Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Aktivis, Pasivis Pokoknya Jangan Apatis

Aktivis, Pasivis Pokoknya Jangan Apatis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Kehidupan kampus, ibarat miniatur negara. Lembaga formal kemahasiswaan ibarat lembaga yang terdapat di pemerintahan. Siapa yang berada di sana pastilah memiliki kepentingan. Kepentingan itu adalah kebaikan. Seperti siapa yang berpikir bahwa politik itu kotor, menghindarinya adalah membiarkan penjahat beraksi di sana. Para aktor yang mengisi kursi di lembaga formal kemahasiswaan bukan hanya orang yang ingin mengisi waktu luangnya, bukan pula orang yang hanya ingin menambah teman dari jurusan lain. Tapi belajar menjadi pemimpin dan mengurusi warga kampus. Dan membagi waktu antara organisasi dan kuliah adalah romantisme perjuangan.

Lepas dari seragam putih abu-abu, menginjakkan kaki di kampus masing-masing dan bertemu dengan berbagai macam orang yang pemikirannya berbeda merupakan tantangan. Kita terbawa dengan pemikirannya atau kita yang membawanya ke dalam pemikiran kita. Cara berpikir itulah yang akan mempengaruhi gerak dan langkah kita. Mudah sekali melihat kenyataannya, wajah cerah para organisator. Belum lagi pesona dan aura mereka yang bertebaran saat memberikan sambutan dalam suatu acara atau bahkan ketika orasi dalam suatu aksi mahasiswa di tengah teriknya Matahari. Mereka yang mendapat gelar aktivis itu punya ruang gerak yang banyak. Memiliki waktu yang sama dengan para pasivis. 24 jam dalam sehari, namun mereka memiliki estimasi waktu untuk melakukan banyak hal. Perbedaan dengan pasivis hanyalah mereka tidak memikirkan apa yang dipikirkan aktivis. Pasivis pergi ke kampus untuk kuliah lalu pulang. Aktivis pergi ke kampus untuk kuliah dan melakukan sesuatu yang berguna selesai kuliah. Menjadi aktivis dan pasivis adalah pilihan.

2014 adalah tahun panas. Di mana nanti ada pemilu, penentu pemimpin Indonesia selanjutnya. Masa depan Indonesia ada di tangan masyarakatnya, pemudanya, anak-anaknya. Beberapa minggu lalu di Perpustakaan UI diadakan Rock The Vote yang tidak lain adalah acara yang beragendakan pencerdasan untuk para Mahasiswa Baru pada pemilu 2014 nanti. Mengapa menggunakan hak pilih itu penting. Sebab juga Mahasiswa menyandang 5 fungsi Mahasiswa sebagai berikut; Direct of Change, Agent of Change, Iron Stock, Moral force, Social Control. Dan kelima fungsi tersebut adalah percuma jika hanya sebagai retorika dan bahan hafalan. Sebab pemahaman itu harus disertai dengan aksi nyata.

Jika sebagai Mahasiswa, kaum intelektual tidak memiliki kesadaran sosial untuk lingkungan sekitarnya maka di mana generasi yang membawa perubahan?

Saya optimis, bahwa pasivis tidak melulu orang yang apatis. Meski mereka bukan aktivis, setidaknya memungkinkan mereka memiliki pemikiran yang bergerak. Mendukung teman-teman Mahasiswa yang turun ke jalan, mendukung aksi sosial teman-teman Mahasiswa bahkan sampai mengikuti acara yang diselenggarakan. Sebab tujuan dari acara sosial itu juga guna mencerdaskan masyarakat. Bagaimanapun juga Mahasiswa itu aset bangsa Indonesia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shofiyah Qonitat
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Sulung dari 5 bersaudara ini memiliki motivasi yang tinggi dalam menulis. Modal utama menulisnya adalah rasa. Pernah bercita-cita menjadi dokter. Sedang berusaha membersihkan partikel tidak penting di hidupnya dan ingin sekali membahagiakan orang tua.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Balada Aktivis Peradaban

Organization