Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Ibu dan Cinta yang Sederhana

Ibu dan Cinta yang Sederhana

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nuraurora.wordpress.com)
Ilustrasi (nuraurora.wordpress.com)

dakwatuna.com “Iiih, seneng ya kalau punya anak kayak begitu.”

“Lho… kenapa, Bu?” Tanya saya keheranan.

Dalam hati saya menggumam, memangnya istimewa ya melihat orang yang makan dengan begitu lahapnya?

Waktu menunjukkan pukul dua siang saat saya baru sampai di kantor, lalu memakan sisa lauk-pauk dari menu makan siang di kantor. Kosongnya perut sudah sangat terasa. Saya mengambil nasi dari ricecooker dan menyimpannya langsung ke piring sisa lauk pauk, bukan mengambil piring baru. Begitu sadar bahwa makanan yang ada di meja adalah sisa, maka niatnya pun memang sekalian menghabiskan, jadi tidak mengambil piring baru.

“Ini udah nggak akan ada lagi yang makan?” Tanya saya.

“Iya, makan aja. Sekalian, habisin ya!”Jawab Bu Administratur.

Perut terasa kosong, dan makanan berstatus sisa yang orang lain tidak akan memakannya. Itu menjadi dua alasan yang membuat saya tidak berpikir panjang untuk langsung menyantap. Hap… hap…hap… kepalan demi kepalan suap dimakan dengan lahapnya, sampai habis, tanpa menyisakan remeh sedikit pun. Saking menikmatinya, saya bahkan sampai menjilati jari-jari tangan kanan yang masih berlumuran sisa bumbu dan sambal.

“Nggak, seneng aja ngelihatnya. Makannya lahap begitu, piringnya sampai bersih.” Begitu kata Bu Admin yang melongo melihat betapa lahapnya saya saat makan.

***

“Di mana?” Sebuah SMS dari ibu.

“Malam ini pulangnya lebih malam, ada kumpul alumni.” Jawab saya.

Langit mulai tampak gelap. SMS dari ibu menandakan bahwa beliau telah berada di rumah. Saya hafal betul, karena begitulah biasanya bila anaknya belum ada di rumah. Seringkali ibu menghubungi via SMS untuk tahu tentang keberadaan anaknya, terutama bila sedang di Bandung.

Rutinnya, saya menunaikan shalat Maghrib di rumah atau di masjid dekat rumah. Bergantung kapan saya pulang. Bila pulang sebelum Maghrib, saya biasa ke masjid. Bila telat, saya lebih memilih untuk shalat Maghrib di rumah. Tetapi ada waktu-waktu tertentu saya pulang selepas adzan Isya, seperti bila ada acara kumpul bareng selepas jam kerja. Bagi ibu, anaknya pulang malam adalah hal yang tidak biasa, walaupun ibu memahami apa saja kesibukan anak-anaknya.

Saya beserta beberapa sesama alumni berkumpul di sebuah kedai pasta dekat kampus. Bukan saya yang memilih tempatnya. Atas usulan dari seorang adik angkatan, kami menjadikan kedai pasta itu sebagai meeting point untuk membahas tentang organisasi kealumnian.

Bahasan tentang kealumnian selesai sekitar pukul setengah tujuh, dan sebagaimana umumnya acara hajatan di Indonesia, dilanjutkan dengan makan-makan. Namanya juga kedai pasta, menu-menu makannya pun berupa aneka pasta. Saya sampai bingung memilihnya, karena harganya lumayan menguras isi dompet. Mengeluarkan uang Rp.38.000,- untuk sekali makan adalah hal yang berat bagi saya yang biasa makan di warteg. Itu belum ditambah minumnya.

Agenda makan-makan tidak dibatasi waktu, jadi selesainya bergantung dari kapan kami bubar. Makanan sudah habis, tidak lantas langsung bubar. Selama masih ada obrolan santai, siapapun masih bisa pesan lagi makanan atau minuman, dan itu kembali menambah waktu. Sambil beristirahat, saya pun menikmati obrolan santai. Lumayan untuk rehat sejenak sebelum menempuh perjalanan pulang.

Acara akhirnya bubar menjelang jarum pendek di jam dinding menunjukkan pukul delapan. Saatnya pulang. Saya pun berjalan beberapa ratus meter menuju jalur suatu trayek angkot yang lewat kelurahan di mana rumah saya bertengger.

Jalanan dalam kota sangat lancar, tanpa macet. Wajar, karena sudah malam. Meski lancar, tetap ada waktu yang terbuang karena angkot mengetem di beberapa tempat. Saya harus memaklumi, karena supir angkot pun sama-sama berangkat dari rumah untuk mengumpulkan rezeki titipan-Nya. Maka, tidak alasan untuk protes dan meminta supir untuk terus maju tanpa mengetem.

Pukul sembilan malam, saya baru sampai rumah. Suasana sudah sepi. Saya membuka pintu, dan menemukan ibu sedang berbaring di sofa ruang tengah, tepat di depan televisi yang masih menyala. Tidurnya sangat pulas, hingga salam yang saya ucapkan pun tidak dibalasnya. Wajahnya tampak tenang, penuh kedamaian. Sungguh tak tega untuk membangunkannya, apapun alasannya. Entah itu untuk salam, mencium tangan, menyapa, atau mengajaknya makan.

Saya langsung masuk kamar, berganti baju, dan segera ke kamar mandi untuk mencuci kaki. Kamar mandi letaknya di samping dapur, dan saya melewati meja makan untuk sampai ke kamar mandi. Sedikit mengintip meja makan dan dapur, rupanya di atas kompor ada sebuah panci dan di meja makan ada sepiring lauk-pauk. Dilihat-lihat, pancinya masih penuh berisi sayur lodeh, sedangkan sepiring lauk pauk yang ada di meja makan adalah sambal goreng kentang dan ampela.

Ah, ya Allah. Lemaslah kedua lutut ini. Apa yang telah saya perbuat?

Saya mengeluarkan uang puluhan ribu untuk makanan mewah di sebuah kedai pasta, padahal ibu menyiapkan menu favorit keluarga untuk makan malam. Saya menghabiskan waktu di kedai bersama teman-teman, sementara ibu memasak dan menunggu anaknya pulang hingga tertidur pulas saat nonton TV. Rasanya akan sangat berdosa bila saya tidak menyantap makanan yang disiapkan ibu, meski sadar bahwa sebelumnya saya sudah mengisi perut.

Sepulang kerja, ibu membawakan makanan untuk dinikmati bersama. Dalam letihnya perjalanan menuju rumah, beliau menyempatkan diri untuk beli sambal goreng kentang dan ampela dari catering favorit keluarga. Saya hafal betul bungkusnya, sehingga tahu dari mana ibu membelinya. Bahkan tak hanya itu, ibu juga memasak sayur lodeh kesukaan kami (anak-anaknya).

Membeli lauk pauk di warung nasi mungkin adalah hal mudah. Tinggal mampir, memilih makanan yang hendak dibungkus, lalu membayarnya. Namun lain halnya dengan membuat sayur lodeh. Tidak cukup memotong sayur, memasukkannya ke air mendidih, dan membumbui. Perlu ditunggu untuk melihat sayur sudah matang dan mematikan kompornya. Saya tidak tahu berapa lama menunggunya, yang jelas pemasak tidak boleh meninggalkannya demi mematikan api kompor pada saat yang tepat. Siapapun pemasak yang tengah letih, besar kemungkinan untuk istirahat saat menunggu, hingga teledor melupakan kompor yang masih menyala. Dalam keadaan begini, ibu berjuang melawan letihnya demi menyiapkan sayur lodeh terbaik.

Setelah makanan siap santap, ibu biasanya menunggu di ruang tengah sambil nonton, dan siap-siap membukakan pintu. Saat terdengar suara gesekan selot pintu gerbang, ibu mengintip lewat jendela, siapa tahu anaknya pulang. Ternyata bukan. Begitu terdengar lagi ada suara pintu gerbang dibuka, ibu kembali mengintip ke luar. Terdengar suara motor berhenti di depan rumah, ibu bergegas melihat, barangkali anaknya pulang menumpang temannya yang bawa motor. Terdengar suara deru mesin mobil, pandangan ibu kembali berpaling dari televisi, mungkin saja anaknya sudah sampai depan rumah. Ibu terus menunggu dalam letihnya, hingga terlelap tidur lupa mematikan televisi.

Saat badan sudah sedemikian letih, akankah saya melakukan hal yang sama?

***

Memasak untuk anak-anaknya dan menanti untuk makan bersama. Dua hal yang biasa, sederhana, dan mudah untuk ibu. Dilakukannya setiap hari untuk keluarganya. Meski anak seringkali tidak menyadarinya, ibu masih saja ingat dan tak pernah berhenti berharap untuk bisa menikmati hidup bersama anak-anaknya. Begitulah ibu dengan cintanya yang sederhana. Bahkan saking sederhana dan biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, cintanya seringkali tidak disadari.

Ah, selain melihat anak-anaknya makan dengan begitu lahap, ibu pasti juga ingin dibantu saat masak, dan ditemani makan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Adit Purana
Seorang warga dari pinggir Kota Bandung yang gemar jalan-jalan menelusuri hiruk-pikuk kehidupan di negeri ini, terutama sisi lain kehidupan pinggiran yang jauh dari popularitas. Selalu tertarik dengan tema Kesederhanaan dan Kebersahajaan. Penikmat Bus DAMRI yang suka naik angkot. Setelah merampungkan sekolah Psikologi jenjang S-1, melanjutkan studi untuk bidang yang lebih spesifik: Magister Psikologi Sosial. Menjalani keseharian dengan beraktivitas di bidang sosial melalui forum-forum, komunitas, dan tim kecil.
  • witri

    semoga Allah selalu melindungi ibu…dimanapun ibu berada…aamiin Ya Rabb

  • Dpra PKS Jayi Majalengka

    katakan CINTA untuk ibu
    balas kebaikannya
    dan do’akan ia

Lihat Juga

Cara Rasulullah Mencegah Anak Muda Berzina