Home / Narasi Islam / Dakwah / Ayo Lemparkan Tongkatmu!!

Ayo Lemparkan Tongkatmu!!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Orientasi Dakwah Kita

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Dakwah kita memiliki keunikan. Unik karena kita tidak hanya mengurusi perbaikan akhlak saja. Jika hanya mengurusi perbaikan akhlak saja, maka yang terusik hanya orang yang buruk akhlaknya. Dakwah kita bukan hanya mengurusi masalah fiqih saja. Karena Jika hanya masalah fiqih, maka yang terusik hanyalah orang yang fiqihnya berbeda dengan kita. Dakwah kita tidak hanya urusan politik, karena jika hanya urusan politik maka yang terusik hanya orang yang berbeda politik.

Dakwah kita adalah Syumuliyah, menyeluruh menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Sehingga dibutuhkan orang-orang istimewa untuk mampu mengemban misi dakwah ini. Maka patut kita syukuri bahwa Allah telah memilih kita menjadi bagian dari pengemban dakwah ini.

Firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 78

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agamamu…”

Orang Pilihan

Karena tugas ini berat maka dibutuhkan manusia yang berkualitas untuk memikul beban dakwah ini, Kita bersyukur Allah telah memilih kita, bukan yang lain. Bukan manusia yang di pinggir jalan, di pasar atau di cafe karena dakwah ini istimewa, hanya sanggup diemban oleh orang-orang istimewa.

Karena Allah telah memilih kita, maka Allah akan berikan kita kemampuan untuk mengemban misi dakwah itu. Seperti halnya nabi Musa yang diberi tugas mendakwahi fir’aun.

Sesungguhnya kita semua punya tongkat/ potensi/modal untuk melakukan kerja-kerja dakwah. Hanya saja sebagian besar dari kita belum atau tidak menyadari akan potensi yang ada pada diri kita.

Seperti halnya nabi Musa yang tidak menyadari akan fungsi tongkatnya ketika berdialog dengan Allah dari balik hijab di lembah suci Thuwa.

Dikisahkan suatu hari tanpa sengaja Nabi musa memukul seseorang yang sedang berkelahi dengan maksud melerainya, namun tanpa disangka orang yang dipukul tersebut mati. Lalu Musa lari untuk menghilangkan jejak hingga sampai ke negeri Madyan. Di sana bertemu dengan dua anak perempuan nabi Syuaib yang sedang menggembala kambing, lalu nabi Musa membantu memberi minum ternak mereka dan mereka memperkenalkan dengan ayah mereka. Singkat cerita akhirnya nabi Syuaib menikahkan salah satu putrinya dengan Nabi Musa.

Setelah sekian lama Nabi Musa hidup di negeri Madyan timbul rasa rindu akan kampung halamannya yaitu negeri Mesir, maka Musa berangkat membawa keluarganya menuju kampung halamannya. (Perjalanan Musa bukan dalam rangka berdakwah kepada Fir’aun, namun karena rindu dengan kampung halaman).

Ketika Musa dalam perjalanan di malam hari, dilihatnya nyala api lalu dia berkata kepada keluarganya:

“Tinggallah kamu di sini, sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu (untuk menghangatkan badan, memasak makanan) atau aku akan mendapat petunjuk di tempat nyala api itu”.

Ketika ia mendatanginya, dia dipanggil: “Hai Musa, Sesungguhnya aku adalah Tuhanmu maka lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah suci THUWA.

Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu…”

(Setelah Allah berfirman sekian banyak ayat tentang tauhid, Allah bertanya kepada Musa)

“Dan apakah yang ada di tangan kananmu hai Musa?”

Musa menjawab: “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya dan membabat tanaman untuk makan kambingku (dan menggiring kambingku), dan bagiku masih ada manfaat yang lain”

Dia (Allah) berfirman: “Lemparkanlah (tongkatmu) hai Musa!”

Maka Musa melempar tongkatnya, maka tiba-tiba berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat .

Dia (Allah) berfirman: “Peganglah ia jangan takut, kami akan mengembalikannya kepadamu dalam keadaan semula.”

“Dan kepitlah kedua tanganmu ke dalam ketiakmu niscaya ia keluar menjadi putih bercahaya tanpa cacat. Sebagai mu’jizat (ayat) yang lain. Untuk kami perlihatkan kepadamu (sebagian) dari tanda-tanda kebesaran (Kami).

Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas.”

Kisah di atas dapat kita tadaburi dalam surat Thoha ayat 10-24.

Perhatikan jawaban Musa soal tongkatnya. Dia menjawab bahwa tongkat itu hanya untuk bertumpu dan membabat tanaman untuk makan ternak, (seolah tongkat hanya barang sepele saja). Ternyata Allah memberi manfaat lain dari tongkat itu dengan syarat “Musa harus melemparkannya” untuk menghadapi Fir’aun.

Setiap kita memiliki potensi (tongkat) untuk berdakwah. Hanya saja kita belum “melemparnya” dalam arti belum memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh dan optimal. Sehingga selalu saja kita merasa berat, merasa tidak mampu melaksanakan tugas dakwah ke masyarakat.

Bergabungnya kita dalam jamaah adalah untuk mengumpulkan semua tongkat yang kita miliki menjadi kekuatan besar dan dahsyat untuk meringankan kerja-kerja dakwah. Mengolahnya dalam berbagai inovasi untuk menghadapi tantangan dakwah yang senantiasa berubah. Setiap manusia memiliki kekurangan, justru dengan kekurangan itu Allah hendak membangkitkan potensi saudara kita yang lain, sehingga tercipta kerja yang harmoni.

Jika seseorang berada dalam kumpulan orang-orang yang serba bisa, maka potensinya terkubur, ia merasa seperti lilin di tengah matahari. Namun Jika dia berhijrah terjun ke tengah masyarakat, maka segala potensi dan inovasinya akan keluar, dia akan menjadi lilin di tengah hutan belantara. Bermanfaat memberi petunjuk menerangi sekitarnya.

Apa yang perlu kita syukuri dari bergabungnya kita dalam dakwah ini? Banyak sekali yang perlu kita syukuri, di antaranya kita punya wakil walikota, punya gubernur, punya menteri dan masih banyak lagi.

Namun nikmat terbesar yang harus kita syukuri dalam bergabungnya kita dalam jamaah ini adalah: Kehendak Allah memilih kita untuk mengemban tugas dakwah ini, karena tugas ini sangat mulia yaitu tugas para nabi dan Rasul. Sama seperti Allah memilih Musa untuk tugas menghadap fir’aun (QS. Thoha: 13).

Apa yang dikatakan Musa ketika Allah perintahkan menghadap Fir’aun?? Apakah Musa mengelak dengan alasan memiliki utang budi sehingga merasa ada hambatan psikologis untuk mendakwahi Fir’aun?

Berapa persen kemungkinan Fir’aun akan menerima dakwah Musa??? 0,00001%, tetapi Musa tidak menolak apalagi gentar, Musa hanya bermohon kepada Allah seperti dialog selanjutnya masih dalam surat Thoha ayat 25-28.

Musa minta dilapangkan dada, minta dimudahkan urusan, minta diperbaiki cara berkomunikasi pada lisannya, supaya mudah dipahami ucapannya.

Medan dakwah yang dihadapi Musa sangat berat dan dahsyat, Fir’aun yang terkenal kekejamannya dan tukang sihir yang sangat mahir pada zamannya. Namun Musa tidak gentar menerima dan melaksanakan perintah Allah dengan satu keyakinan Allah bersamanya, Allah akan tunjukkan jalannya dan Allah akan memenangkannya.

Keyakinan ini sangat penting untuk jadi orientasi perjuangan dakwah. Sebab kalau dari awal sebelum bekerja sudah tidak yakin, bagaimana seorang kader dakwah akan memperjuangkan misinya? Sedang dalam dirinya masih ada keraguan, yang terjadi bisa sebaliknya menjadi “dimotivasi”, lesu sebelum bertanding. Tak ada gairah, tak ada semangat.

Dengan kelapangan dada segala masalah menjadi mudah, yang berat menjadi ringan, menikmati segala kepenatan menjadi motivasi pendorong amal. Karena kelapangan dada awal dari kebahagiaan.

Otak manusia seperti parasut, dia bermanfaat jika berkembang. Masalah dakwah hari ini perlu dipecahkan dengan inovasi-inovasi baru, bukan cara-cara lama yang sudah basi. Maka kembangkanlah segala potensi kita untuk memenangkan dakwah ini. Sehingga setiap elemen masyarakat merasa nyaman bersama dakwah ini, bukan merasa risih seolah mereka tidak memiliki tempat jika bersama kita. Tapi jadikan medan dakwah sebagai wadah pengembangan segala potensi/ tongkat kita.

Saat ini masyarakat sedang menghadapi sihir media. Media mengemas berita sedemikian rupa hingga membius masyarakat dan menyebarkan fitnah dan kerusakan sampai ke setiap sudut-sudut kamar hingga ke dalam saku baju kita. Setiap saat media menjejali masyarakat dengan berbagai informasi, sehingga masyarakat disibukkan dengan segala infotainment dan dunia hiburan yang melemahkan etos kerja.

Jika dakwah ini tidak berinovasi, tidak dikembangkan dengan teknologi modern maka masyarakat makin jauh dari Islam. Dibutuhkan kerja-kerja inovatif untuk menghadapi tantangan dakwah ke depan agar kita meraih kemenangan.

Dengan beberapa alasan seperti yang termaktub dalam QS Al-Anbiya ayat 73: Dan Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan hanya kepada kami mereka menyembah.

1. Karena dakwah kita bukan hanya urusan perbaikan undang-undang tetapi memberi masyarakat pemahaman yang benar tentang kebenaran Islam

2. Jika kita berada dalam pemerintahan, maka kebaikan yang kita lakukan bersifat masif dan berdampak luas bagi kemaslahatan umat.

Seperti kata Anis Matta: Saya bertanya kepada seorang munfikun: “berapa orang yang sanggup diberi santunan?” Dijawab 10-20 orang itu sudah bagus kalau bisa rutin.

Jika sebuah lembaga seperti PKPU, Dompet Dhuafa, berapa banyak mampu memberi beasiswa? Sebuah lembaga kira-kira mampu memberi kepada 100-1000 orang.

Kemudian Anis Matta bertanya kepada gubernur, berapa banyak gubernur memberi beasiswa, membangun kelas? Jawabnya 18.000 kelas. Kalau dirata-rata 40 siswa/kelas, maka akan ada 720.000 siswa dapat belajar di kelas tersebut. Lalu Dana BOS-nya tinggal mengikuti jumlah siswa riel yang belajar di sekolah itu.

Dari sini dapat kita lihat bahwa jika kita berada di pemerintahan, kita dapat melipat gandakan kebaikan dengan masif yang berdampak langsung untuk kemaslahatan umat.

3. Pemimpin bersama Masyarakat saling mendukung untuk kemaslahatan umat

4. Pemimpin dan masyarakat saling mengingatkan dalam menjadi hamba yang mengabdi kepada Allah. “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.” (QS. Al-Qashshas: 5)

5. Mengokohkan agama di tengah masyarakat hingga Islam menjadi agama yang rahmatan lil alamiin.

6. Hingga Allah menganggap kita pantas dan layak menjadi hamba yang mewarisi negeri. “Dan sungguh telah Kami tulis dalam Zabur, di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.” (QS. Al-Anbiya: 105)

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.” (QS. Al-Qashshas: 5)

Disarikan dari ceramah ustadz Tate Qomarudin (dengan tambahan pengembangan sesuai kemampuan penulis) dalam acara konsolidasi kader se-Pondok Gede ke Jati Luhur Purwakarta. Ahad 150913. Ruqoyah

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu dengan 4 putra putri, 3 di antaranya sedang memasuki usia remaja. Mahasiswa STIU (Sekolah Tinggi Ulmu Usuluddin) jurusan tafsir hadits semester 3. Aktif mengajar majlis taklim, punya usaha rias muslim. Beberapa tulisan pernah dimuat di Tarbawi di rubrik kiat.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers

Organization