13:04 - Minggu, 20 April 2014

Bang Umar dan Kisah Umar

Rubrik: Cerpen | Oleh: Edgar Hamas - 24/06/13 | 11:30 | 15 Shaban 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Bogor, dalam kenangan Fathan.  Pernah suatu malam, tahun 90-an, Ia beranjak dari rumah menuju Masjid. Suasana lengang, hanya guratan sinar lampu kuning kemuning menyinari jalan setapak. Sholat Isya telah tiba waktunya. Adzan indah berkumandang, menggelayuti jiwa hamba yang letih menjalani hari. Sungguh adzan itu menjadi muara yang memanggil hamba untuk bermuhasabah, dalam mengakhiri hari yang semakin temaram.

Sepulang dari masjid, tak jauh dari deretan toko-toko yang masih buka, di warung kecil, beberapa pemuda sedang kongkow, duduk sambil berbincang. Lebih tepatnya disebut Preman Pasar.  Ditemani beberapa botol bir yang belum sempat dibuka. Mereka Nampak melepas lelah setelah seharian mengawasi alur dagang dan keamanan jalan ramai. Menagih riba, menarik pajak, dan menggoda wanita.

“Ketika sebagian manusia bermuhasabah dengan sholat, masih ada saja sebagian yang lain melepas lelah dengan maksiat”, ikrarnya dalam hati. Namun seketika ia urung berbalik dulu menuju rumah, setitik keinginan muncul dari benak hati dalam, ia memalingkan langkah menuju perkumpulan kecil itu, senyum merekah.

“Bang Tatan!”

Salah satu preman muda memanggilnya. Isyarat baik bagi Fathan.

“Oh, Boncel…., gimana kabar cel…”

Beruntung, ada kenalan baik Fathan dalam kumpulan kecil itu. Boncel, anak jalanan yang seminggu sekali datang ke Masjid setempat, minta belajar ngaji.

Fathan duduk di sebelahnya, bersalaman dengan preman lain yang sedang mencoba membuka botol bir, Nampak kesusahan.

“Ini guru ngaji saya bos…”

Seorang berperawakan kekar menoleh dingin. Nampak bahwa ia sebagai pimpinan kumpulan kecil ini.

“Siapa nama?”

“Fathan bang”

“Orang Jawa Ya?”

“Kok tahu?”

“Lah, aku iki jowo asli, seko Pati… aku wis ngerti logat wong jowo koyo ngopo. Koe seko ngendine?”

(Lah, saya ini juga orang jawa, dari pati, saya sudah tahu bagaimana logat orang jawa. Kamu darimananya?)

“Kulo Kebumen mas..”

Nah, perbincangan ringan telah dimulai. Cukup singkat untuk beradaptasi dengan kumpulan preman ini. Fathan berbincang tentang kota asalnya, tentang cuaca, menanyakan asal dan sebab kepindahannya dari Pati kesini.

Bang Umar namanya, lebih tepatnya Umar Sarif, bekas narapidana yang hijrah dari Pati ke Bogor, semata-mata karena keluarganya tak lagi menerimanya. Masyarakat sudah muak dengan kehadirannya yang mengganggu. Yang lebih menyakitkan lagi, istrinya sudah menuntut cerai. Ia ditangkap sewaktu mencuri perhiasan tetangganya yang pelit, orang tionghoa, malam-malam 6 tahun lalu. Ia menceritakan kesehariannya, kadang jika tak ada uang, sekali kali menjambret sambil tertawa konyol mengatakannya. Juga keadaan anak buahnya yang nurut-nurut, kehidupan mereka yang bisa sebulan sekali jika ada uang bermain ke rumah bordil setempat. Kehidupan tanpa tuhan.

“Saya Cuma punya harapan satu mas fathan…”

Raut muka Bang Umar yang berperawakan tinggi dan kekar itu sayu sejenak, matanya memerah, ingin menumpahkan tangis.

“saya bawa anak kesini. Anak saya 6 tahun, dia belum sekolah, tapi dia seneng ngaji di TPA… , Ya, Boncel itu yang ngajak anak saya. Namanya Andi”

Beliau diam, tersenyum kemudian. Lalu melanjutkan,

“Jangan sampai”, lanjutnya “anak saya seperti bapaknya!. Titik! Kamu tolong ajarin anak saya ngaji!, oke?”

Tangan Bang Umar yang kekar dan berkeringat merangkul Fathan. Ia hanya tersenyum dan mengiyakan. Sembari tangan kirinya merangkul, ia menyuruh anak buahnya memesankan minuman  untuk tamu jarang-jarang seperti Fathan.

Ketika Bang Umar ingin membukan tutup botol bir yang telah dibelinya. Fathan mulai bermain dengan kata,

“Bang?”

“Ono Opo?”

“Saya denger nama bang Umar jadi inget seseorang yang hebat lo bang?”

“Lah, ya memang begitu… Ibu saya nggak ngasal ngasih nama saya Umar, nggak tahu sih darimana. Tapi kata Ustad Kampung, nama itu bagus”

“Mau diceraitain gak bang? Kebetulan tadi sore saya ikut pengajian lagi membahas nama bang Umar lo mas?”, Fathan berbohong. Ya , berbohong demi memulai kebaikan.

“Walah, pas ini!… Tadi juga Andi nanya saya, kenapa dinamain Umar… haha, hitung-hitung biar nggak malu, kamu ini tan… tan… bocah ingusan tapi datang di saat tepat!!,” katanya sambil menjitak kepala Fathan, bercanda gaya preman.

Bang Umar meninggalkan kesibukannya membuka botol bir.

Fathan memperbaiki posisi duduknya, menyeruput kopi panas yang dipesankan Boncel untuknya.

“Gini bang….,Saya lihat Abang kaya lihat Umar.Persis sama yang diceritain Pak Kyai. Orangnya besar, kekar, ketika dia jalan di pasar, orang-orang pada segan. Yah… gitu, sama kaya bang Umar yang saya lihat sekarang…. Besar, kekar, garang, orang-orang pada segan…”

Bang Umar tertawa bangga, lalu berhenti dari kesibukannya membuka kacang, kemudian diam dan tatapannya memerhatikan langsung ke arah Fathan, mulai menyimak seksama. Yang lainnya tak kalah, anak buahnya juga penasaran menyimak, ingin tahu sebenarnya apa arti Umar bagi bos mereka.

“Lanjut!”

“Oh ya bang… Umar itu orangnya suka kelahi , jantan, suka adu kuda, pokoknya kalau masalah perang kaya gitu dia jagonya Bang… Ya, kaya abang lah..”

“Hmmm, ya… sama ya, sama sama keren, hahaha..”

Bang Umar melanjutkan.

“Terus, bedanya apa?”

“Bedanya..”, Fathan berhenti sejenak, “Kalau dia dari Arab, kalau Abang dari Jawa. Dia orangnya keras bang… Dia pernah membunuh anak perempuannya sendiri, dikubur hudup-hidup!”

Bang Umar kaget tak percaya, ia mulai menjiwai alur cerita.

“Waduh! Katanya nama bagus, tapi kok ngubur anak hidup-hidup? Kalo gitu mending saya lah! Anak saya masih saya suruh ngaji! Ya nggak?… Saya masih nyuri uang saja, belum mbunuh orang , mending saya lah!”

Fathan tersenyum, pernyataan yang ia katakan barusan adalah kunci untuk membuka maksud sebenarnya.

“Ya.. itu sebelum dia kenal islam bang…, Ternyata bang, setelah dia masuk islam, dia jadi Orang yang tetep keras, tapi kerasnya sama orang kafir bang…, Kekuatannya dia pakai untuk menolong orang, Dia tetap garang bang, tapi justru orang-orang malah memujinya. Karena Sang Umar ini tegas dalam berbuat baik, dan Pak Umar ini membenci hal yang buruk… gitu sih bang akhirnya”

“Oh.. gitu! Ngomong dari tadi makanya!”

Bang Umar tertawa , bangga karena namanya Umar.

“Umar suka ‘minum’ nggak?”, Bang Umar menyelidik.

Fathan diam sejenak.

“dulunya sih suka ‘minum’ bang, tapi setelah masuk islam, udahan dianya…, Katanya kalo ‘minum’ banyakan akibatnya daripada manfaatnya bang, sedengar saya pas pengajian tadi sih gitu..”

“Ibu saya memang nggak sembarangan ngasih nama saya Umar! Hahaha… Berarti Ibu saya pingin saya kaya Umar dong?”

“Ya… bisa jadi bang, soalnya Abang sama Umar hampir sama bang, sama sama keren!” Fathan memuji. Kadang dalam mengajak orang dalam kebaikan, pujian menjadi alat terbaik sebelum masuk topiknya.

“Tapi ada yang beda le. Lihat otot saya, kekar kan?, lihat badan saya, tinggi!. Apalagi saya yang ngawasi pasar! Ya nggak jauh beda sama Umar yang kamu ceritain tadi.”

“Terus bedanya apa bang?”

“Ya… Kekuatan saya, saya pakai untuk nggak baik. Kekuatan dia, dia pakai untuk baik-baik. Gitu tho?”

“Ya, itu kan abang yang bilang, saya Cuma menceritakan saja apa yang saya dengar..”

Suasana hening. Bang Umar mengernyitkan dahinya. Saat itu tampak saat-saat bagi Bang Umar untuk berfikir, setelah bertahun hidupnya ia habiskan untuk berkutat dengan otot dan amarahnya. Fathan dan anak buahnya sama-sama terdiam, juga memikirkan reaksi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dalam hening itu, Bang Umar melihat lekat-lekat bir yang berada di atas meja sebagai pelampiasan stresnya. Dalam hening itu, ia membuka lengan kanannya yang telah sering membogem orang, melihat tato naga yang panjang, sepanjang tangannya yang kekar. Dalam hening itu, ia memerhatikan satu-satu wajah anakbuahnya yang tertunduk. Nampaknya mulailah Bang Umar menarik kesimpulan.

“Saya paling cinta ibu dan anak saya. Saya paling percaya sama Ibu dan anak saya, tidak ada yang lain.”

Bang Umar tertunduk dan menitikkan air mata. Semuanya terkejut, lalu kembali tertunduk.

“Ketika semua orang membenci saya yang berbuat onar. Ibu saya selalu dekat dan mengingatkan saya, tak pernah membenci saya. Ibu saya yang saya percaya, saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang ,apakah sudah mati atau masih hidup. Anak saya selalu semangat mengaji, dia harapan terakhir saya, dia harapan terakhir saya mas Fathan..”

Henyak.

Kendaraan lalu lalang dalam hening bisu antara perkumpulan kecil itu. Lampu kuning yang mulai redup masih setia menerangi mereka, yang Nampak dalam suasana tak biasa. Nuansa berfikir yang tak pernah terjadi sebelumnya. Angin hilir mudik, tiba dan mengatur dingin tubuh mereka, menghadirkan damai suasana yang begitu nyaman. Kesunyian berbaur dengan hilir angin, nampaknya Allah sengaja mempersilahkan mereka berfikir lebih dalam.

Perkumpulan kecil itu sama-sama tertunduk, atas sebuah kisah sederhana.

Bang Umar berdiri.

“Ibu saya tidak mungkin asal memberi nama saya ‘Umar’!”

Mereka saling menatap, kemudian melihat sosok Bang Umar yang merembes dari matanya kerlingan air mata. Wajah Preman Sangar bertato itu kini berhias air mata murni dari bilik hatinya.

“Tan , setelah Umar masuk islam, setelah dia memakai kekuatannya untuk kebaikan, apa yang terjadi?”

Fathan terkesiap, lalu menjawab serta merta.

“di akhir hidupnya, dia menjadi pemimpin Kaum Muslimin bang, mengganti Nabi Muhammad.”

***

                 10 tahun berikutnya.

Bis menuju bogor sudah sesak. Orang-orang, tua muda ,lelaki perempuan memadati bis besar itu. Tak terkecuali Fathan. Ia datang kembali setelah lama berpulang ke Kebumen, ia telah menyelesaikan studinya di IPB dan hendak bersilaturrahim dengan Kawan sejawatnya.

Namun tiba-tiba , Ibu hamil yang membawa barang banyak naik menuju bis, bingung mencari tempat duduk yang telah rata terisi, ia hanya berdiri di dekat pintu, mengelus perutnya, ia berkeringat dan mengharap seorang dapat mengalah dan memberinya tempat duduk.

Di dekat pintu depan beberapa nenek tua juga berdiri. Mereka Nampak kesusahan menata pijakan mereka yang telah renta.

“Kasihan”, fathan juga berdiri, ia tak menemukan seorangpun ingin mengalah pada mereka.

Sang Sopir masuk ke Bis, mulai menyalakan mesin. Namun ia melihat ke belakang. Ia melihat sesuatu yang tidak beres. Dan keluar lagi. Ia berjalan menuju tempat penumpang.

“Bapak, Ibu!… saya sopir disini! Tolong yang masih punya hati nurani, kasih tempat duduk ke orang yang lebih butuh!… Itu! Ibu yang sedang hamil, itu! Ibu yang tidak kuat berdiri! Ayo! Yang masih kuat berdiri, kasih tempat duduk ke yang lebih berhak!”

Sopir berkacamata itu tinggi besar. Penumpang lain berseloroh ingin protes.

“Saya sudah bayar! Kenapa harus kasih bangku ke orang lain?”

“Ini bis saya!, saya punya kewajiban menghormati yang lebih tua , menjaga yang lemah, walaupun ini Cuma bis! Saya mau keadilan!”, tukas Sang Sopir.

“Tapi?”

“Sodara warga Negara yang baik kan?!”

Lalu serta merta penumpang muda-mudi memberi tempat kepada nenek dan ibu hamil itu, atas paksaan dan Sopir yang marah-marah.

“Ya! Terimakasih! Semoga sodara yang rela berkorban diganjar lebih baik! Hahaha!”

Sopir bis itu tertawa sambil menatap Fathan, badannya yang besar dan kacamata hitamnya begitu sangar. Ia berjanggut, raut wajahnya keras namun terlihat bersih, bercahaya.

Maturnuwun (terimakasih) mas Fathan!”

Fathan tak salah tebak. “Sudah jadi Umar juga beliau…”

                Lalu bis berjalan, diiringi nasyid Raihan dan qasidah Haddad Alwi, suasana bis begitu islami, penumpang memang padat , namun Nampak seberkas keberkahan turun, Bis yang bersih, lantunan musik islami diselingi murottal Syaikh Thoha Al-Junaid.

Setelah Bis berhenti di Terminal. Nampaklah Sang Sopir dengan penuh kebahagiaan memeluk erat Fathan. Ya, Bang Umar. Itu bang Umar, kini telah belajar menjadi Umar, menggunakan kekuatan untuk yang baik-baik. Pelukan erat penuh ukhuwah dengan latar bis merahnya yang tertulis kalimat besar berwarna Kuning:

Umar sayang Ibu.

Cerpen ini diambil dari seberkas episode hidup Ayah selama di IPB.

Tentang Edgar Hamas

Santri PP Husnul Khotimah, Alumni SMPIT Ihsanul Fikri, dan Pengajar [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Aisyah

Topik:

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (8 orang menilai, rata-rata: 9,75 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
98 queries in 1,119 seconds.