Home / Pemuda / Cerpen / Menjemput Takdir dengan Indah

Menjemput Takdir dengan Indah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Pulang bareng ya cuy…” pesan singkat Ima mampir ke layar komputerku melalui jendela yahoo messenger. Malas sebenarnya pulang dengan Ima, karena dia pasti akan melanjutkan ceramah-ceramah panjangnya yang bikin kuping ini panas. Tapi pulang sendirian? Aku juga takut. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Sendirian di terminal bus? Di Jakarta? No!!! Berita pemerkosaan, perampokan dan beraneka cerita menyeramkan lainnya masih hangat di surat kabar ibukota. No! Lebih baik hatiku terbakar mendengarkan celotehan Ima dari pada harus pulang dengan rasa tidak tenang.

“Okay cuy… Bentar lagi yey… Tinggal dua file nih.”

“Okay… Gw tunggu di bawah.” Balas Ima lagi. Dengan cepat kuselesaikan file-file yang tersisa, mengelompokkannya ke folder-folder sesuai judul kegiatannya dan dengan cepat mematikan komputer. Ruangan kantor begitu sunyi, hanya aku yang tersisa di lantai ini. Ku sibukkan pikiranku dengan berbagai hal, agar tidak berpikir macam-macam. Sedikit berlari, ku percepat langkahku menuju lift. Otomatis jariku memencet G.

“Cuy…” Ima berteriak memanggilku, reflek kepalaku berpaling ke arah suaranya. Walau cuy bukan namaku, namun setiap kali Ima melontarkannya aku merasa itu adalah aku. Karena cuy memang panggilan khusus yang diciptakan Ima untukku. Entah artinya apa.

“Sorry ya lama… gila nih emak gue.”

“Santai aja cuy, gue ngerti lah emak lu gimana.” Ima cekikikan melihatku pasang muka hopeless. Ya… emakku itu memang suka nggak mikir kalau kasih kerjaan, beruntun dan banyak sekaligus. Terkadang kalau sedang dongkol tingkat tinggi ku panggil beliau “lampir”, seperti teman-teman di Taiwan memanggil majikan wanitanya. Entahlah ada kepuasan saja memanggilnya demikian.

“So gimana? Udah lu putusin pacar lo?” Baru beberapa langkah kami berjalan bahkan kaki ini masih mendarat di pelataran kantor Ima sudah memulai serangannya. Tak kujawab pertanyaannya, hanya menyeringai saja. Oh Ima please… I am so tired now!!

“Pasti belum!” Sambung Ima. Aku jadi semakin dongkol. Siapa dia? Ibu bukan… saudara bukan… kenal juga baru tiga bulan ini. Kok malah sudah mengatur-ngatur hidup gue?

“Cuy… gue cuma mengingatkan saja, karena itu adalah kewajiban gue sebagai saudara lo sesame muslim. Dalam Islam sudah jelas tidak ada kata pacaran kalau pasangan itu belum halal. Lu rasain sendirilah… nggak ada manfaatnya pacaran. Yang ada lu koleksi dosa doang.”

“Siapa bilang nggak ada?” Hatiku berontak keras. Dia saja yang tidak pernah pacaran, jadi tidak tau bagaimana rasanya diperhatikan. Lagian… aku nggak mau jadi perawan tua seperti dia! Oops… ku lirik Ima sekilas, yang tengah berjalan di sisiku. Jilbabnya melambai-lambai terbawa angin malam. Wajah yang mulai menapaki usia 30 masih terlihat cantik apalagi dengan senyuman yang selalu terukir menghiasinya, ya selalu begitu. Dipikir-pikir tidak ada yang kurang dari Ima. Anaknya pintar, berpendidikan, cantik dan yang pasti jauh lebih shalihah dibanding aku. Apa Ima terlalu pemilih? Ah entahlah…

“Bertanya kapan gue nikah, sama artinya nanya kapan gue mati. I never know! Cuma Yang Di Atas yang tau…” begitu jawab Ima ketika dulu aku bertanya perihal itu. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bertanya.

“Pikirkan baik-baik ya Cuy… semua demi kebaikan lo…” Ima yang tampak manis dari sudut mataku kembali menjadi sosok yang menyebalkan setiap kali dia mengungkit masalah putus-putus-putus dan zina-zina-zina! Oh Imaaaaaaaa….

***

“Bus kita Cuy!” Ima antusian dengan kedatangan Bus Patas yang perlahan mendekati terminal. Langkahnya semakin diperlebar dan sedikit berlari, cepat dia naik ke atas. Ku ikuti Ima dari belakang, dan betapa kecewanya mendapati semua tempat duduk sudah penuh terisi.

“Lo duluan aja Ma… gue bus berikutnya.” Kutinggalkan Ima. Seharian bekerja memang lebih sering duduknya, namun berdiri selama sejam di bus sangat melelahkan. Apalagi nanti akan banyak ngetemnya… macetnya… ah tidak! Belum lagi berdempet-dempetan dengan pengamen yang tetap maksa ‘manggung’ walau tau keadaan bus sudah seperti kaleng sarden. Penuh dan sesak!

“Barenglah…” Ima ikutan turun, dan kini telah kembali berada di sisiku. Tak berapa lama bus lain datang, lebih kosong dan kami berdua dapat tempat duduk berdampingan.

“Sabar memang indah ya….” sambung Ima.

“So true! Kalau memang sudah jatahnya, enggak bakal ke mana.” Balasku antusias. Senang sekali bisa mendapatkan tempat duduk. Walau seberapa macet pun jalanan, kalau sudah duduk mah aman. Tinggal tidur. Hehehe.

“Sini nak… sini…” seorang Ibu paruh baya tergopoh-gopoh masuk ke dalam bus. Tangannya penuh membawa tiga bungkus plastik dan seorang anak berusia sekitar 10 tahun berdiri gugup di belakangnya.

“Sini… pegang baju Ibu aja.” Diraihnya tangan si anak dan menaruhnya di sisi bajunya sebelah kanan. Kuperhatikan di kursi sebelah si ibu, seorang bapak-bapak. Pun di depannya seorang pria dan gadis muda. Tidak ada seorang pun yang menawarkan tempat duduk bagi mereka. Ku alihkan pandangan kea rah Ima, dia membalas penuh arti seakan tau apa yang bergejolak di pikiranku. Tanpa menunggu lama dianggukkannya kepalanya cepat, “Nggak papa… kita berdiri aja. Deket ini…” lanjut Ima. Aku ikutan manggut-manggut dan berdiri mempersilakan si Ibu dan anaknya untuk duduk. Si Ibu menolak, setelah agak dipaksa baru akhirnya beliau duduk.

“Hehehe… ternyata kita memang ditakdirkan untuk berdiri.” Ku sikut Ima yang masih senyum-senyum aja.

“Yoi Cuy… tapi kita menempuh takdir kita dengan jalan yang indah.” Keningku berkerut, bekerja keras dengan otak mencerna kalimat Ima.

“Iya… kita sudah menjemput takdir kita dengan cara yang indah.” Ulang Ima, aku masih tidak mengerti.

“Maksud gue gini cuy… Kita memang sudah ditakdirkan untuk pulang dengan berdiri di dalam bus. Tadi kan sebenarnya bisa aja kita naik bus yang pertama lalu berdiri. Tapi kita memilih opsi kedua duduk kemudian berdiri. Namun kita dikasih kesempatan buat sedekah dulu, yakni memberikan tempat duduk kita untuk ibu dan anaknya tadi. Kurang indah apa coba? Ujung-ujungnya sama-sama berdiri tapi yang satu lurus-lurus aja menemui takdirnya yang satu pakai tantangan plus kesempatan beramal dulu…”

“Iya..ya…”

“Sama Cuy… jodoh juga gitu…” Kembali ku arahkan pandangan ke Ima. Apalagi ini??

“Siapa dan kapan kita bertemu jodoh kita itu semua sudah ditetapkan sama Allah. Kita mau pakai cara baik-baik, semi baik-baik bahkan tidak baik sama sekali kalau memang sudah ditetapkan… ya dialah jodoh kita. Jadi mengapa kita harus menjerumuskan diri dengan berpacaran kalau seseorang yang sudah nyata-nyata pasti buat kita sudah disiapkan? Kenapa kita tidak menjemput jodoh kita dengan cara yang lebih baik? Mungkin dengan meningkatkan kapasitas diri… menempa diri menjadi lebih baik… toh kalau memang itu sudah takdirnya tidak akan ke mana-mana. Janji Allah itu pastikan?” Ku tatap Ima, lebih dalam lagi. Tidak ada kesal seperti biasanya setiap dia berbusa-busa berceramah tentang pacaran. Entahlah… kalimat Ima barusan terasa begitu… begitu bersahabat dengan logikaku!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,11 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Jaufa
Seorang pelajar yang suka bercerita...

Lihat Juga

Surat Cinta untuk Jomblowan dan Jomblowati