Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Negeri Laskar Pelangiku

Negeri Laskar Pelangiku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com 

Tak kutemukan lagi gemuruh suara takbir, tahlil dan tahmid mengiringi lebaran kali ini

Hanya yang terdengar di awal perayaan hari H saja, setelah itu lenyap bagai dihembus angin topan dahsyat tak tersisa

Entahlah, seakan tak ku lihat suasana yang begitu kurindukan dulu hadir di sini

Tak ku dengar suara-suara suka cita karena mendapat daging Qurban

Tahun ini dua kali ku tak jumpai sanak keluarga di kampung halaman merayakan lebaran bersama

Ku rindu kampung halaman….

Ku rindu Mamak, Bapak, Kakak, Adik-adik dan keponakan-keponakanku

Ku rindu suasana yang menggelayuti hingga nafas islami menyelimuti diri

Terbang dengan syahdu karena takbir selalu berkumandang

Adzan selalu ku dengar

 

Tak kutemukan nafas Islami di sini…

Negeri ini butuh da’i-da’i yang siap menyebarkan nafas islami hingga semuanya kembali kepada Ilahi

Bukan hidup bertuhankan harta dan bergelimang emas dan berlian

Namun, istana seperti kuburan yang terasa sunyi serta senyap seperti tak pernah terkunjungi dan tak berpenghuni

Di sini…, aku merasakan keringnya ruhiyah dan tak terwarnai dengan getirnya pengorbanan sang pahlawan tanpa tanda jasa

Di sini.., juga tak kutemui pengemis, gelandangan bahkan anak jalanan berkeliaran sekalipun

Semuanya memiliki pekerjaan dan berjuang untuk hidup

Kalau saja, kalian telusuri satu-persatu, ku yakin tak akan ditemukan warga miskin dengan kriteria tak memiliki papan.

Motor, rumah mereka miliki…hampir semuanya mereka miliki

Setiap hari pulang pergi rumah-kebun-kota dan kembali lagi ke rumah

Membangun rumah sendiri dari hasil jerih payah kebun sahang, karet dan timah

Ku lihat kerja keras yang tiada henti

Namun satu yang tak pernah bisa kumengerti

Letak keimanan yang tak pernah kudapati di istana-istana mereka yang terbangun megah dan mempesonaku

Kegigihan yang sangat kuacungkan jempol

Tapi, aku harus mengelus dadaku berulang-ulang karena tak kudapati keimanan yang mempesona

Keshalihan yang terpatri, karena bekerja dari pagi menjelang petang tiada henti demi mengejar duniawi

Berlomba-lomba membangun istana-istana, tapi pendidikan anak-anaknya pun tak termotori dengan semangat yang tinggi hingga angka putus sekolah pun tetap tinggi

Akhlak mulia dari bibir-bibir malaikat-malaikat kecilku karena di istananya mereka tidak tersentuh dengan nafas islami

Karena rumah bagaikan tembok yang tak berpenghuni

 

Kurindukan akhlak itu muncul dari malaikat-malaikat kecilku ini

Dengan wajah polos dan mata penuh arti

Mencari dan berjalan menyelusuri panasnya terik mentari menghampiri perjalanan mereka menuju negeri penuh taman Surgawi

Taman yang penuh dengan madrasah yang terpatri ilmu yang dicari

Pendidikan moral, pengetahuan dan ketuhanan

Aku yakin wajah-wajah itulah yang menerangi negeri ini dengan bakat-bakat yang akan aku dan teman-temanku terpatri di sini

Di Negeri Laskar Pelangi

Lahirnya generasi Rabbani pasti dari sini

Aku berdoa dengan keyakinan pasti, suatu saat negeri ini akan mengoyakkan hegemoni duniawi menjadi negeri yang penuh dengan aroma Surgawi

Jayalah anak-anakku, pacu terus semangat menimba ilmumu

Karena Ibu yakin kalianlah para Ahli yang dicari-cari itu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.

Lihat Juga

Ilustrasi. (bangsaonline.com)

Dari Masjid untuk Negeri Tercinta