Home / Pemuda / Essay / Termakna Cinta, Kerja dan Harmoni

Termakna Cinta, Kerja dan Harmoni

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
dewasadewa.files.wordpress.com
dewasadewa.files.wordpress.com

dakwatuna.com Cinta adalah anugerah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Ia menjadi fitrah pada diri tiap insan. Karena proses cinta lahirlah kita di dunia, karena energi cinta bertahan hiduplah kita, dan karena energi cinta pulalah kita memilih jalan dakwah ini.

Cinta begitu dahsyat. Dalam samudera kehidupan manusia, ia termakna begitu luas. Cinta kepada Allah, Rasulullah, seorang pria kepada wanita, pemimpin kepada rakyatnya, ibu kepada anak, dan cinta-cinta lainnya. Sehingga teringatlah kita bahwa diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah karena cinta. Kenapa? Karena beliau adalah sang pengemban risalah cinta-Nya. Ia diturunkan dari langit untuk ditebar di muka bumi ini sebagai rahmatan lil’alamin. Dan sejenak mari kita simak Jalaluddin Rumi bersyair;

Jalan para Nabi adalah jalan cinta

Kita adalah anak-anak cinta

Dan cinta adalah ibu kita

Dalam Islam, masalah cinta sangat diperhatikan. Terfirman; “…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta pada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci pada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan…” (Al-Hujurât [49]: 7) …Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah…” (Al-Baqarah [2]: 165) “…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya…” (Al-Ma’idah [5]: 54).

Dan tersebab cinta lahirlah sebuah karya fenomenal; kitab Raudhatul al-Muhibbin wa Nuzhat al-Musytaqin karya Imam Ibnul Qayyim al Jauziyyah. Dalam kitabnya ini, ia menjelaskan secara komprehensif tentang pemaknaan cinta menjadi dua puluh sembilan bab. Lalu Syaikh Dr. Majdi Al Hilali lewat bukunya; Kaifa Nuhibullaha wa Nasytâqu Ilaihi menjelaskan seputar jalan menuju kecintaan Allah.

Membahas tentang cinta memang tak ada habisnya. Di Indonesia pun lahir buku-buku karya anak bangsa yang mengurai tentang pemaknaan-pemaknaan cinta; novel Ayat-Ayat Cinta dan Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, Serial Cinta karya M. Anis Matta, dan Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah.

Tersebab kekata Jalaluddin Rumi, “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain.” Maka sebagai insan yang bertakwa. Mari kita semai cinta dalam berkehidupan. Agar hidup bersemi indah di dunia ini. Dan kelak bidadari surga pun merindukan kita.

Kerja adalah sebuah keniscayaan. Agar kita bertahan hidup lebih lama. Terfirman; “…Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu,…” (At-Taubah [9]: 105); “…Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujâdalah [58]: 11); “…maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah…” (Al-Jumu’ah [62]: 10).

Bekerja adalah berkebaikan. Untuk diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Karenanya mari berlomba-lomba dalam kerja-kerja kebaikan. Agar hidup menjadi lebih hidup. Lalu renungilah kekata motivasi yang keluar dari lisan shalih ‘Umar bin al Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, “Setiap hal mempunyai puncaknya. Dan puncak kebaikan adalah menyegerakannya.”

Bekerja adalah berkarya. Agar yang belum terwujud menjadi bisa terwujud. Sulit menjadi mudah. Tak bermanfaat menjadi bermanfaat. Masalah menjadi solusi. Dan pemaknaan-pemaknaan lainnya. Karya disini bukan hanya termakna fisik semata tapi juga sesuatu yang hanya bisa termakna oleh jiwa. Lalu mari kita perdengarkan Asy-Syahid Sayyid Quthb bertutur, “Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”

Bekerja adalah memproduksi. Hasilnya berupa ide-ide dan amal-amal kebaikan yang selanjutnya menjadi sebuah karya. Fenomenal. Tercatat dalam sejarah. Dan ianya akan terkenang sepanjang masa.

Karenanya sibukkanlah diri kita dengan kerja-kerja kebaikan; kecil-besar. Untuk kehidupan dunia dan akhirat. Lalu jadilah kita insan seperti yang di sabdakan oleh baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Harmoni adalah pesona kehidupan. Dengannya hidup kita tertata menjadi lebih indah. Teratur, meyeksama, menentramkan dan berkearifan. Lalu saksikanlah sebuah kehidupan yang penuh keseimbangan dan keterpaduan dalam bingkai persatuan yang kokoh.

Harmoni adalah elemen pembentuk persatuan. Terfirman; “…Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” (Al-Hujurât [49]: 13). Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka persatuan adalah hal yang harus dijunjung tinggi. Karena memang Indonesia adalah sebuah bangsa majemuk. Terdiri dari beragam suku, agama, budaya, dan corak khas yang unik dari masing-masing daerah.

Harmoni tercipta sebagai wadah untuk saling memahami. Agar yang berbeda tak menjadi masalah tapi menjadi sebuah karunia terindah. Karena memang kita dicipta berbeda satu sama lain. Dan memang harus seperti itu adanya; sunnatullah.

Suatu saat kita pun berharap. Dan bermimpi. Tentang Indonesia yang berkeadilan dan berkesejahteraan. Dengan sinergi dari ketiga elemen tersebut; Cinta, Kerja dan Harmoni. Cinta sebagai sumber inspirasi kekuatannya. Kerja sebagai realisasi pembuktiannya. Dan kehidupan bangsa yang penuh harmoni adalah hasilnya.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

R Setiawan
Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNRAM

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba