika ada rasa tidak PD dengan tulisan sendiri seperti saya sekarang maka jadikan itu sebagai motivasi tersendiri untuk lebih baik. Bahkan bisa pembaca lihat andaikan artikel ini diterbitkan, tulisan sayapun sekarang masih dengan gaya bahasanya yang kurang teratur tapi mungkin seperti inilah saya bisa menyampaikan maksud saya….Salam Ukhuwah.

Mohon maaf jika ada salah kata dan semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Bekerja di Bank Syariah. Aktif di Iqro' Club di salah satu kota Jawa Timur.

Lihat Juga

Ilustrasi. (buzzerg.com)

Wahai Para Penulis, Berterima Kasihlah Kepada Muhammadiyah!

Organization