Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Malaikat Tua” Penjual Amplop

“Malaikat Tua” Penjual Amplop

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (eplus.webtogo.com.ph)
Ilustrasi (eplus.webtogo.com.ph)

dakwatuna.com “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir: 29)

Beberapa hari yang lalu, masuk sebuah sharing tulisan di salah satu grup WhatsApp, menceritakan kisah nyata seorang kakek tua yang berjualan amplop putih di masjid Salman ITB Bandung. Di bawah tulisan, dikirimkan juga foto profil penjual amplop tersebut.

Inti tulisan tersebut adalah, bahwa ada beberapa orang berusia lanjut termasuk si kakek itu yang masih berusaha untuk mencari rezeki dengan berjualan apapun, entah itu amplop, mainan anak, pakaian/sepatu loak, pakaian sisa impor dan sebagainya. Sebagian dari kita selalu berfikir realistis, kalau kita tidak perlu, maka kita tidak akan membeli barang. Namun hendaknya kita memberi pengecualian, sekiranya ada dana lebih di saku/dompet kita, jangan berfikir butuh atau tidak barang yang dijual, niatkan untuk menolong mereka yang berjualan di usia senja. Siapa tahu barang yang kita beli bisa bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan, setidaknya sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Dengan membantu mereka, itu lebih baik dan berharga serta layak dibanding kita memberikan kepada peminta-minta yang terkadang malah masih muda usianya, masih segar dan terkadang berbadan gempal, tanda ia tak pernah kelaparan

Bisa jadi kita berfikir, saat membeli barang kepada mereka, kita telah membantu mereka. Namun jika kita coba balikkan pernyataannya jadi seperti ini “Bisa jadi dengan adanya mereka, kita terbantu untuk mengeluarkan uang sebagai sarana sedekah/infaq, karena bukankah terkadang kita begitu sulit untuk mengeluarkan harta untuk keperluan dan tabungan di akhirat??”.

Bisa jadi sebenarnya para pedagang yang jujur dan berjualan dengan jenis barang yang semampu mereka jual, sebenarnya adalah “jelmaan malaikat” yang mengajak hati kecil kita agar terketuk untuk meringankan langkah mereka mengais rezeki. Yang berjualan dengan tidak memberatkan transaksi jual beli, mencari untuk sekadarnya, dan berharap berkah dari kegiatan yang mereka jalankan.

Begitupun kisah “malaikat tua” penjual amplop, yang terkadang seharian tidak laku dagangannya. Terkadang kalau laku pun, bisa kita bayangkan keuntungannya. Untuk 1 amplop seharga Rp 1.000. Ia hanya mendapat untuk Rp 250 perak. Jika ada yang membeli 10 amplop seharga Rp 10.000. Keuntungannya sebesar Rp 2.500 pun mungkin hanya cukup untuk beli gorengan.

Semoga kita diringankan untuk berbelanja di tempat-tempat yang mendatangkan berkah. Dan menjadikan kita lebih bersyukur dengan kondisi saat ini yang pastinya lebih baik dari mereka. Semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengelola fans page Menjaga Semangat melalui kata-kata di Facebook, Gabung yuuk untuk kisah menarik lainnya. **Karena kita hidup tidak untuk sendiri melainkan untuk berbagi**
  • Joko Sampurno

    wah saya salah seorang yg menyaksikan si kakek yg stay di gerbang salman sembari berjualan amplop tersebut.. jujur saya kagum dgn beliau..sayang sekarang sy nya sudah di luar jawa

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Muda dan Tua