Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di-Follow Penduduk Langit

Di-Follow Penduduk Langit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Apa rasanya jika kita mempunyai ribuan atau bahkan puluhan ribu pengikut di akun media sosial kita? Setiap postingan selalu menjadi viral dan menjadi perbincangan orang banyak, di-like, di komentari, dan dishare oleh ribuan orang. Tentu akan menjadi kebanggaan dan kesenangan tersendiri bukan?

Nah, bagaimana kalau paradigmanya kita rubah, jika tadi kita mempunyai banyak pengikut di dunia sudah sedemikian senangnya, bagaimana rasanya jika followers kita adalah para penduduk langit? Yakni para malaikat yang senantiasa bertasbih kepada Allah SWT, hal ini selaras dengan sabda Nabi SAW.

“Sesungguhnya jika Allah SWT mencintai seorang hamba, maka Jibril pun berseru, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Kemudian Jibril juga mencintainya, lalu Jibril berseru ke langit, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka semua yang ada di langit mencintainya, serta diberikan tempat yang luas baginya untuk dicintai di bumi,” (Muttafaqun Alaih).

Setiap aktivitas kita diberi “komen”oleh para malaikat berupa doa-doa kebaikan, di “like” sebagai tanda ridha dan senang terhadap apa yang kita lakukan, dan diviralkan menjadi bahan perbincangan penduduk langit, tentu ini menjadi karunia tersendiri.Tapi bagaimana caranya agar kita menjadi “selebgram”, istilah untuk seseorang yang mempunyai banyak pengikut di akun media sosial instagram, agar para penduduk langit menjadi followers setia kita? Tentunya dengan mengundang cinta Allah, karena dengan CintaNya maka penduduk langit dengan sendirinya akan menjadi followers setia kita.

Dalam kitab Madarij As-Salikin, Imam Ibnul Qayyim al-Jauzi menyebutkan ada beberapa hal yang dapat mengundang cinta Allah kepada kita.

Pertama, dengan membaca Al Qur’an sembari merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan seperti seseorang ingin memahami sebuah buku, yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku.

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib.  Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali.

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, inilah yang begitu istimewa, yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian  dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah SWT.

Itulah tips dari Imam Ibnul Qayyim agar kita di-follow oleh para penduduk langit. Intinya dengan meningkatkan taat sembari menebar manfaat terhadap sesama dan menjaga diri dari perbuatan maksiat, niscaya kita menjadi “selebgram”di langit, jika sudah di-follow oleh para penduduk langit, maka penduduk bumi akan mem-follow kita dengan sendirinya.

(SaBah/dakwatuna)

Advertisements

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...
Arya Jagad Pamungkas, pemuda kelahiran Depok, 06 Januari 1994, lulusan Diploma 3 Bina Sarana Informatika pada 2015 dan S1 di STMIK Nusa Mandiri pada 2016. Semasa kuliah di Bina Sarana Informatika, ia menjabat sebagai Ketua Cabang Depok Lembaga Dakwah Kampus BSI pada tahun 2013, setahun berikutnya mendapat amanah menjadi Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus BSI se Jabodetabek, selain aktif di organisasi kampus, Arya juga aktif di organisasi luar, tercatat pernah menjadi koordinator kaderisasi Pemuda Persatuan Umat Islam Kota Depok pada tahun 2015, saat ini Arya bergabung dengan Forum Lingkar Pena Jakarta

Lihat Juga

Malaikatku yang Sempurna