Home / Berita / Opini / Energi ke-3 PKS

Energi ke-3 PKS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Logo Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

dakwatuna.com Makin dekatnya pemilu 2014, membuat kader PKS ‘dipaksa’ melakukan begitu banyak amal pemenangan, konsolidasi, bahkan adu argumen: akan hal ide pemenangan mana yang mesti dieksekusi duluan, mana yang akan ditunda. Hadir di semua Arena.

Mempertajam semua sisi pergerakan, mengurai semua hasil: dalam rangka menghadirkan pola pengukuran keberhasilan yang lebih benderang. Meningkatkan eskalasi, juga memperluas partisipasi kader dan simpatisan.

Dan seterusnya…

Hari ini, Alhamdulillah, badai sudah berlalu, tapi sesungguhnya bersamaan dengan itu, tidak pernah ada yang berubah dari kita. Kriminalisasi ust Luthfi sudah sangat jelas akan ke mana arahnya, semua kejanggalan persidangan membuat kita makin menyadari betapa benderang skenarionya. Alih alih kasus ini membuat pecah, ukhuwah dan semangat para kader, melainkan justru, dizhalimi, menjadi bahan bakar tersendiri bagi PKS.

Dalam gelap dalam benderang, dalam sepoi atau taufan melanda, kita selalu memiliki cadangan energi abadi yang tak pernah habis. Sumber energi ini bukan berasal ashabiyah, bukan dari kesombongan kolektif, mengangkat diri tinggi bagai asap yang tak berisi. Apalagi kalau itu mesti berasal dari keberlimpahan dunia.

Setidaknya ada 3 sumber energi bagi kader PKS hari ini.

Pertama adalah niat sebagai urat nadi amal, bahwa niat kita ini menjadi penentu nilai dari keseluruhan amal pemenangan, kampanye, silaturahim, yang bersambung menjadi sejarah seharian penuh aktivitas dakwah kita. Yang karena pentingnya posisi niat itu, maka ia mesti selalu terjaga sepanjang waktu, tidak hanya di awalnya saja. Bahwa niat ini memiliki posisi yang jauh lebih penting dari amal. Karena itulah, kita tidak pernah kehabisan semangat, niat yang lurus ini menjadi sumber tenaga abadi yang menjadi penggerak di saat apapun, di saat lesu, pun semangat. Karena salah satu ukuran kelurusan niat tadi adalah ketika ia tetap bekerja baik di saat lesu. Sebagaimana tutur Mutaffaqalaih “…setiap kita akan dibalas berdasarkan apa yang kita niatkan…”

Kesadaran akan setiap perbuatan, setiap gerakan yang dibuat oleh masing-masing kader PKS dari masing-masing zamannya adalah mata rantai, batu bata dari bangunan peradaban yang jauh lebih besar dari sekadar menang pemilu, ini menjadi sumber pengarah teramat kuat dari segala godaan kesenangan dunia, kemalasan, dan seterusnya.

Lalu, kita meloncat pada bagian akhir hidup kita yang tak lama ini, jatah hidup kita yang begitu terbatas. Gambaran-gambaran tentang hidup adalah persinggahan sesaat, hidup adalah secelup jemari di tengah menyeberangi samudra, hidup tak ubah bagai senda gurau belaka! Dibingkai dengan pertanyaan teramat mendalam dalam Al Mu’min 115 itu, yang menjadi senandung harian dalam Al Ma’tsurat, pertanyaan langsung dari Sang Maha Tujuan, Rabb tempat kita kembali: “apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu main-main saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”

Kesadaran tentang batasan kerja di dunia ini, menjadi Sumber energi kedua yang selalu dapat mengembalikan arah pergerakan kader PKS pada arus semangat yang semestinya. Ia menjadi alasan tentang betapa pentingnya menanam saham amal jariyah, yang akan menambah pundi-pundi pahala, jauh setelah fisiknya tak lagi ada di dunia. Setiap batu bata bangunan peradaban yang ia sokong akan menjadi nilai mengalir baginya sampai kapanpun…

Di tengahnya, kita menemukan bahwa amal kita, gerak kita kepada masyarakat yang tidak juga dapat dibilang sedikit, meski kita tidak pernah dan tidak pernah dibenarkan untuk merasa hebat, merasa berjasa akannya. Tapi menyadari kenyataan bahwa kita telah berbuat, kita sering berbuat, apapun yang terjadi, sepanjang musim, sepanjang tahun, kita terus melayani. Bagi PKS tidak ada istilah musim politik dan bukan musim politik yang membatasinya bergerak, beramal, berbuat, melayani. Kenyataan itu menjadi energi sendiri bagi kita menyapa masyarakat, menyapa tetangga. Inilah energi ke3 itu.

Menyadari kita telah sering melayani, kita telah sering berbuat, apapun yang terjadi kita tetap melayani, #AYTKTM, membuat kita tidak lagi kehilangan alasan untuk bertatap muka dengan masyarakat, bersilaturahim. Kita tidak pernah dapat dijebak pada pertanyaan “Anda hanya bergerak saat musim kampanye saja!”

Inilah energi ke 3 itu, di keadaan tertentu ia menjadi topik bahasan yang akan membangun silaturahim, dengan bahasa yang sama sekali tidak perlu menunjukkan kesombongan, berbangga bangga. Karena itu dilarang! Tapi di awal sekali, kesadaran ini akan memberi energi bagi kita untuk melakukan langkah di awal hari, di setiap harinya.

Tiga Energi ini menjadi Alasan, menjadi keyakinan bahwa Allah akan menganugerahkan kemenangan oleh karenanya. Ia tak hanya menjadi keyakinan, tapi benar-benar mengejawantah menjadi Energi…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 8,42 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Kilang Minyak

Rofi Munawar: Dua Tahun Jokowi-JK, Sektor ESDM Belum Capai Progres yang Memuaskan