Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Semut, Guruku Hari Ini…

Semut, Guruku Hari Ini…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Dalam hidup ini, begitu banyak cerita dan kisah yang tak bisa diucapkan satu persatu. Roda kehidupan terus menggerus zaman, tanpa peduli orang-orang di sekitarnya. Dunia semakin panas oleh pengaruh globalisasi yang semakin menguasai umat manusia. Manusia tak lagi saling menyapa, musuh-musuh terlihat di segala penjuru dunia. Pertumpahan darah semakin merajalela, manusia-manusia tak ingat lagi kepada Tuhan-Nya. Miris, hati melihat kekacauan dunia ini. Semua mementingkan keegoan dan kekuasaan dengan merampas yang bukan hak-nya, yang berkuasa menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Saling menerjang satu sama lainnya, seperti para zombie yang membutuhkan darah segar untuk bertahan hidup.  Segala upaya dan cara dilakukan untuk bertahan hidup.

Tidak ingatkah kita, kita hanyalah seonggok tanah yang tak berarti apa-apa tanpa campur tangan Allah SWT. Dunia ini, membutuhkan tangan orang-orang yang rela berjuang di jalan-Nya. Semua yang diciptakan oleh Allah, tak ada yang sia-sia, cacing sekalipun Allah ciptakan dengan tujuan dan maksud tertentu, apalagi manusia. Dalam QS. As-Shod ayat 27 Allah SWT berfirman, Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat). Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus menyadari terhadap tujuan hidupnya.

Dunia ini telah tua dan gersang, bagaimana kita akan mengembalikannya menjadi indah, jika di antara kita masih terjadi baku hantam, perselisihan, dan perdebatan yang tak kunjung usai. Dunia kita akan menjadi indah, jika kita saling merangkulkan diri, berjabat tangan, saling memahami dan saling menghormati antara satu dengan lainnya. Setidaknya, kita belajar memulainya dari hal terkecil, dan dimulai dari sekarang.

Pada hari ini, aku menemukan guru yang mengajarkan aku arti kehidupan. Setiap hari, aku selalu menemukan semut yang berjalan bersama-sama, mengiringi teman-temannya dan bahkan ada beberapa di antara mereka yang menggotong temannya yang sakit. Rasa penasaranku cukup tinggi, melihat perilaku semut-semut kecil itu. Lama sekali aku mengamati perilaku semut-semut itu. Mereka saling menyapa, walaupun mereka harus berjalan sejauh mungkin, mereka juga menggotong temannya yang sedang kesusahan, dan satu hal yang sangat aku tekankan pada perilaku semut ini yaitu semut adalah makhluk Allah yang memiliki solidaritas yang sangat tinggi.

Aku berpikir, begitu hebatnya para semut ini. Mereka adalah makhluk kecil yang diciptakan oleh Allah, tanpa kita mengerti mengapa Allah menciptakan mereka. Ternyata, banyak sekali pelajaran yang aku temukan, dari perilaku para semut itu. Ada perasaan damai dan tenteram, ketika aku melihat perilaku semut-semut kecil itu. Aku terpekur dan merenung sejenak. Aku merasa malu, kepada semut-semut kecil itu. Belum banyak hal baik dan berguna yang kulakukan untuk orang lain. Masih ada tersisip rasa ego dan sombong  di dalam hati, yang harus aku buang jauh-jauh.

Teman, masih banyak hal-hal baik yang harus kita lakukan untuk mengembalikan sinar dunia ini. Walaupun hanya secercah, tetapi setidaknya dunia ini, tidak menjadi gelap karena tingkah manusia. Perdamaianlah yang lebih indah dari segala-galanya. Tak ada yang lebih indah dari perdamaian. Semoga kita bisa mengambil hikmah sekaligus pelajaran dari apa yang telah kita lihat, rasakan dan lakukan, agar kita menjadi insan yang lebih bijak dalam membuat keputusan dalam melangkah. Karena keputusan kita, menentukan hancur atau tidaknya dunia yang telah Allah SWT titipkan untuk kita. Selalu semangat dan optimis…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Afifa Izzatunisa
Mahasiswi Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Program Studi Pendidikan Dasar semester III. Lahir bulan Februari tahun 1990, Tembilahan, Riau.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Asma Ditha)

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku