Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Demokrasi dalam Perspektif Ahmad Hassan

Demokrasi dalam Perspektif Ahmad Hassan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Tidak semua orang mengenal tokoh yang satu ini, bahkan jika ditelusuri hanya beberapa golongan tertentu mengenal beliau. dialah Ahmad Hassan, seorang ulama keturunan Indonesia-India. beliau lahir di Singapura dan wafat di Surabaya. Ahmad Hassan atau yang lebih dikenal dengan nama A. Hassan merupakan sosok ulama yang mempunyai semangat untuk memurnikan ajaran Islam. semangat yang jarang sekali ditemui di era globalisasi dewasa ini.

semangatnya itu beliau tuangkan dalam puluhan buku-bukunya yang menjadi rujukan umat muslim di Indonesia. bukan hanya itu, ketegasan dan kegigihan untuk menegakan Al-Qur’an dan As-Sunnah mencerminkan daya intelektualitas beliau yang tinggi, terimplementasi ketika beliau mendebat Ahmadiyah.

Saat itu beliau dapat mematahkan argumen tokoh berpengaruh di Ahmadiyah dan mampu membungkam argumentasi-argumentasi mereka. beliau juga pernah mendebat seorang tokoh besar atheis di Indonesia, sehingga beliau menjadi perantara hidayah bagi tokoh atheis itu untuk kembali kepada cahaya Islam. bahkan beliau pernah mendebat sang proklamator Indonesia yakni Soekarno tentang pemikirannya mengenai pemisahan negara dan agama (baca:sekuler). sebagai seorang pendebat yang ulung, dialektika berpikirnya didasarkan atas ajaran Islam.

Sebagian besar buku-buku yang beliau tulis, bertemakan fiqih seperti Bulughul Maram, Al-Hikam, Halalkah bermazhab?, Soal-Jawab dan masih banyak lagi. tapi tak jarang beliau banyak menulis buku tentang perpolitikan, salah satunya buku yang berjudul kedaulatan. buku yang membahas tentang kedaulatan pemerintahan Indonesia ini menyinggung tentang demokrasi yang dipaparkan dalam bentuk tanya-jawab. berikut ini adalah terminologi kedaulatan dalam perspektif A. Hassan.

  • Pertanyaan: Republik Indonesia, dikatakan berdasar demokrasi atau kedaulatan rakyat. bagaimanakah sifat-sifat pemerintahan yang bersendi kedaulatan rakyat itu?

Jawab: Daulat atau daulah, dalam bahasa Arab terpakai dengan arti raja bersama penasehat-penasehatnya, atau kerajaan. diantara kita rupanya telah terpakai makna kekuasaan. jadi, kedaulatan rakyat itu artinya ‘kekuasaan rakyat’.

Tiap-tiap penduduk yang tunduk dibawah satu pemerintahan, dinamakan rakyatnya.

Firman Allah:

w

 

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (Q. S. Asy-Syura:38)

maksudnya: urusan umum bagi kaum muslimin ditetapkan atau diputuskan dengan rembukan diantara mereka.

dan firman-Nya:

  وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

Artinya: Dan Rembuklah dengan mereka dalam urusan itu. (Al-Imron:159)

Maksudnya: Hai Muhammad! rembuklah dengan kaum muslimin dalam urusan-urusan mereka.

Dua ayat tersebut dengan terang-terangan menunjukan bahwa urusan negara kaum muslimin mesti diputuskan dengan rembukan antara mereka. hingga nabi  Muhammad SAW yang dapat wahyupun diperintah berembuk dengan rakyat.

Cuma ada sedikit perbedaan, yaitu bahwa kedaulatan rakyat dalam Islam, hanyalah di urusan-urusan yang tidak ditetapkan hukumnya dengan wahyu. adapun perkara yang telah diwajibkan, diharamkan, disunnahkan atau dimakruhkan oleh Qur’an atau Nabi SAW itu, tidak berlaku kedaulatan rakyat padanya.

Jadi semua perkara keduniaan yang tidak tersebut hukumnya dalam syari’at hendaklah diatur dengan rembukan rakyat yang dinamakan cara demokrasi. demokrasi diluar Islam apabila tidak bersendi keagamaan, maka semua urusannya tentulah diatur oleh rakyat.

  • Pertanyaan: Waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, mengapa mereka tidak didasarkan atas syari’at Islam, padahal mereka juga orang-orang Islam?

Jawab: Dari dahulu, mereka sudah berpendirian bahwa negeri yang penduduknya memeluk bermacam-macam agama, tidak boleh satu agama tertentu dijadikan dasar, dan sebagian dari mereka berpendirian bahwa agama tidak boleh dicampur dan tak boleh turut campur dalam urusan negara, yakni negara mesti dipisah dari agama.

Pendapat yang demikian, salah atau tidak bukan disini dan bukan waktunya buat dibicarakan. mereka sudah i’laakan (baca: sumpah) kemerdekaan, dan kita sudah bernaung dalam negara merdeka dengan usaha orang lain, usaha orang-orang yang jumlahnya jauh lebih kecil dari kita. kita mesti ucapkan terima kasih. jalan yang terlalu jauh sudah jadi terlalu dekat. sabarlah, hingga tercapai kemerdekaan yang tidak ada padanya tawar-menawar lagi! disitu dan waktu itu, boleh kita ikhtiar merebut kekuasaan dengan jalan yang tidak melanggar undang-undang, dan sesudah tercapai, tentulah kita dasarkan pemerintahan Indonesia atas syari’at Islam.

Buat mencapai kemerdekaan yang kekal itu, hendaklah kita bersatu dan membantu pemerintah dengan segala tenaga yang diperlukan. kalau kita tidak diperhatikan, hal ini sungguh-sungguh niscaya (baca: pasti). Bisa jadi yang dikejar tak dapat, yang dikandung berceceran.

perlu digaris bawahi bahwa A. Hassan berpendapat agar umat muslim harus bersabar untuk merebut kemerdekaan Islam yang hakiki, menegakan khilafah dengan terlibat dahulu didalamnya. kemudian, Alloh akan memenuhi janji-Nya, Islam akan tegak diatas bumi Alloh. semua itu tidak bisa dicapai sekali lagi bukan karena Islam lemah, tapi karena umat yang terpecah belah. seperti yang dikatakan A. Hassan untuk mencapai kemerdekaan diatas syariat Islam, umat Islam perlu bersatu. Bangkitlah! bersatulah umat Islam! Allohu Akbar!

*Referensi: Hassan, Ahmad Kedaulatan – Malang Toko Timoer

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Runni Nurul Inayah
Alumni UPI Purwakarta jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Pengurus KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Purwakarta.

Lihat Juga

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba