Home / Berita / Opini / Menghadapi Mudik yang Sesungguhnya

Menghadapi Mudik yang Sesungguhnya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ratusan calon pemudik pada H-7 lebaran tahun 2009 (MI/USMAN ISKANDAR)
Ratusan calon pemudik pada H-7 lebaran tahun 2009 (MI/USMAN ISKANDAR)

dakwatuna.com Menjelang akhir Ramadhan, ada sebuah tradisi tahunan yang sudah sangat lumrah di masyarakat kita. Tradisi yang apa bila tidak dilaksnakan, seakan-akan Ramadhannya tidak lengkap. Apalagi kalau bukan tradisi pulang kampung saat hari raya Iedul Fitri atau lebih dikenal sebagai tradisi mudik.

            Tradisi ini memang seakan menjadi agenda wajib tahunan di setiap penghujung Ramadhan. Terminal-terminal bis, stasiun kereta api, bandara-bandara, pelabuhan, dan tempat perhentian kendaraan lainnya selalu penuh sesak dengan melonjaknya jumlah penumpang yang akan melaksanakan tradisi mudik. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan beberapa kota besar lainnya akan kehilangan sebagian penduduknya karena ditinggal mudik.  Memang begitulah, mudik selalu menjadi fenomena tersendiri di masyarakat Indonesia setiap tahunnya.

Masih tentang mudik, sebenarnya kita bisa belajar banyak dari tradisi ini untuk mempersiapkan sebuah “perjalanan mudik yang sebenarnya.” Yaitu sebuah perjalanan menuju kampung halaman yang abadi. Inilah mudik sesungguhnya, mudik menuju kampung akhirat. Tiada lain ialah kematian yang kedatangannya adalah pasti bagi setiap makhluk yang bernyawa.

Seperti tradisi mudik pada setiap akhir Ramadhan, memang seharusnya  kita senatiasa mempersiapkan hal-hal terbaik yang bisa kita bawa menuju kampung halaman. Namun sebelum kita membahas, persiapan apa saja yang harus dipersiapkan untuk perjalan mudik kita yang sebenarnya, tentu saja sebagai calon pemudik kita harus tau apa esensi dan tujuan Allah menciptakan perjalanan mudik ke kampung akhirat ini, atau mengapa Allah menciptakan adanya kematian.

Sebagai seorang Muslim yang beriman, kita mengetahui dan memahami bahwa Allah tidaklah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia atau main-main saja. Semua yang diciptakan-Nya tentu ada maksud dan tujuan tertentu yang harus kita telusuri maksudnya. Begitupun dengan kematian, Allah mempunyai maksud tersendiri mengapa kematian itu diciptakan.

Dalam Qur’an Surat Al-Mulk (67) ayat 2, sudah sangat jelas tujuan mengapa Allah menciptakan kehidupan dan kematian. Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa Allah menjadikan hidup dan mati agar Allah menguji siapa yang terbaik diantara kita. Sudah barang tentu kita memahami dunia (masa hidup) adalah tempat kita berlomba-lomba untuk berbuat baik. Dari sinilah kita akan dinilai oleh Allah siapa yang terbaik dari perlomabaan tersebut, dan penilaian itu akan diberikan Allah di akhirat, saat kita sudah mengalami yang namanya kematian itu.

Selain sebagai tempat untuk pemilaian siapa yang terbaik di sisi Allah, kematian juga dijadikan Allah sebagai ujian kesabaran bagi siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah. Dengan adanya ujian, maka Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman.

Jika sudah memahami esensi dan tujuan mudik, selayaknya pula kita sebagai seorang calon pemudik mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengar perjalanan mudik tersebut. Berikut adalah beberapan hal yang bisa kita persiapkan berkaitan dengan perjalanan mudik.

Pertama, perjalanan mudik tentunya tak lepas dari yang namanya kendaraan, apalagi perjalanan jauh yang membutuhkan kendaraan yang layak dan mendukung. Begitupun dengan kematian, kita tentu memerlukan sebuah kendaraan yang bagus dan mendukung perjalanan kita menuju kampung akhirat nanti. Tiada lain kendaraan itu adalah diri kita sendiri. Sebagaimana kendaraan mudik pada umumnya, kita harus senatiasa merawat diri kita dengan memberikan perawatan-perawatan terbaik. Masa hidup ini adalah masa perawatan tersebut. Kita persiapkan diri ini sebaik mungkin untuk menghadapai perjalanan mudik menuju kampung akhirat nanti. Adapun perawatan yang bisa dilakukan antara lain dengan senantiasa memberikan tambahan-tambahan ilmu dan amal yang berkala untuk senantiasa menjaga kondisi diri ini, kondisi jasadiah dan ruhaniahnya. Dalam perjalanan mudik, tentu saja kita tak lupa untuk senantiasa mengecek kelayakan kendaraan dan memperbaikinya jika ada yang rusak. Begitupun dalam hidup ini, kita harus senantiasa mengecek kondisi diri ini apakah sudah layak untuk melakukan perjalan mudik ke kampung akhirat, dan tentu saja memperbaikinya jika dirasa belum layak.

Hal lain yang berkaitan dengan mudik adalah oleh-oleh atau bekal apa yang akan kita berikan kepada sanak saudara di kampung halaman nanti. Dalam hal mudik menuju kampung akhirat, tiada lain bekal ini adalah amalan-amalan kita di dunia. Seluruh amalan kita inilah yang akan kita berikan kepada Dzat yang menunggu kedatangan kita di sana, Dia akan meminta bekal apa yang kita bawa dari alam dunia. Tentu saja sebagai orang beriman kita memahami bahwa bekal atau oleh-oleh terbaik untuk “mudik” ini adalah amal shaleh dan ketaqwaan kita kepada Allah swt.

Dari tradisi mudik tahunan ini, tentunya kita banyak belajar untuk mempersiapkan perjalanan mudik yang sebenarnya; menuju kampung akhirat. Kita harus senatiasa mengevaluasi dan meningkatkan kapasitas diri kita agar layak untuk dijadikan kendaraan saat “mudik” nanti, dan tentunya memperbanyak amal shaleh dan ketaqwaan sebagai bekal atau oleh-oleh yang akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ilustrasi - Selamat Idul Fitri, Taqabbalallahu minna waminkum. (wallpaperhd.pk / modifikasi: dakwatuna.com)

Selamat Idul Fitri 1437 H