Home / Pemuda / Cerpen / Bersama dengan Jilbabku Selamanya

Bersama dengan Jilbabku Selamanya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (art4islam.blogspot.com)
Ilustrasi. (art4islam.blogspot.com)

dakwatuna.com Menggunakannya adalah harta yang paling berharga bagiku. Aku harus mempertaruhkan harga diriku agar aku bisa bernilai dihadapan-Nya, agar aku bisa mencium wangi syurga-Nya dan agar aku bisa bertemu dengan Rasululloh SAW, keluarganya, para sahabat, tabi’ dan tabi’in. Allohu Robbi, izinkan aku bisa menjaga izzahku dihadapanmu dan izinkan aku bisa menggunakannya hingga ajal menjemputku, hingga nafasku pun tak bisa terengus kembali di dunia yang fana ini.

Aku masih teringat dengan kata-kata yang ditujukan oleh guru agamaku pak Ishak yang sampai sekarang aku masih mencari keberadaannya dan aku masih mencari tentang keluarganya serta posisinya dimana sekarang. Mudah-mudahan Alloh SWT selalu memberikannya keberkahan dan karunia sehingga dia selalu istiqomah dalam cahaya yang Engkau ridhoi dan dalam nafas-nafas yang bernuansa islami, masukkanlah ia kedalam syurga-Mu yang terbaik ya..Alloh, aamiin ya robbal alamin.

Jilbabku tak mungkin bisa kukenakan, bila Alloh tidak memberikan cahaya padaku, jika saja Alloh tidak memberikan rahmat dan rahimNya, jika saja Alloh tidak memberikan hidayah pada diriku dan juga karena kata-kata yang memiliki kekuatan dari guru agama Islam sewaktu aku masih duduk di kelas 5 SD. Beliau berkata kepada ku, “ Farida, kalau nanti kalian sudah masuk SMP dan dewasa yang Bapak inginkan dari  kalian hanya satu yaitu memakai jilbab dan menggunakannya terus mulai dari rumah hingga kalian keluar rumah. Itu pesan bapak sama kalian. Bapak ingin, anak-anak bapak terus menggunakannya, dengan ini (Jilbab) kalian akan leluasa melakukan apapun..kalian bisa berbuat apa saja dan tetap di ridhoi Alloh”, ucap beliau kepadaku dan teman-temanku. Sampai saat ini, kata-katanya masih saja membekas dalam ingatanku, dalam benak dan memoriku. Tak pernah terlupa olehku sosoknya yang begitu sangat memperhatikanku, karena aku adalah anak yang berprestasi, sholeha insya Alloh, baik dan rajin menabung (hehe…aamiin). Ya, sosoknya yang tinggi, putih, rambut agak ikal, dengan wajah yang menggunakan kacamata itu membuatku terpesona akan kata-kata yang ia lontarkan. Pada saat beliau berkata seperti itu kepada ku…kata-katanya langsung masuk ke dalam hatiku dan mudah-mudahan dengan do’a darinya juga Alhamdulillah aku masih dan tetap akan mempertahankan ia (Jibabku)yang selalu menemaniku setiap saat, menjumpai siapapun itu baik anak didik, teman, tetangga, rekan-rekan guru di sekolah ataupun pejabat-pejabat yang masih berada di yang bertugas pada saat itu. Ia tidak pernah lepas dariku, lalu membersamai diriku kemana pun aku melangkah dan menuju. Namun, aku juga tidak mudah diterima dikeluargaku begitu saja ketika aku menggunakan jilbab. Untaian kata dan butiran air mata selalu ku teteskan setiap saat dikala perjuangan untuk menyandangnya yang akan menjadi tekad bulatku.

Aku bersekolah di SD Muhammadiyah No 31 Medan dengan menggunakan jilbab, tapi kalau di rumah dan keluar rumah aku belum menggunakannya. Aku berfikir sih, aku masih mau bermain dengan rambutku yang lucu dan sangat mudah diatur itu. Mungkin juga karena tingkah seorang anak-anak tidak ingin terlalu ribet dengan segala hal yang bersama dengannya. Konon lagi, aku tinggal di rumah saudaraku dan uwakku yang ku pannggil dengan sebutan mamak (Ibu) dan kuanggap sebagai mamakku juga sangat sayang padaku. Tapi, beliau membelikan aku pakaian-pakaian yang terkesan elegan dan jauh dari yang namanya pakaian muslimah. Kalau pakaian tidak gaun yang tangannya itu sangat seksi sekali (kelihatan ketiaknya bahkan) ya..pakaian yang masih menampakkan bagian kaki dan tanganku apalagi rambutku selalu terlihat di saat-saat bepergian dengan mamakku itu, di saat ada kegiatan keluarga..hmmm tidak perlu ditanya baju yang tak berlengan, gaun ataupun dengan pakaian rok yang berbunga-bunga gimana gitu dan tetap tak syar’i. dan aku pun belum mengerti juga apa itu pakaian syar’i.

Setelah selesai SD, aku mendaftar di SLTP N 18 Medan, sama halnya dengan SD. Aku menggunakan jilbab di kelas dua dan itupun masih di Sekolah saja, sedangkan di rumah ataupun di luar aku masih saja dengan menggunakan pakaian yang tak menutup aurat itu. Selesai belajar di SLTP, aku mendaftar di SMAN 12 Medan dan Alhamdulillah aku lulus dengan bersaing dengan ratusan siswa lain yang mendaftar di sekolah ku itu. Dan satu nadzarku saat itu, adalah menggunakan jilbab di sekolah dan di luar ketika pergi dengan teman. Alhamdulillah..aku menggunakan jilbab dengan adanya nadzarku itu. Aku bertekad tak melepaskannya lagi..tapi apa, aku belum siap dengan segala kemungkinan yang terjadi jika aku menggunakannya di rumah dan keluar rumah. Hingga aku berjumpa dengan Organisasi Islam yang di sebut Rohis bernama BINTALIS SMAN 12 Medan. Dengan masuk Rohis, aku berharap akhlakku semakin baik, semakin terarah, semakin dekat dengan Alloh dan aku juga bisa menjadi orang yang berani dan mengambil kebijakan-kebijakan yang membuatku menjadi semakin dewasa dan semakin di sayang Alloh dan orang-orang yang dekat denganNya. Dengan adanya kajian-kajian yang diadakan setiap hari jum’at dan kami sebut dengan PK atau Pengajian Keputrian yang diisi dari kakak-kakak yang sedang kuliah di USU, IAIN dan juga UNIMED. Membuatku semakin memiliki tekad kuat dan semangat untuk menambah pengetahuanku mengenai islam. Dan dari situ aku disadarkan akan pentingnya menggunakan jilbab,  cerita-cerita yang menginspirasi tentang jilbab. Cerita-cerita dan nasehat-nasehat dari kakak-kakak yang pernah mengisi pengajian di sekolahku itulah membuatku merasa bangga dengan keislamananku, membuatku bertekad untuk hijrah..hijrah dari berbuat yang tidak baik, hijrah dari berpakaian yang belum rapi (menutup aurat), hijrah dari sikap yang selalu menyakiti dan hijrah dari tingkah laku yang menyebalkan yang membuat orang tersakiti dan mungkin juga belum memaafkan aku sampai saat ini.

Aku juga pernah bertemu dengan seniorku di jalan raya yang saat itu, aku belum menggunakan jilbab diluar rumah dan di rumah. Saat itu aku masih berada di kelas dua SMA. Saat bertemu dengan seniorku yang juga berada di Organisasi Islam di Sekolah itu, aku sangat malu sekali. Bahkan aku tak sanggup untuk mengadahkan wajahku ataupun menegurnya di sekolah karena aku khawatir, dia menceritakan aku yang tidak menggunakan jilbab saat itu kepada teman-teman ROHIS yang laki-laki ataupun yang perempuan. Aku benar-benar sangat malu sekali..hingga aku memohon ampun kepada Alloh dan juga menetaskan air mata saat aku mengingat kejadian itu. Aku seakan tak punya muka lagi dihadapannya.

Pengalaman lain yang membuatku juga tersentak disaat seorang teman laki-laki melihat beberapa helai rambutku yang saat itu tidak sengaja keluar dari jilbab yang kukenakan dan ia mengatakan. “Satu helai rambut yang terlihat itu sama harganya dengan satu dosa”, ucapnya padaku, yang saat itu aku tak sadar bahwa rambutku terlihat beberapa helai dan ia pun langsung pergi dariku, ketika selesai memberitahu aku tentang hadits berhijab. Terima kasih teman atas nasehatnya.

Satu lagi pengalaman yang membuatku hingga berubah drastis seperti sekarang ini adalah ketika guruku di sebuah pengajian rutin yang merupakan seniorku di Sekolah mengatakan bahwa, “kalau farida kapan mau berubahnya ? kapan mau insyafnya?”, kata-kata itu yang sangat memukul aku dan yang membuat aku tersadar dengan segala hal-hal yang sebelumnya aku lakukan dan hal-hal tersebut yang mungkin membuatku jauh..mungkin bahkan sangat jauh..sekali dari yang namanya menutup aurat. Bahkan terkadang aku mengingat dan menceritakan kisahku tentang perjuanganku menggunakannya dengan meneteskan air mata kepada junior-junior di kampus ketika mengisi kajian pekanan dan juga sharing seputar jilbab dan semoga dengan kisahku, adik-adik dikampus yang belum tersentuh dengan yang namanya jilbab/hijab menjadi istiqomah hingga akhir hayat tiba dan juga bisa menginspirasi orang lainnya hingga mereka menginspirasi orang lain juga…aamiin.

Perjunganku tak semudah yang kubayangkan ketika pertama sekali menggunakannya dirumah, aku dikatakan sok alimlah dan yang sangat tak ingin ku dengar adalah kalau dirumah untuk apalah pake jilbab, toh gak ada orang dirumah semak ngelihatnya da…. (ribet ngelihatnya). Aku tak bisa berkomentar apapun terhadap keluhan dan komentar orang yang ada di rumah setiap kaliaku menggunakan jilbab, dan jilbab yang aku gunakan pun belum menutupi dada, tapi komentar yang berdatangan acap kali membuat diriku ciut setiap berhadapan dengan orang rumah. Aku harus berkata apa? Padahal kan mereka juga bukannya tidak mengerti apa itu jilbab, tapi krena kebdayaan di kelurga besarku belum ada yang menggunakan jilbab yang syar’i walau satu orangpun. Dukungan dari 1 orang dikeluargapun tak ku temukan ketika aku harus berjuang dengan penuh tenaga dan tangisan yang membuatku selalu saja menangis dan menyadari bahwa perjuanganku belum ada apa-apanya dibandingkan para shahabiyah yang berjang dengan hijab, dibandingkan dengan Rasululloh SAW dan para sahabat.

Hanya Alloh tempatkumengadu dan selalu ku minta berikan kekuatan untuk hambaMu yang dhoif dantak berdaya ini menempuh perjuangannya dalam menggunakan jilbab demi menutup auratnya dihadapan orang yang bukan mahramnya.Alloh hanya Engkaulah penolong dan temptku meminta. Mataku pun tak pernah kuasa tuk tidak meneteskan air mata di kala perjuanganku memakai pakaian kebanggaan seorang muslimah itu belum diakui dikeluarga ku. Acap kali aku menjadi bahan cemoohan di keluargaku dan juga menjadi patokan untuk berbuat dengan  menutup auratnya. Alhamdulillah, kini di kelurgaku dan keluarga besarku sudah menggunakan jilbab ketika mereka pergi ke luar rumah dan walaupun belum semuanya menyadari hakikatnya. Namun, perlahan aku selalu berdo’a agar Alloh membukakan cahaya di hati mereka untuk bisa dan bangga menyandangnya sebagai penjaga kemuliaan mereka di sisi Alloh dan Alhamdulillah adikku yang pertama kali menggunakannya di kampus, rumah dan keluar rumah, disusul oleh kakak dan Ibu ku. Masya Alloh, semoga Alloh selalu memberikan keistiqomahan kita di jalanNya dan menguatkan barisan kita dan semoga hijab yang kita gunakan bisa menjadi penghantar kita menuju jannah-Nya yag sangat kita impikan aamiin.

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.

Lihat Juga

Kajian Core Competence Dakwah Kampus