Home / Narasi Islam / Dakwah / Strategi Menyemai Kebaikan di Kampus

Strategi Menyemai Kebaikan di Kampus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

ldk-janur-unair-yaasiin-03dakwatuna.com Setiap manusia pasti memiliki potensi untuk melakukan kebaikan, sekalipun sekelas penjahat internasional. Sebagaimana yang telah difirmankan Alloh SWT dalam surat Asy-Syams “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya”. Potensi inilah yang seharusnya ditingkatkan untuk menekan potensi yang lainnya yakni melakukan keburukan. Potensi untuk melakukan kebaikan sejatinya mencakup semua aspek yakni kepada diri sendiri, orang lain, alam dan lingkungan sekitar.  Melakukan kebaikan selain pada diri sendiri yakni orang lain dan lingkungan sekitar dalam Islam lebih dikenal dengan kata ‘Da’wah’.

Da’wah berasal dari kata da’aa-yadu’a yang artinya mengajak, menyeru, mengundang. Da’wah tidak  dibatasi jarak, waktu dan strata. Setiap muslim dapat berda’wah dimanapun dan kapanpun. Idealnya seorang muslim berda’wah pertama-tama melalui pribadi diri yang islami, keluarga  islami, masyarakat islami serta pemerintahan islami. Jika tahapan amal da’wah telah melewati fase pribadi islami dan keluarga islami, maka kemudian masyarakat islamilah yang perlu dibentuk. Masyarakat islami dibentuk dengan memanfaatkan peranan atau posisi kita di masyarakat. Sebagai contoh peran sebagai seorang pengusaha, vice president suatu perusahaan, karyawan, PNS, mahasiswa dan lain-lain. Peran atau posisi yang cukup strategis yakni mahasiswa sedangkan wajihah (wadah-red) nya berada di kampus.

Kampus dinilai sebagai tempat yang tepat untuk berda’wah karena kampus merupakan;

1.       Tempat berkumpulnya para pemuda

Generasi yang akan membangun negeri serta menggantikan pemimpin-pemimpin saat ini adalah para pemuda yang memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni, pada umumya para pemuda ini  muncul dari kampus. Sebagaimana dijelaskan oleh Hasan al-Banna ‘Sejak dahulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan setiap umat, rahasia kekuatan pada setiap kebangkitan dan pembawa bendera setiap fikrah

2.       Gudang ilmu dan rumah penelitian

Tempat yang memiliki intensitas belajar yang tinggi serta mampu menghasilkan produk ilmu yang bermanfaat adalah kampus, sehingga kampus layak disebut sebagai gudang ilmu dan rumah penelitian.

3.       Lingkungan yang terbuka dan bebas bagi berbagai bentuk pengembangan pemikiran

Di dunia ini lingkungan yang paling terbuka dan bebas terhadap berbagai ideologi hanya berada di kampus. Baik ideologi yang benar maupun ideologi yang menyimpang.

Kondisi ini berimplikasi pada mahasiswa untuk dapat menyemai bibit-bibit kebaikan di ladang yang subur ini (kampus-red) serta menyebarkan ideologi Islam sesuai syariat dan mengembalikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai mainstream hidup.

Mahasiswa sebagai pelaku da’wah kampus seyogianya mampu mengoptimalkan perannya dikampus dan lingkungan masyarakat. Peran mahasiswa di kampus dan masyarakat menjadi essensial karena mahasiswa adalah kelompok pilihan ditengah masyarakat, aktivitas gerakan yang paling luas di dunia, ruang interaksi dan mobilitas yang cukup luas baik vertikal maupun horizontal dan mahasiswa adalah calon orang tua masa depan.

Inisiasi dari da’wah kampus yakni dengan meningkatkan kapasitas pengembangan ruhani melalui tarbiyah dan intelektual mahasiswa dengan memiliki keterampilan sebagai pemimpin yakni conceptual skills, human skills, administrative skills serta technical skills. Kemampuan-kemampuan tersebut menjadikan diri mahasiswa sebagai qudwah (panutan-red). Jika mahasiswa dapat menjadi qudwah orang lain, maka da’wah akan mudah tersampaikan dan dilakukan.

Kondisi ini erat kaitannya dengan proses pengkaderan. Karena tanpa adanya proses pengkaderan, maka da’wah ini akan segera mati (tanpa generasi yang melanjutkan gerakan da’wah) dan berumur singkat. Setelah proses pengkaderan di kampus berjalan salah satunya melalui qudwah setiap kader da’wah yang pada intinya adalah proses berafiliasi. Proses pengkaderan ini diperlukan pembinaan, tidak hanya sekedar rekrutmen. Pembinaan yang diawali dengan memberikan perhatian dan pelayanan.

Kemudian tahap selanjutnya adalah partisipasi serta kontribusi terhadap da’wah itu sendiri dari seluruh kader salah satunya pemberian amanah. Perlu diperhatikan bahwa proses pembinaan tetap dan terus berjalan. Hasil yang diharapkan adalah mampu menyuplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, mengoptimalkan peran kampus dalam merubah masyarakat menuju masyarakat Islami dan membentuk generasi baru kaum beriman anggota civitas akademika. wallohualam

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Runni Nurul Inayah
Alumni UPI Purwakarta jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Pengurus KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Purwakarta.

Lihat Juga

Kajian Core Competence Dakwah Kampus