Home / Berita / Opini / Tradisi “Bakar Uang” di Langit Mencederai Rasa Keadilan

Tradisi “Bakar Uang” di Langit Mencederai Rasa Keadilan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Antara)
Ilustrasi. (Antara)

dakwatuna.comBerbagai cara masyarakat dunia dalam menyambut tiap pergantian tahun, tak ketinggalan masyarakat Indonesia ada yang pesta kembang api, panggung hiburan dan beberapa pesta rakyat lainnya. Beberapa jam yang lalu kita baru saja memasuki tahun baru masehi 2014 dan mungkin sampai saat ini masih terasa suasana tahun baru. Bagi orang-orang yang berduit tak lengkap rasanya tahun baru tanpa kembang api. Pesta kembang api di seluruh kota-kota besar dunia dan Indonesia pada khususnya sudah menjadi budaya untuk merayakan perpindahan tahun baru dengan aksi pesta kembang api “bakar uang”, sebagai tanda memasuki tahun baru.

Jika kita hitung-hitung biaya yang dikeluarkan oleh para penguasa dan orang-orang yang berduit di seluruh wilayah Indonesia untuk aksi pesta kembang api mungkin menghabiskan ratusan juta bahkan hingga milyaran rupiah. Sebagai contoh Pemda DKI tahun 2014 ini menggelontorkan dana Rp 1 miliar untuk hajatan masyarakat Jakarta dalam menyambut tahun 2014. Beberapa kota lain di Indonesia juga melakukan hal yang sama.

Memang bagi mereka para penguasa dan orang-orang berduit tidak ada salahnya memeriahkan pergantian tahun dengan aksi ‘’bakar uang di langit’’. Namun miris sekali rasanya jika aksi bakar uang tersebut dimotori oleh pemerintah. Karena saat yang sama, Indonesia saat ini sedang mengalami krisis multidimensi. Angka kemiskinan Indonesia mencapai 28,07 juta atau sekitar 11,37 %  dari total penduduk Indonesia 250 juta jiwa (BPS Maret 2013). Belum lagi persoalan-persoalan sosial lainnya,  sehingga aksi ‘’bakar uang di langit’’ bagi masyarakat kecil menilai aksi pesta Kembang Api yang menghabiskan dana hingga milyaran Rupiah tersebut sangat mencederai rasa keadilan.

Sebab dalam pandangan mereka dana sedemikian besar dapat digunakan untuk penghilang rasa lapar dan membeli obat untuk menyembuhkan penyakit serta membuat pintar anak-anak yang putus sekolah. Hal ini karena realitas di masyarakat kita memang masih banyak orang yang lapar, orang yang membutuhkan obat serta orang yang ingin belajar namun putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Mungkin dengan menghamburkan uang di langit di penghujung tahun Anda mendapatkan kegembiraan sesaat, tetapi kegembiraan itu mungkin saja didapatkan di atas penderitaan orang lain, karena boleh jadi mereka melakukan pesta kembang api, di saat ada orang lain yang tengah sakit keras dan tak bisa mendegarkan suara bising, apalagi suara ledakan kembang api. Bayangkanlah bagaimana perasaan Anda, jika orang yang tengah sakit keras itu adalah ibu kandung Anda, apalagi jika ibu kandung Anda mengidap penyakit jantung. Dengan pertunjukan ‘’ bakar uang’’ yang dilakukan di sekitar masyarakat kecil itu, secara refleks mereka merasakan ketidakadilan yang dianggap dilakukan para penguasa dan orang berduit tanpa mempedulikan kondisi mereka. Pada aksi ‘’bakar uang’’ di langit ini, si orang kecil hanya bisa bergumam dalam hati, membunyikan protes mereka terhadap kondisi yang ada.

Terdengar ada beberapa pihak yang berupaya menyampaikan suara hati mereka, dengan menyampaikan protes itu terhadap pihak penguasa, namun apa daya semua sudah terjadi, hanya berharap teriakan kecil itu menjadi catatan kecil di akhir tahun depan. Harapan agar di tahun-tahun yang akan datang semoga para penguasa dan orang-orang berduit terketuk hatinya agar kiranya biaya yang biasanya dihabiskan tiap tahunnya dalam memeriahkan pergantian tahun dengan aksi ‘’bakar uang di langit’’. Tidak ada salah nya disumbangkan untuk mereka-mereka masyarakat kecil yang membutuhkannya untuk bisa bertahan hidup.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat mengingatkan kita semua dan khususnya pribadi penulis, bahwa pesta kembang api sungguh merupakan perbuatan sia-sia, bahkan boleh jadi kita akan berdosa bila melakukannya. Jauh lebih baik jika uang kita dibelanjakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan untuk amal, daripada dibelikan kembang api dan terbuang percuma tanpa ada manfaatnya bagi orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 7,72 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mansur Amriatul
Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Semarang & Penulis Lepas Media Online
  • Sue Lastri

    Semoga para hati yg berduit dibukakan pintu hatinya untuk menolong saudara2 kita yg bernasib kurang beruntung ! Allohumma Amin.

  • daya

    Gegap gempita suara petasan mlm thn baru yg paling menderita adalah orang2 sakit. Apalagi sakitnya parah seperti sakit jantung. Coba bayangkan kalo diri kita yg sakit atau ortu, anak kt, nenek kakek kt. Mencederai rasa keadilan sekali. Padahal sebesar biji zarahpun akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT

  • DUduKtekUN

    Masyarakat kita tak terkecuali Muslim sudah banyak yang sakit secara kejiwaan. mereka seperti terserang kesurupan yang mudah menular, melihat sekeliling ramai mereka gelisah ingin ikut ramai pula. mereka sibuk mencari/membeli keperluan untuk pesta2 tak terkecuali yang sehari-hari hidupnya serba kekuranganpun bersiap siap walau hanya jagung bakar, saya amati dari +/-100 kepala keluarga dilingkungan pada saat pergantian tahun 2013 ke 2014 tidak lebih hanya 10 KK yang menganggap perayaan tahun baru hanya hal biasa (tentu yang muslim saja). berarti ada yang salah mulai dari pemimpin pemerintahan (yang muslim), pemimpin keagamaan (muslim) dan diri kita. persoalannya bukan orang berduit atau tidak tapi apakah perayaan itu dibenarkan menurut islam?.

Lihat Juga

Pernyataan Sikap PBNU Terkait #AksiDamai411: “Saatnya Memenuhi Rasa Keadilan Masyarakat”