Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Judika, Lagu, dan Aku

Judika, Lagu, dan Aku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustasi. (inet)
Ilustasi. (inet)

dakwatuna.com

“mengapa waktu/ tak pernah berpihak kepadaku/ apakah aku terlalu
terlalu banyak berkelana/
mengapa kita/ masih saja tak pernah bisa bersatu
selalu saja bertemu/ bertemu saat kau milik yang lain
mungkin kamu bukan jodohku/ bukan takdirku/terus terang
aku merindukanmu/ setengah mati merindu/ tiada henti merindukanmu
masih hatiku untukmu/ aku tetap menunggumu”
(Judika-Setengah Mati)

lagu itu merenda di puncak malam.
menginci nafas,
bergeletar di dada,
mengusik keterjagaanku.
adakah aku ada dalam jelma nada dan musik itu?
ataukah justru lagu itu yang menyatu dalam dadaku?
entah…
imajiku meruang; menapak haru-biru musim, lalu terperosok di tebing curam sejarah.
seolah lagu itu menemu oasis dalam jiwanya; aku…
aku yang kini tergolek dalam sepi, tersayat sabetan pedang kisah.
aku yang kini tenggelam dalam riuh kembara, gagal mematri rindu dan khidmat.
seumpama rumah,
aku kini tak berhuni, gelap, terasing
selalu saja pulang dengan memar, luka, dan lara di hati.
selayaknya musik,
aku kini kehilangan denting, melodi, dan nada.
selalu saja berdawai dengan false yang menampik irama dan harmoni.
aku yang kini terpental dalam sunyi, tersayat pisau khianat.
aku yang kini tertatih memanggul arah, jatuh memugar janji.
seumpama tanah,
aku kini telah kering, tandus, kerontang
selalu saja menanam bibit sesal, memanen kesedihan.
selayaknya kata,
aku kini tuna dalam makna, simbol, dan tanda.
selalu saja berkata dengan diksi yang ingkar pada leksem dan fonem.
aku yang kini, masih di sini.
dan, pagi masih dini, simfoni masih mendidih:

dia sepi di sini/ tak seperti yang lain
walau sudah takdirnya/ namun dia tetap tersenyum
bahagialah bila/ kau masih punya mimpi
hidup hanya sekali/ berikanlah yang terbaik
merindukan purnama/ bertahan walau di dalam duka
bersyukurnyalah kita/ masih banyak yang sayangi kita
merindukan purnama/ meraih cinta/ cinta menyatukan kita”
(Judika-Cinta Satukan Kita)

lagu itu kembali berpilin di permulaan pagi.
menata cemas,
berkelindan harap
mimpi tak boleh susut.
apakah aku akan hidup dalam lagu itu?
ataukah aku yang memberi nafas hidup baginya?
tak entah.
imajiku buncah; hidup ini terlalu indah untuk sesal, sedih, dan kutuk tak habis-habisnya
seolah lagu itu menemu “cahaya” dalam jiwanya; aku. ya, aku yang nanti.
aku yang nanti terbimbing dalam gelora, mendamaikan kidung sejarah.
aku yang nanti terenyuh dalam bakti, memuja cinta dan kebajikan.
seumpama samudera,
aku nanti menuju muara yang tenang, bening, dan indah
selalu saja mengalirkan kesejukan dilapis semesta.
selayaknya musik,
aku nanti menghimpun simfoni dan harmoni
selalu saja mengalun penuh laras penuh sahaja.
aku yang nanti terpana dalam cinta, tergelak purnama kesetiaan.
aku yang nanti menujumu, menanti tiada batas.
seumpama langit,
aku nanti tak lelah berbagi, bercerita, berpuisi.
selalu saja mencurahkan rindu, memberi air kehidupan.
selayaknya puisi,
aku kini hidup dalam seluruhmu
selalu saja memujimu dengan cinta.

Ya Allah…
seluruh hidupku, hanyalah untuk-Mu.


di teduh Pembaringanku, BPI, Bogor

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 3,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nur insani As Shabir
Guru Model SGI Dompet Dhuafa.

Lihat Juga

Heboh Video Anak-Anak SD Nyanyi Lagu “TV, Jasamu Tiada…”