Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memaknai Hijrah Rasulullah SAW

Memaknai Hijrah Rasulullah SAW

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comDetik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Begitulah waktu terus berjalan tanpa henti. Meninggalkan segala yang telah terjadi dan menjadikan misteri yang akan datang. Inilah yang menjadikan waktu begitu berharga apa yang kita perbuat tidak akan kembali dan akhirnya penyesalan ataupun kepuasan yang kita alami menjadi sebuah hasil dari yang telah kita lakukan.

Tak terasa tahun baru hijriah telah datang kembali, banyak yang telah kita lalui di tahun ini. Berbagai cerita pun datang menjadikan sebuah pengalaman yang menjadikan guru yang paling berharga bagi diri kita, yang menjadikan solusi di kemudian hari untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

1 Muharram menjadi perayaan tahun baru Islam yang ditandai dengan hijrahnya Rasulullah ke madinah. Bagaimana Rasulullah menghadapi serangan bertubi-tubi di Mekah oleh kaum Quraisy, sehingga Rasulullah hijrah ke madinah dengan maksud untuk menyebarkan Islam di luar Mekah. Rasulullah dan sahabat bukan bermaksud meninggalkan Mekah dan lari untuk tidak berdakwah di Mekah, tetapi Rasulullah menyiapkan generasi-generasi di madinah untuk kembali ke Mekah dan menguasai Mekah dengan Islam. Di Madinahlah Islam berkembang dengan cepat dan akhirnya Rasulullah kembali ke Mekah dan menguasai mekah dengan Islam.

Kita dapat belajar dari kisah hijrah Rasulullah bagaimana Rasulullah tetap berdakwah di Mekah bertahun-tahun dengan cacian dan makian walaupun yang masuk Islam sedikit Rasulullah tetap mempunyai visi yang besar untuk menjadikan Mekah sebagai pusat peradaban Islam, berbagai cara telah dilakukan. Hingga sampai dirasa di Mekah tidak lagi kondusif untuk berdakwah, barulah Rasulullah memutuskan untuk berhijrah untuk menyiapkan generasi untuk tetap mengislamkan penduduk Mekah. Inilah yang harusnya di teladani umat saat ini, bagaimana ketika lingkungan sangat sulit untuk diubah, maka perlu menyiapkan generasi untuk tetap dapat mengubah lingkungan tersebut dengan generasi yang lebih matang dan siap untuk menjadi pionir dalam meneruskan aktivitas dakwah.

Orang besar adalah orang yang mengurusi hal-hal yang besar. Percayalah ketika kita berada dalam suatu barisan yang tersusun kokoh dengan visi yang besar untuk membumikan Islam, maka di sinilah setiap pos-pos dakwah berperan penting terhadap kesuksesan dakwahnya, sehingga ketika di setiap pos-pos dakwah ini telah menjadi kuat maka visi yang besar pun akan menjadi kenyataan. Dan inilah yang menjadikan saksi bahwa kita mempunyai andil besar dalam mewujudkan visi yang besar, untuk menjadi orang yang besar.

Dengan pergantian tahun mari bersama mengevaluasi diri, dan jadikan segala aktivitas menjadikan impian besar untuk menciptakan dunia yang Islami.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 6,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Teknik Lingkungan angkatan 2010 Universitas Mulawarman. Saat ini mengemban amanah sebagai Sekjend PUSDIMA Unmul.

Lihat Juga

Apakah Rasulullah SAW Menafsirkan Semua Ayat Al-Quran?