Home / Berita / Nasional / Sertifikasi Halal Sebaiknya Dikenakan Bagi Obat Bebas

Sertifikasi Halal Sebaiknya Dikenakan Bagi Obat Bebas

Toko yang menjual produk halal (inet)
Toko yang menjual produk halal (inet)

dakwatuna.com – Jakarta.  Anggota Komisi IX DPR RI, Zuber Safawi menyatakan hal yang paling mendesak dalam pelabelan produk halal terutama pada golongan obat bebas atau yang biasa dijual di warung.   “Alasannya, obat bebas dengan mudah dikonsumsi masyarakat, prinsipnya menjadi tidak darurat lagi karena frekuensi konsumsinya lebih sering,” jelas dia, Ahad (15/12).

Sertifikasi Halal Sebaiknya Dikenakan Bagi Obat Bebas   Data Badan Pusat Statistik 2012 menunjukkan, sebanyak 91,04% populasi di Indonesia menggunakan obat modern, sedangkan hanya 24,33% saja yang menjadi konsumen obat tradisional.

Data lain menunjukkan uang yang dihasilkan dari penjualan obat nasional pada 2011 mencapai US $ 4,4 miliar atau sekitar Rp. 44 triliun lebih, dengan pertumbuhan per tahun mencapai 11%.   Obat bebas membukukan pendapatan 40% atau sekitar Rp. 17,6 triliun, sedangkan sisanya dari obat resep.

Jumlah fantastis tersebut menunjukkan betapa untungnya perusahaan farmasi karena konsumen loyal obat Indonesia.  Hal ini seharusnya menjadi fokus pemerintah sebagai regulator untuk bagaimana lebih mengutamakan perlindungan terhadap hak-hak konsumen Indonesia, ketimbang kepentingan pemilik modal.

Perkara apakah obat tanpa label halal nantinya tetap dikonsumsi masyarakat, itu merupakan pilihan.  Namun, sebagai konsumen, adalah hak masyarakat untuk mendapatkan kepastian, keamanan, dan kenyamanan dalam mengkonsumsi obat.

 

LPPOM-MUI diminta Sosialisasi

Mengenai sulitnya proses sertifikasi halal bagi obat, Zuber meminta pihak LPPOM MUI sebagai lembaga yang berwenang melakukan sertifikasi halal, melakukan sosialisasi, apakah kenyataannya seperti itu.  Hal itu sangat penting agar klaim-klaim sepihak yang menyudutkan bahwa sertifikasi halal bagi obat itu tidak mungkin dilakukan.

Kenyataannya, di lapangan ada beberapa jenis obat, sebagian besar herbal, yang lolos sertifikasi halal.

Salah satu fatwa MUI yang sangat penting adalah soal status alkohol, terutama yang banyak digunakan sebagai pelarut obat atau sebagai katalisator (zat yang ikut dalam proses pembuatan), meskipun alkohol tersebut tidak ada dalam produk akhir.

Fatwa bernomor 11 tahun 2009 tentang Alkohol itu antara lain menyebutkan: penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamar (yakni minuman yang disengaja mengandung alkohol, sesuai  tujuannya untuk menghasilkan minuman keras), termasuk alkohol hasil sintesis kimiawi (petrokimia) atau industri fermentasi non-khamar, untuk produksi makanan, minuman, kosmetik, dan obat-obatan, hukumnya adalah mubah (boleh).

Fatwa tersebut secara eksplisit menyebut, asal alkohol bukan berasal dari produk minuman beralkohol (minuman keras) atau   khamar, namun terbuat dari sintesis kimia, petrokimia, atau fermentasi non-khamar, maka dibolehkan untuk digunakan sebagai obat.(sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (lady.gazeta.kz)

Obat Herbal, Siapa Bilang Selalu Aman?