Home / Narasi Islam / Ekonomi / Pedagang Akhirat

Pedagang Akhirat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Berdagang untuk mendapatkan akhirat, memudahkan dan tak menyulitkan, menerima sekadarnya saja yang menjadi haknya dan mengembalikan apa-apa yang menjadi hak milik orang lain.

 

Belasan tahun yang lalu, saat melintas di terminal blok M. Saat itu kondisi belum serapih sekarang, Pedagang kaki lima masih banyak yang masuk ke terminal, padahal terminal blok M dekat dengan perkantoran dan beberapa gedung pemerintahan, seharusnya sudah tertata rapi.

Langit sudah beranjak gelap, seperti biasa yang namanya orang kalau melewati tempat orang jualan, pasti lihat-lihat atau window shopping. Saat melintasi seorang penjual, apesnya, tiba-tiba dipaksa untuk beli, mengingat kondisi yang tidak mendukung (banyak preman merangkap penjual), dengan terpaksa akhirnya membeli barang yang tidak dibutuhkan tersebut.

Beda lagi ceritanya saat membaca kisah Yunus Bin Ubaid, pedagang perhiasan di zaman tabiin ini, malah memaksa pembelinya untuk menerima uang lebih dikarenakan saat tokonya dijaga oleh saudaranya, saudaranya menjual dengan harga lebih tinggi dari seharusnya.

Berapa banyak pedagang yang masih seperti penjual di terminal blok M itu, mencari untung dengan menghalalkan berbagai cara, kadang ada yang sengaja tak memasang daftar harga, ketika dibayar harganya 2-3 kali lipat. Mungkin mereka tidak menyadari, bahwa ketika pembeli dizhalimi maka doa mereka pun menjadi mudah untuk diijabah/dikabulkan. Lalu jika ada satu-dua orang yang dengan sadar menyumpah serapah, sehingga apa yang harusnya menjadi untuk bagi pedagang, akhirnya malah membuat hidupnya menjadi tidak barakah, makanya banyak orang yang merasa bahwa harta yang didapatkan sepertinya lekas habis dan tak jelas wujudnya.

Pedagang seperti Yunus Bin Ubaid lah yang berdagang untuk mendapatkan akhirat, memudahkan dan tak menyulitkan, menerima sekadarnya saja yang menjadi haknya dan mengembalikan apa-apa yang menjadi hak milik orang lain.

Pedagang yang berorientasi pada akhirat, tidak sekadar mengejar keuntungan finansial semata namun terkadang banyak juga yang mencari kebahagiaan agar dirasakan pada orang yang membeli barang-barangnya. Kalau seperti itu, maka ketika tujuan membahagiakan orang lain tercapai, sejatinya kebahagiaan untuk dirinya pasti dirasakan juga dengan sendirinya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengelola fans page Menjaga Semangat melalui kata-kata di Facebook, Gabung yuuk untuk kisah menarik lainnya. **Karena kita hidup tidak untuk sendiri melainkan untuk berbagi**

Lihat Juga

Umar dan Era Kompetitif